SECARIK SURAT YANG MENGGUGAT PENDIDIKAN

SECARIK SURAT YANG MENGGUGAT PENDIDIKAN

✍🏻Iman Zanatul Haeri
(Kepala Bidang Advokasi Guru P2G)

Sewaktu kekerasan menimpa anak-anak kita, yang menyebabkan tindakan bunuh diri, saya ditanya, bagaimana kita merespon ini? Tentu saja buat saya ini kesalahan kolektif. Baik secara vertikal dan horizontal. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, orang tua, sanak saudara, agamawan, guru, sekolah dan masyarakat terdekatnya, teman-temannya, dan semuanya.

Kita semua punya peran dan layak merasa bersalah.

Bagaimana dengan guru dan sekolah? Harapan saya sekolah adalah rumah kedua, rumah paling aman untuk anak-anak kita, bahkan ketika “rumah” bukan tempat yang aman bagi mereka.

Ketika anak-anak tersebut menderita di rumah dan lingkungan pergaulannya, mereka mendapatkan harapan di sekolah. Yaitu teman-teman yang perhatian, dan guru yang siap tersenyum dan mendengarkan. Mungkin anda pernah mendengar ada satu kelas yang membelikan sepatu untuk temannya yang sepatunya rusak. Kepekaan atas rasa kasih sayang, perhatian dan solidaritas, itulah lingkungan sekolah yang seharusnya.

Anak-anak yang menderita ini, bisa karena kemiskinan yang sangat ekstrim, atau berada dilingkungan yang tidak ramah untuk mereka, sekurang-kurangnya tetap bersemangat untuk hidup, untuk sekian alasan: karena besok mereka akan sekolah, karena besok bertemu guru dan teman-teman sekolah yang selalu dirindu-rindukan.

Artinya sekolah yang diselenggarakan negara semestinya menyediakan hidden curriculum bahwa sejatinya mereka harus tetap hidup.

Semestinya, sekolah seperti itu hadir untuk anak-anak Indonesia. Tentu saja, ada prasyaratnya. Kita membutuhkan guru yang berkualitas, yang sejak awal memang bermimpi menjadi guru. Guru yang faham apa itu akar kekerasan dan memenuhi empat kompetensi, bidang ilmunya, pedagogik, sosio-emosional dan mulia kepribadiannya.

Tentu saja guru semacam ini perlu dijamin kesejahteraan dan karirnya. Meski pada kenyataannya, banyak guru-guru yang tetap berusaha tersenyum dan perhatian kepada muridnya,–meskipun dirinya tidak sejahtera,–tergantikan oleh karena kecintaannya pada mengajar dan anak-anak ini. Tidak sedikit guru yang merogoh kocek pribadi hanya demi membuat muridnya tersenyum. Sekedar membelikan pulpen, dan buku, dan memberinya jajan, sebab guru semacam ini begitu peka, mereka dapat melihat hal-hal yang disembunyikan anak-anaknya dengan sangat sopan.

Masalahnya, negara tidak pernah menghitung ini sebagai hutang yang berharga, yang harus mereka bayar kelak. Guru yang digaji tidak layak, sebenarnya sedang mensubsidi negara untuk menyelenggarakan pendidikan, sehingga menjadi tidak mungkin guru-guru dalam kondisi ini dapat memberikan dukungan pada muridnya, karena tidak ada lagi yang bisa dirogoh. Ketika guru dan orang tua sama-sama tidak ada yang bisa dirogoh, disinilah fungsi negara. Negara harusnya hadir.

Tapi negara kita, malah sibuk dengan program aneh yang hanya bicara pada dirinya sendiri.

Sekolah semacam ini biasanya membuat siswa yang kehidupan aslinya menderita, menjadi betah dan ingin tetap ada di sekolah. Anak-anak ini akan menangis ketika gurunya dimutasi, dan mengikuti semua kegiatan di sekolah meskipun boleh jadi anak ini tidak menyukainya, karena di rumahnya,–dalam beberapa kasus– adalah mimpi buruk. Mereka ingin selama mungkin di sekolah.

Sekolah semacam itulah yang harusnya dibangun pemerintah berapapun besarnya harga yang harus dibayar. Ini harga yang setimpal, jika dapat memberi kesempatan pada anak-anak yang hanya bisa bahagia di sekolah, tetap bisa bersekolah–alih-alih pendidikan sedang mengarahkan mereka untuk tetap hidup.

Konstitusi kita senafas dengan tujuan ini, karena pada amandemen keempat, anggaran pendidikan disebut “sekurang-kurangnya 20%,” artinya konstitusi mengamanatkan tidak ada batasan maksimal jika itu demi penyelengggaraan pendidikan. Artinya tidak ada batasan anggaran bagi negara untuk menyelamatkan anak-anak ini.

Semangat hidup yang diciptakan pendidikan melalui iklim sekolah seperti ini, membuat anak-anak semacam ini rela menahan lapar lama-lama di sekolah karena kebahagiaan yang melebihi dorongan naluriah, digantikan oleh arti penting untuk tetap hidup.

Seperti antusias menunggu tugas gurunya yang kreatif, dan tidak sabar bertemu teman serta lingkungan belajar yang sangat mendukung. Anak-anak ini akan begitu tidak sabar menerima pembelajaran, alih-alih mereka sedang bersemangat untuk tetap hidup

Oleh sebab itu, sekolah yang nyaman, tersedianya buku dan alat tulis, menaikan taraf hidup mereka melebihi kekurangan yang mereka miliki di rumah. Anak-anak ini begitu bersemangat mengerjakan tugas meski waktu habis dan memohon diberikan lebih banyak waktu lagi.

Oleh sebab itu ketika MBG berdampak negatif pada fasilitas belajar dan efisiensi berefek domino, sehingga membuat orang tua mereka tidak sanggup memberikan fasilitas pendidikan yang layak, program makan tidak punya arti bagi anak-anak yang semangat hidupnya lahir ketika berangkat sekolah. Mereka butuh sekolah dan rela tidak makan demi tetap belajar.

Dan sepertinya, guru dan sekolah seperti itu tidak hadir bagi anak-anak yang memilih mengakhiri hidupnya. Karena akhirnya anak-anak ini memilih menyerah. Sebab horizon di depan mereka begitu gelap. Tidak ada imajinasi dan mimpi untuk mereka bertahan hidup.

Oleh karena itu batin saya tidak terima jika Presiden mengatakan ingin mengatasi kekurangan guru dengan membagikan Smartboard ke seluruh penjuru negeri untuk menggantikan guru. Disaat anak-anak semacam ini membutuhkan guru yang dapat menyediakan ruang aman bagi mereka ketika seisi dunia seolah-olah akan runtuh sekalipun. Smartboard tidak akan dapat menggantikan guru semacam ini.

Anak-anak yang menderita ini membutuhkan guru, yang bisa mereka jadikan sandaran, memberikan nasehat atas masalah pelik untuk memberi mereka semangat agar tetap hidup, karena besok mereka akan sekolah, dan matahari akan tetap terbit untuk mereka.

Pada titik itu, anak-anak ini akan sadar bahwa hidup mereka berharga dan negara yang menyelenggarakannya juga berharga untuk dipertahankan. Persoalannya, saat ini kita sedang melihat hal sebaliknya. Itulah yang membuat dada kita sesak.

Komentar