Nilai tukar rupiah diperkirakan akan terus melemah dan menembus level psikologis baru Rp18.000 per dolar karena kuatnya tekanan eksternal akibat tensi geopolitik global.
Pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026) pukul 17.00 WIB, rupiah melemah ke level Rp 17.706 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan komoditas Ibrahim Assuaibi berpendapat, pemerintah perlu mengambil langkah besar untuk menstabilkan rupiah, termasuk menghentikan sejumlah proyek strategis yang membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Yang pertama itu adalah proyek-proyek vital itu harus dihentikan pemerintah. Pemerintah harus fokus terhadap bagaimana menanggulangi agar rupiah ini kembali stabil,” tutur Ibrahim saat dihubungi Tribunnews-com, Selasa (19/5/2026).
Ibrahim mengaku mendapat informasi bahwa sejumlah proyek bernilai ratusan miliar hingga triliunan rupiah mulai dihentikan. Selain itu, ia juga menilai program-program yang membebani APBN sebaiknya ditunda sementara.
Selain itu, program yang mengeluarkan dana besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Desa Merah Putih juga perlu dihentikan.
“MBG pun juga seharusnya dihentikan. Koperasi Merah Putih seharusnya dihentikan karena ini juga yang membebani APBN kita,” jelasnya.
Menurut Ibrahim, akar persoalan utama tekanan terhadap rupiah berasal dari tingginya impor minyak mentah Indonesia yang mencapai 1,5 juta barel per hari.
Ia menilai implementasi program biodiesel B50 yang direncanakan mulai bergulir pada Juli 2026 dapat membantu menekan impor migas.
“Pemerintah sudah mempersiapkan B50 kemungkinan Juli akan bergulir dan ini akan membuat impor kita semakin sedikit,” jelas Ibrahim.
Meski demikian, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk memperkuat rupiah secara signifikan. Ibrahim mendorong pemerintah merevisi Undang-Undang Migas Nomor 22 Tahun 2001 guna menarik investasi eksplorasi minyak baru.
“Ppemerintah juga harus merevisi Undang-Undang Migas nomor 2 tahun 2001 agar kesempatan investor mengeksplorasi minyak semakin besar melalui insentif pajak,” ucapnya.
Selain kebijakan fiskal, Ibrahim juga menilai Bank Indonesia perlu menaikkan suku bunga acuan pada semester kedua 2026 untuk menjaga stabilitas rupiah.
Ia memperkirakan kenaikan suku bunga dilakukan secara bertahap, mulai dari 25 hingga 50 basis poin. Langkah tersebut dinilai efektif untuk menahan pelemahan rupiah meski berisiko meningkatkan bunga kredit perbankan.
“Saya perkirakan dalam semester kedua ini pemerintah akan menaikkan suku bunga itu 100 basis poin. Kenaikan suku bunga akan berdampak terhadap kenaikan suku bunga kredit,” terang Ibrahim.
Selain itu, ia meminta pejabat pemerintah menjaga komunikasi publik agar tidak memicu sentimen negatif di pasar keuangan.
“Pejabat-pejabat pemerintah, presiden pun juga memberikan informasi yang positif untuk pasar. Jangan memanas-manasin pasar,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, pernyataan yang meremehkan pemahaman masyarakat desa terhadap dolar AS justru dapat memperburuk sentimen pasar.
“Jangan memanas-manasin pasar kayak kemarin yang mengatakan bahwa orang-orang desa itu tidak menggunakan dolar. Buktinya sekarang banyak orang yang melakukan transaksi valas, beli mata uang, karena adanya teknologi.”
“Di kampung itu lebih pinter. Buktinya orang melakukan transaksi di saham, di derivatif, di kripto, itu banyak dari daerah-daerah dari kampung-kampung dari desa-desa,” jelasnya.
Ibrahim menilai sentimen negatif tersebut dimanfaatkan spekulan pasar internasional untuk menekan rupiah lebih dalam.
Ia bahkan memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS pada akhir Mei 2026.
“Ini pun juga akhirnya para spekulan secara pasar internasional mempermainkan rupiah sehingga rupiah kembali mengalami pelemahan dan di depan mata rupiah itu Rp 18.000 di akhir bulan Mei ini,” kata Ibrahim.
