KOSONG ALA GIBRAN

“Anak saya tidak tertarik politik, lebih suka jualan martabak” [Jokowi]

“Saya orangnya gak suka baca. Budaya baca buku di keluarga saya tidak ada.” [Gibran Rakabuming Raka]

Gambar cover buku “KOSONG ALA GIBRAN” di atas adalah hasil rekayasa netizen. Setelah heboh buku “ISLAM ALA PRABOWO”.

Gibran sudah lama disematkan “kosong” oleh netizen karena minim gagasan, substansi, dan kapasitas intelektual dalam memimpin negara. Bahkan ijazah SMA saja hingga kini masih ghoib dan sedang digugat di PTUN dan MK.

Gibran sendiri pernah ngaku gak suka baca dan di keluarganya tidak ada budaya baca buku. Pengakuan itu disampaikan saat wawancara dengan Najwa Shihab sebelum jadi walikota Solo.

Berikut adalah beberapa konteks utama di balik munculnya anggapan tersebut:

1. Kritik Kapasitas Ide dan Retorika Publik

Sejumlah kritikus politik secara terbuka menilai bahwa Gibran belum menunjukkan kedewasaan gagasan atau kemampuan berdiskusi yang mendalam di forum-forum intelektual. Kritik serupa datang dari budayawan Mohamad Sobary yang menjulukinya “kosong secara pikiran”. Publik sering menyoroti kebiasaan Gibran yang dinilai lebih memilih aksi seremonial atau blusukan formalitas dibanding terlibat dalam debat argumen atau wawancara media yang menguji substansi kebijakan.

2. Tren “Kamus” Baru Media Sosial

Di platform media sosial seperti Threads dan X (Twitter), kata “Kosong” sempat menjadi semacam julukan atau slang politik yang disematkan netizen kepada Gibran. Konotasi ini digunakan pengguna media sosial untuk menggambarkan persepsi mereka terhadap performa komunikasi publik sang Wakil Presiden yang dianggap kurang berbobot atau “bisu” di momen-momen krusial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 komentar