
Kritik ini tepat, karena setiap kebijakan dari pemerintah seharusnya bertujuan melahirkan maslahat dan tepat sasaran. Tujuan mulia dari MBG kan untuk menyediakan makanan bergizi bagi seluruh rakyat Indonesia, agar tidak ada lagi rakyat yang kekurangan gizi.
Jika memang benar-benar berorientasi tujuan, maka tidak selayaknya sekolah swasta elit yang anak-anak didiknya sudah tercukupi gizinya, dipaksa juga untuk mengikuti program MBG. Atau, sekolah yang selama ini sudah menyediakan makan siang untuk anak didiknya, baik secara gratis (sudah include dalam spp), maupun berbayar yang terjangkau, dan sudah terbukti berhasil dan efektif, dipaksa juga untuk ikut MBG.
Ini jika memang program tersebut berorientasi tujuan mulia tadi, bukan sekadar untuk menghabiskan anggaran yang teramat besar itu, dan malah jadi ajang bagi-bagi cuan dan korupsi berjamaah.
Tapi mau bagaimana lagi. Di negeri ini, orang yang tidak curiga dengan potensi korupsi dan penyelewengan atas proyek dengan anggaran sangat besar, tidak kita katakan sedang husnuzhzhan, tapi kita katakan terlalu naif dan bodoh.
(Ustadz Muhammad Abdu Negara)