(Sumber: Tribunnews)







BENCI Boleh, BODOH Jangan !!
selain perang dengan senjata, ada perang yang lebih berbahaya, yaitu perang ekonomi dan perang propaganda.
karena sudah terbukti bisa menghancurkan, memiskinkan dan memperbudak suatu negara selama 30 tahun kedepan.
segala upaya swasembada dan kemandirian suatu bangsa, pasti akan mereka lawan, karena akan menghentikan impor, membuat produk mereka tidak laku dan otomatis juga membuat dolar tidak berguna dan jatuh.
serangan propaganda dimulai dengan menaikkan isu² demokrasi dan isu² jelek lainnya, untuk menjatuhkan pemerintahan, misalnya film pesta babi dari LSM² peliharaan mereka dan juga narasi² dangkal dari anak² BEM yang sudah mereka peralat dan mereka brainwash dengan slogan² demokrasi dan cinta lingkungan.
serangan ekonomi juga sudah dilancarkan. MSCI, the economist, dkk langsung beraksi mengkritik dan menurunkan rating bursa saham kita secara serentak, yang kemudian diikuti aksi lepas saham kroni² mereka, yang kemudian membuat investor lainnya ikut lari keluar ketakutan, sehingga rupiah pun berhasil dijatuhkan.
di waktu yang sama, the Fed menaikkan suku bunga, sehingga uang² pun pergi dari Indonesia secara masif untuk masuk ke bank² Amerika yang bunganya tinggi.
disaat situasi seperti ini, pemerintah sudah berusaha menahan harga tetap stabil, berusaha menjaga pasokan kebutuhan pokok tetap tersedia, dan juga mengintervensi kenaikan dolar dengan bakar uang yang bisa mencapai 2T/hari.
anehnya, saat negaranya diserang asing, lalu pemerintahnya berjuang keras untuk bertahan dalam menghadapi serangan-serangan ekonomi tersebut, justru ada 24+16% rakyatnya malah ikut menyerang pemerintahnya dan mendukung para penyerangnya.
pemerintah kita banyak kekurangan dan kesalahan, tapi mereka ada di pihak kita untuk memperjuangkan kemenangan ekonomi kita.
sedangkan IMF itu jelas-jelas musuh yang nyata, yang ingin menghancurkan ekonomi kita dan membuat kita terus-menerus bergantung pada produk² impor dan hutang luar negeri, tapi malah didukung dan mungkin dianggap sebagai pahlawan dan dewa penyelamat yang akan menyelamatkan kamu dari “kedzoliman” pemerintahmu sendiri.
kan goblok.
IMF emang jelas-jelas musuh yang nyata, yang ingin menghancurkan ekonomi kita,,,
tapi Pemerintah lu malah membuat kebijakan ugal-ugalan, dan gak mau mendengarkan nasihat rakyat yg mengkritik-nya,,,,,,
malah “menuduh” rakyat yg mengkritiknya sebagai “antek asing”,,,,,,,,,
padahal banyak kritikan yg disertai solusi nya juga,
salah satunya seperti yg disebutin di artikel atas…….
Pemerintah “budek”, pendukungnya “buta”,,,,,
Indonesia diambang kehancuran yg nyata…
GOBLOK lu…
L.O.L
pemrintahan yang kamu maksud (prabowo-gibran) memang berisi antecq-antecq asing yang akan menghancurkan Indonesia pelan-pelan…
wih udah cocok lu jadi jubir istana 😂😂😂
kyk tat ngabalin 😂😂😂😂
( yg palanya retak dibungkus kaen)
sebagai warga “NKRI harga subsidi” cuma bisa melongo sambil grundel “in.. in.. ini parah nihhh..”
NKRI mati harga
sebenarnya sudah saya prediksi bakal seperti ini, tapi kaum 58 persen itu bego. Baru sadar kalo sudah menimpa pada dirinya bahkan gak sadar juga termasuk gen z beban Indonesia yang lahir sudah enak dibebaskan dari cengkraman diktator orde baru jadi negara demokrasi eh malah dikembalikan lagi jadi neo orde baru diktator kkn korupsi karena kebanyakan joget jadi bego, hidup hedon, kerja gak rajin, kena tekanan resign,suka zina,dll