Oleh: Nadirsyah Hosen
Salah satu hal yang paling menarik dari The Odyssey bukanlah perang, monster, atau petualangan Odysseus. Justru sesuatu yang tampak sederhana, buat kita semua: bagaimana memperlakukan seorang tamu.
Christopher Nolan, dalam film yang lagi ngetop, The Odyssey (2026), mengangkat xenia, atau Hukum Zeus, sebagai salah satu denyut utama cerita. Dalam dunia Yunani kuno, xenia bukan sekadar sopan santun. Ia adalah hukum sakral. Zeus, dengan gelarnya Zeus Xenios, dipercaya sebagai pelindung para tamu dan orang asing. Melanggar xenia bukan hanya melukai sesama manusia, tetapi juga menantang kehendak para dewa.
Homer, yang menuliskan kisah ini, berulang kali memperlihatkan hal itu. Paris diterima sebagai tamu di rumah Menelaus, tetapi justru membawa lari Helen. Pelanggaran terhadap xenia inilah yang memicu Perang Troya. Sebaliknya, Cyclops Polyphemus menjadi lambang kebiadaban karena melakukan hal yang paling bertentangan dengan peradaban: ia memakan tamunya sendiri.
Nolan bahkan memberi tafsir yang menarik. Kuda Troya adalah hadiah yang berubah menjadi senjata. Ketika hadiah tidak lagi dapat dipercaya, maka kepercayaan yang menopang hubungan antarmanusia pun mulai runtuh. Odysseus memang memenangkan perang, tetapi kemenangan itu dibayar dengan rusaknya salah satu fondasi moral dunia yang selama ini memungkinkan orang asing saling mempercayai.
Yang mengejutkan, ribuan kilometer dari Laut Aegea, Islam mengajarkan prinsip yang hampir sama.
Rasulullah bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”
(HR. Sahih al-Bukhari, no. 6018; Sahih Muslim, no. 47)
Perhatikan bagaimana hadis ini disusun. Nabi tidak berkata bahwa memuliakan tamu adalah tanda orang yang santun. Beliau menghubungkannya langsung dengan iman kepada Allah dan Hari Akhir. Cara kita memperlakukan orang asing yang mengetuk pintu rumah menjadi salah satu cermin kualitas keimanan kita.
Al-Qur’an juga menghadirkan gambaran yang sangat indah. Ketika tamu-tamu asing datang kepada Nabi Ibrahim AS, beliau segera menjamu mereka dengan anak sapi yang dipanggang, bahkan sebelum mengetahui siapa mereka sebenarnya (QS. Adz-Dzariyat [51]: 24-27; QS. Hud [11]: 69). Baru kemudian diketahui bahwa mereka adalah para malaikat yang membawa kabar gembira.
Menariknya, pola ini hampir identik dengan xenia. Dalam tradisi Yunani, seorang tamu terlebih dahulu dipersilakan duduk, diberi makanan, minuman, tempat beristirahat, bahkan kadang hadiah. Identitasnya baru ditanyakan setelah kewajiban sebagai tuan rumah selesai ditunaikan.
Awas jangan buru-buru bilang bahwa saya menganggap semua agama sama. Gak usah terlalu jauh mikirnya apalagi mau menuduh saya liberal. Kita bahas saja dengan santai sisi kesamaan yang diwariskan peradaban dunia 🙏🏻
Kesamaan ini tentu bukan karena Homer membaca Al-Qur’an, atau Nabi Muhammad mempelajari mitologi Yunani. Keduanya lahir dari ruang dan zaman yang berbeda. Namun keduanya bertemu pada satu kesimpulan yang sama: cara sebuah masyarakat memperlakukan orang asing menentukan kualitas peradabannya.
Mengapa ajaran ini begitu penting?
Karena kita sering lupa membayangkan betapa kerasnya dunia ribuan tahun yang lalu.
Belum ada paspor.
Belum ada visa.
Belum ada hotel.
Belum ada telepon.
Belum ada polisi yang bisa dihubungi.
Belum ada negara yang menjamin keselamatan seorang musafir.
Seseorang yang mengetuk pintu rumah orang asing sedang mempertaruhkan nyawanya. Ia bisa diterima. Bisa diusir. Bisa dirampok. Bahkan bisa dibunuh. Sebaliknya, tuan rumah juga mengambil risiko. Orang yang datang itu bisa saja pedagang. Bisa juga perampok, mata-mata, atau pembunuh.
Dalam situasi seperti itu, hukum negara hampir tidak memiliki arti.
Yang menjaga dunia tetap berfungsi justru sebuah komitmen moral yang hidup di dalam hati manusia.
