Mari kita bedah si “paling prioritas ini”

Narasinya kedengarannya bagus, “rumah sendiri belum beres”, katanya.

Tetapi, argumen “prioritas” ini klasik sekali, dan salah sasaran. Mengaitkan donasi sukarela masyarakat dengan kegagalan sistemik negara itu ibarat menyalahkan tukang parkir karena harga bensin naik; nggak nyambung!

Argumen di atas menganggap donasi masyarakat Indonesia sebesar Rp 9 miliar ke iran (dalam hal ini konteks konflik Iran-Israel) sebagai bentuk “salah prioritas”. Narasi ini membenturkan empati publik dengan kondisi ekonomi domestik yang sulit, seolah-olah jika Rp 9 miliar itu tidak dikirim, masalah kemiskinan dan pendidikan di Indonesia otomatis tuntas.

Mari kita bedah si “paling prioritas ini”.

a. Menyalahkan Dompet Rakyat untuk Tugas Negara

Sarkasnya, sejak kapan donasi sukarela jadi beban APBN? Klaim ini secara ajaib memindahkan tanggung jawab negara ke pundak warga sipil. Logikanya begini, donasi itu uang pribadi yang dikeluarkan ikhlas, sementara kesejahteraan rakyat adalah tugas konstitusional pemerintah yang mengelola ribuan triliun rupiah. Kalau rakyat masih susah, itu karena pemerintah gagal mengelola anggaran ratusan triliun, bukan karena warga kirim bantuan sembilan miliar ke luar negeri. Ibaratnya, kamu menyalahkan tetangga yang beli gorengan karena kamu sendiri nggak bisa bayar cicilan motor. Hubungannya di mana?

b. Angka Sembilan Miliar vs. Anggaran “Salah Sasaran”

Kita meributkan Rp 9 miliar sementara ada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang anggarannya dipatok Rp 1,2 triliun per hari tapi eksekusinya masih bikin dahi berkerut. Kita lebih sibuk menghakimi 24 ribu orang yang berdonasi daripada mengawasi triliunan rupiah yang berisiko bocor lewat birokrasi yang gemuk. Rp 9 miliar itu kalau dibagi ke seluruh penduduk Indonesia cuma dapet kerupuk sebungkus per orang, tapi dijadikan kambing hitam untuk kegagalan sistemik pengentasan kemiskinan.

c. Argumen ini terjebak dalam false dichotomy!

Kita dipiksa memilih antara “bantu luar negeri” atau “utamakan rakyat sendiri”. Manusia itu punya kapasitas multitasking, lho. Orang yang berdonasi ke luar negeri biasanya adalah orang yang sama yang juga paling rajin donasi untuk korban bencana di dalam negeri. Empati itu bukan kuota internet yang kalau dipakai buat YouTube (luar negeri) bakal habis buat belajar (dalam negeri). Justru, masyarakat yang peduli pada isu kemanusiaan global biasanya punya kepekaan sosial lebih tinggi di lingkungannya sendiri.

d. Mengkambinghitamkan Solidaritas untuk Menutupi Ketimpangan

Narasi ini sebenarnya membantu pemerintah “cuci tangan”. Dengan menyalahkan kepedulian warga, kita jadi lupa bertanya: “Eh, uang pajak kita yang ribuan triliun itu larinya ke mana ya kok sekolah masih ada yang ambruk?” Kalau pendidikan masih mahal, itu karena alokasi dan tata kelola dana pendidikan kita yang bermasalah, bukan karena ada warga yang kirim bantuan ke korban perang. Membenturkan donasi dengan kemiskinan domestik itu taktik lama untuk mengalihkan isu dari ketimpangan ekonomi yang diciptakan oleh kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil.

Lagian, kalau mau jujur, masalah “rumah belum beres” itu bukan karena gentengnya bocor kena air hujan dari luar, tapi karena penghuni rumah yang memegang kunci brankas sering lupa cara membagikan isinya dengan adil.

Jadi, daripada repot ngurusin sedekah orang lain yang cuma seujung kuku dibandingkan APBN, mending kita fokus tanya ke yang punya kuasa: itu uang pajak kita beneran jadi nasi bergizi atau cuma jadi bahan surprise ultah “sekretarisnya”? eh…😚

(fb The Argumentator)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. Jangankan donasi utk Iran, dulu ada ustadz terkenal ngimpulin donasi buat Palestina kalo tak salah 10M sj lgs dinyinyirin pake skala prioritas. Sama persis kasusnya sm yg ini … fakta bhw literasi rakyat kita itu rendah sekali, tidak bisa membedakan prioritas pembangunan oleh pemerintah dan infak masyarakat …