Membuang Orang Palestina

Membuang Orang Palestina

Awalnya, gagasan mendirikan negara nasional Yahudi mendapat sambutan dingin dari diaspora Yahudi.*

Hal ini dapat dilihat dari kecilnya pertumbuhan Yahudi di Palestina, dari 50.000 di akhir abad 19 dan dua tahun pasca deklarasi Balfour (1919) hanya menjadi 65.000 atau meningkat 7%, meski dukungan Inggris sudah penuh kala itu.

Karenanya, sejarawan Faris Glubb, Roger Geraudy dan Schoenman mengungkap kerjasama rahasia antara NAZI dengan Zionis, dimana teror digunakan untuk memaksa orang Yahudi mau pindah ke Palestina.

Meski demikian, dari sekitar 2,5 juta orang Yahudi mantan korban kekejaman Hitler, hanya 8,5% saja yang mau ke Israel. Yang 1.930.000 jiwa, memilih pindah ke Uni Soviet.

Pada 31 Agustus 1949, Ben Gurion (pendiri negara Israel dan Perdana Menteri pertama Israel) menyatakan kekecewaannya, karena sampai tahun itu tercatat hanya 900.000 Yahudi yang mau pindah ke Palestina, padahal di tahun 1943 populasi Yahudi di Amerika sudah mencapai 5 juta jiwa.

“Apakah mereka masih menunggu datangnya Hitler baru untuk memaksanya ke Israel?” demikian ancaman yang keluar dari mulut Dr. Israel Goldstein (1896–1986) seorang rabi, penulis, dan pemimpin Zionis terkemuka kelahiran Amerika yang menetap di Yerusalem.

Akhirnya, operasi besarpun dilakukan:

  • Untuk memindahkan Yahudi Yaman dilakukan operasi karpet ajaib yang berbiaya besar.
  • Untuk memindahkan warga Yahudi Irak, digunakan teror dengan cara mengebom Sinagog Masauda Shem-Tov, sehingga menimbulkan perasaan tidak aman bagi kalangan Yahudi Irak yang sudah berabad lamanya hidup berdampingan dengan umat Islam. Dalam pengeboman itu, ada tiga orang yang tewas, 24 orang luka-luka dan pelakukanya adalah dinas rahasia Israel sendiri. Pasca pengeboman itu, dimulailah pemindahan besar-besaran orang-orang Yahudi Irak dengan sandi operasi Ali Baba.

Karenanya, dalam buku A Hidden History of Sionizme, Ralph Schoenman menyebut gerakan ini (Zionisme) lebih jahat dari kolonialisme klasik. Kalau kolonialisme klasik melakukan eksploitasi terhadap penduduk pribumi untuk menguras kekayaan alam negeri jajahan, maka Zionisme ini bertujuan membuang penduduk asli (Palestina) dan menggantinya dengan warga Yahudi.

(Kutipan bebas dari buku “Tinjuauan Historis Konflik Yahudi, Kristren, Islam,” karya Dr. Adian Husaini hal. 133 – 135).

Diaspora Yahudi

Sebelum berdirinya negara Israel pada tahun 1948, diaspora Yahudi tersebar di berbagai belahan dunia selama berabad-abad, terutama di Eropa (Ashkenazi), Timur Tengah, dan Afrika Utara (Sephardi/Mizrahi). Komunitas besar juga berada di Amerika Serikat, Babilonia (Irak modern), serta wilayah sekitar Mediterania seperti Spanyol, Prancis, dan Italia.

Berikut adalah detail lokasi diaspora Yahudi sebelum 1948:

  • Eropa (Ashkenazi): Banyak menetap di Eropa Timur dan Barat (Polandia, Lithuania, Jerman, Prancis). Sebelum Holocaust, populasi Yahudi sangat besar di wilayah ini.
  • Timur Tengah & Afrika Utara (Sephardi/Mizrahi): Komunitas Yahudi yang mapan di Irak (Babilonia), Yaman, Suriah, dan Mesir.
  • Eropa Selatan & Mediterania: Wilayah seperti Spanyol (sebelum ekspulsi 1492), Italia, Yunani, dan Turki menjadi pusat penting.
  • Amerika: Gelombang imigrasi besar ke Amerika Serikat terjadi pada akhir abad ke-19 dan awal ke-20.
  • Tanah Palestina (Yishuv): Sebagian kecil komunitas Yahudi sudah ada dan tinggal secara terus-menerus di Yerusalem, Hebron, Safed, dan Tiberias di bawah kekuasaan Utsmaniyah (Ottoman) sebelum gelombang Zionisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. di antara mereka sendiri saja masih ribut dan ada rasisme antara yahudi ashkenazi dengan yahudi kelompok lainnya karena merasa bule kulit putih negara maju teknologi dan pintar.