Di sinilah letak kejeniusan xenia dan ikramud dhuyuf (memuliakan tamu). Keduanya menciptakan jaminan di tempat yang tidak mungkin dijamin oleh institusi mana pun. Pelanggaran terhadap tamu dinaikkan menjadi pelanggaran terhadap Tuhan.
Zeus mengawasi.
Allah menilai keimanan dari situ.
Ketika manusia percaya bahwa menghormati tamu bukan sekadar pilihan sosial, melainkan kewajiban moral di hadapan Yang Maha Kuasa, barulah orang asing berani melintasi negeri-negeri yang tidak dikenalnya.
Dari sinilah perdagangan berkembang.
Ilmu pengetahuan berpindah dari satu kota ke kota lain.
Para ulama mengembara mencari guru.
Diplomat membawa pesan perdamaian.
Para saudagar menghubungkan pelabuhan-pelabuhan yang berjauhan.
Jalur Sutra dan Jalur Rempah tidak hanya dibangun oleh kapal dan unta. Semuanya bertumpu pada sesuatu yang jauh lebih sederhana: keyakinan bahwa ketika malam tiba dan seseorang mengetuk pintu rumah, masih ada harapan bahwa ia akan diperlakukan sebagai tamu, bukan sebagai musuh.
Barangkali inilah yang membuat etika ini muncul di begitu banyak peradaban.
Yunani mengenalnya sebagai xenia (hukum Zeus).
Islam menyebutnya ikramud dhuyuf.
Kisah Nabi Ibrahim juga terdapat dalam tradisi Yahudi dan Kristen (Kejadian 18).
Tradisi Arab bahkan sebelum Islam memuliakan tamu sebagai kehormatan suku.
Di Nusantara kita mengenal ungkapan “tamu adalah raja”.
Nama dan landasannya berbeda, tetapi intuisi moralnya sama.
Hari ini semua itu terasa biasa.
Kita menginap di hotel.
Kita menunjukkan paspor.
Kita dilindungi hukum.
Kita bisa menghubungi keluarga hanya dengan satu sentuhan di layar.
Ada google map jika kita tersesat.
Karena itu, memuliakan tamu sering kita anggap sekadar etika dasar. Padahal dahulu ia adalah gagasan yang benar-benar revolusioner. Ia meminta seseorang membuka pintunya bagi orang yang sama sekali tidak dikenalnya, tanpa jaminan balasan, bahkan dengan risiko bagi dirinya sendiri.
Mungkin itulah ciri ajaran besar.
Ia lahir sebagai gagasan yang mengguncang fondasi sosial. Lalu perlahan diterima. Setelah berabad-abad, ia tidak lagi terasa luar biasa. Ia menjadi kebiasaan. Menjadi budaya. Menjadi sesuatu yang kita anggap wajar.
Padahal, tanpa orang-orang yang dahulu percaya bahwa orang asing layak dihormati, mungkin tidak akan pernah lahir dunia yang saling terhubung seperti yang kita nikmati hari ini.
Peradaban ternyata tidak hanya dibangun oleh pedang, istana, atau undang-undang.
Sering kali, ia dimulai dari satu pintu yang dibuka… dan seorang tamu yang dipersilakan masuk.
Tabik,
Nadirsyah Hosen







kalo jaman now ya kita kudu waspada…
apalagi tamu yg engga kita kenal
awalnya ramah, lalu kita ditepuk..pas nyadar barang2 berharga dirumah dan dibadan hilang 🤣🤣🤣
yang beda disama2kan, supaya apa? orang islam terperdaya dengan ide2 barat yang faktanya bertentangan dengan islam tapi dicari2 kesamaannya, contohnya demokrasi dan musyawarah, dau hal yang berbeda tapi selalu disamakan, simpelnya demokrasi itu “memusyawarahkan” seluruh permasalahan yang bahkan sudah jelas hukumnya dalam islam, contoh dalam demokrasi khamr boleh di diskusikan kebolehannya padahal dalam islam jelas haram dan tidak adalagi keraguan keharamannya. dll
sementara dalam islam musyawarah hanya masalah teknis saja, contoh kalau membangun masjid mau luar berapa meter, desainnya seperti apa, cat warna apa dll, tetapi arah kiblat, dan sholat di lima waktu tidak didiskusikan lagi karena aturannya sudah jelas.
ciri khas liberal dicari2 kesamaan antara pemikiran barat dan islam, padahal keduannya berbeda
tipu daya liberalis halus dan lembut.
Astaghfirullah. Allah ada, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam ada, zeus kaga ada kok dibandingkan. Portal Islam kok beritanya ga jelas
Allah ada, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam ada, zeus kaga ada. Kok dibandingkan . Sudah jelas Islam yalu wala yula alaih. Ga ada yang sebanding.
portal Islam kok beritanya gini
hati2 JIL…waspadalah…