Pada 17 Maret 2026, Joe Kent, Direktur National Counterterrorism Center (NCTC)—badan intelijen anti-terorisme tertinggi Amerika Serikat—mengumumkan pengunduran dirinya secara mendadak. Keputusan ini bukan karena konflik internal biasa, melainkan penolakan tegas terhadap perang AS-Israel melawan Iran yang sedang berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Dalam surat pengunduran diri yang langsung viral di X, Kent menulis dengan jelas: “Saya tidak bisa dengan hati nurani mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran. Iran tidak menimbulkan ancaman mendesak bagi bangsa kita, dan jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi Amerika yang kuat.”
Berikut ada sebuah cuplikan menarik berupa video dimana ia juga heran dengan trump, anehnya ketika perundingan damai sedang dilakukan amerika dengan bisikan israel melakukan serangan ke iran, dan ia anggap perang ilegal.
Kent, seorang veteran Green Beret dan Gold Star husband—suami dari Shannon Kent, tentara AS yang tewas di Afghanistan—menekankan bahwa perang ini tidak membela kepentingan Amerika. “Saya tidak bisa mengirim generasi berikutnya untuk bertarung dan mati dalam perang yang tidak memberi manfaat bagi rakyat Amerika dan tidak membenarkan pengorbanan nyawa tentara Amerika,” tulisnya.
Ia menuding bahwa konflik ini lebih melayani agenda Israel daripada keamanan nasional AS, dan menolak menjadi bagian dari kebijakan yang mengorbankan prajurit AS untuk “perang yang bukan perjuangan kita.”
Pengunduran diri Kent langsung memicu reaksi keras dari Presiden Donald Trump. “Selalu kukira dia lemah soal keamanan,” cuit Trump, sambil menyatakan lega atas kepergiannya. Namun, di kalangan sayap anti-intervensi Partai Republik—termasuk pendukung Tucker Carlson—Kent dipuji sebagai sosok berani yang berani melawan arus.
Dalam wawancara panjang dengan Carlson pada 18 Maret, Kent mengulang bahwa tidak ada bukti intelijen soal ancaman nuklir atau serangan mendadak dari Iran, dan keputusan perang didorong oleh “kampanye misinformasi” dari pejabat Israel serta lobi pro-Israel di Washington.
Pengunduran diri ini menjadi yang pertama dan paling tinggi profil dari pejabat administrasi Trump sejak perang Iran dimulai. Ia juga menandai perpecahan dalam koalisi MAGA: antara kelompok “America First” yang anti-perang asing, dengan faksi hawkish pro-Israel.
Kent sendiri kini sedang diselidiki FBI atas dugaan bocor informasi rahasia, meski pengunduran dirinya sudah final.
Keputusan Kent mengingatkan publik bahwa tidak semua pejabat tinggi siap mengorbankan nyawa tentara AS demi kepentingan sekutu. Di tengah eskalasi yang semakin berdarah, suara seperti miliknya mungkin menjadi katalisator perdebatan lebih besar: apakah Amerika harus terus terlibat dalam konflik Timur Tengah yang tak pernah benar-benar selesai?







salut om 👍👍…om ga mau nurut pemimpin sarap