Coba lo perhatiin baik-baik: “TENAGA AHLI PRESIDEN CURIGAI ERUPSI 6 GUNUNG TAK ALAMI TAPI ULAH ALAT ANTEK ASING.”
Ini bukan narasi dari bapak-bapak kurang tidur yang lagi nongkrong di pos ronda sambil ngerokok klobot. Ini adalah pernyataan dari seorang TENAGA AHLI PRESIDEN. Seseorang yang digaji pakai uang pajak lo dan gue, yang tugas utamanya adalah memberikan masukan, analisis, dan nasihat strategis kepada orang nomor satu di republik ini.
Dan nasihat macam apa yang keluar dari kepalanya? Teori konspirasi murahan sekelas film fiksi ilmiah budget rendah!
Gimana kalo kita bedah tingkat kegilaan, denial, dan kebangsatan narasi ini pakai logika paling dasar, logika anak SMP yang lulus pelajaran Geografi.
Pertama, gue mau ngingetin si “Tenaga Ahli” ini (dan siapapun pejabat yang mengamini omong kosong ini) tentang satu fakta absolut yang nggak bisa didebat: Indonesia itu duduk manis di atas Ring of Fire (Cincin Api Pasifik).
Negara ini dibangun di atas pertemuan tiga lempeng tektonik raksasa yang saling bertabrakan: Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.
Tabrakan konstan inilah yang menciptakan lebih dari 120 gunung berapi aktif dari ujung Sumatera sampai ke timur kepulauan sana.
Erupsi gunung berapi di Indonesia itu sama alaminya dengan matahari terbit di timur.
Itu adalah konsekuensi logis, geografis, dan geologis dari takdir letak negara kita.
Sekarang, mari kita pakai logika yang katanya “ulah alat antek asing”.
Lo bayangin seberapa besar energi yang dibutuhkan untuk memicu erupsi ENAM gunung berapi secara bersamaan atau berdekatan? Gunung berapi itu bukan petasan banting yang bisa lo nyalain pakai korek gas! Erupsi itu terjadi karena penumpukan magma dari kedalaman puluhan kilometer di bawah perut bumi, di mana tekanan gas dan panas ekstrem ngedorong batuan cair itu ke atas.
Alat “asing” macam apa yang bisa ngebor sampai ke mantel bumi, memanaskan magma, dan ningkatin tekanan gas secara serentak di enam titik berbeda di Indonesia tanpa ketahuan sama sekali? HAARP? Sinar laser dari satelit alien? Ini adalah kebodohan intelektual yang paling telanjang.
Bahkan negara dengan teknologi militer paling canggih sedunia kayak Amerika Serikat atau China aja nggak punya teknologi buat ngendaliin tektonik bumi, apalagi “mencet tombol” buat meletuskan gunung orang lain. Kalau mereka punya teknologi itu, mereka udah nggak butuh nuklir!
Pakar bilang “Tidak Masuk Akal”. Ya jelas lah! Pakar geologi mana pun pasti pengen jedukin kepalanya ke tembok denger statemen pejabat publik sekelas ini. Ini adalah penghinaan terhadap ilmu pengetahuan (sains).
Kalau lo mikir, “Ah, mungkin dia cuma kurang literasi aja,” lo salah besar. Di tingkat kekuasaan, nggak ada kebodohan yang murni tanpa motif. Narasi “ulah asing” ini bukan sekadar denial orang bodoh, ini adalah STRATEGI CUCI TANGAN YANG PALING PENGECUT.
Coba lo pikirin baik-baik. Kalau enam gunung erupsi, apa yang terjadi? Bencana. Apa yang dibutuhkan rakyat? Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) yang berfungsi, jalur evakuasi yang jelas, manajemen krisis yang cepat, tanggap darurat yang efisien, dan logistik yang memadai. Siapa yang bertanggung jawab nyediain itu semua? PEMERINTAH.
Tapi, kalau pemerintah GAGAL melakukan itu semua… kalau sirinenya mati, kalau dana mitigasi bencananya dikorupsi, kalau koordinasi evakuasinya berantakan dan jatuh banyak korban jiwa… siapa yang bakal disalahkan rakyat? Pasti pemerintah.
Nah, di sinilah trik sulap bajingan ini dimainkan.
Dengan melempar narasi bahwa ini adalah “serangan antek asing” atau “ulah alat luar negeri”, pemerintah lagi berusaha memindahkan objek kemarahan rakyat. Mereka mau bilang: “Hei rakyat, jangan marah sama kami karena penanganan bencana kami bobrok. Marahlah pada ASING! Kita ini sedang diserang! Kita adalah korban konspirasi global!”
Ini adalah taktik victim playing tingkat negara. Dengan menyalahkan hantu “asing” yang nggak kelihatan bentuknya, para pejabat ini bisa melenggang bebas dari tuntutan pertanggungjawaban. Mereka menutupi ketidakbecusan birokrasi, kegagalan mitigasi, dan amburadulnya manajemen bencana dengan jubah nasionalisme palsu.
Ini persis kelakuan bocah yang mecahin vas bunga nyokapnya, terus pas ditanya, dia malah nyalahin tuyul. Pengecut!
Hal yang bikin gue paling merinding dari berita ini bukan soal gunung erupsinya, tapi soal fakta bahwa orang yang ngomong gini punya gelar “Tenaga Ahli Presiden”.
Lo bayangin, bro. Ini adalah orang-orang ring satu. Orang-orang yang berbisik ke telinga pengambil kebijakan tertinggi di republik ini. Orang-orang yang tugasnya menganalisis data, memproyeksikan krisis, dan menyusun strategi negara.
Kalau kapasitas otak, kualitas analisis, dan literasi sains seorang “Tenaga Ahli” aja cuma selevel admin grup Facebook Bumi Datar, gimana nasib kebijakan negara ini?
Ketika negara harus menghadapi krisis nyata entah itu krisis iklim, krisis pangan, krisis ekonomi, atau krisis bencana alam mereka nggak akan nyari solusi yang berbasis data dan sains. Mereka bakal sibuk nyari kambing hitam, bikin teori konspirasi, dan nyalahin entitas gaib atau asing.
Negara ini diurus pakai klenik, halusinasi, dan delusi, bukan pakai ilmu pengetahuan. Pantas aja setiap ada bencana, respons kita selalu gagap, karena orang-orang yang duduk di kursi empuk pengambil kebijakan hidup di realita alternatif yang mereka karang sendiri.
Pernyataan “erupsi gunung ulah antek asing” ini adalah insult (penghinaan) paling brutal terhadap akal sehat 280 juta rakyat Indonesia.
Ini adalah bukti nyata betapa dalamnya jurang pembodohan publik yang sedang digali oleh segelintir elit di sekitar kekuasaan.
Sebagai warga negara yang waras, kita nggak boleh maklum, kita nggak boleh ketawa dan nganggep ini cuma lelucon. Kita harus marah.
Kenapa marah? Karena denial pejabat semacam ini membunuh orang. Ketika pemerintah menolak percaya pada sains kebencanaan dan malah percaya pada teori konspirasi asing, mereka tidak akan berinvestasi pada teknologi mitigasi bencana. Mereka tidak akan memperbaiki sensor seismik yang rusak. Mereka tidak akan melatih warga untuk evakuasi. Dan ketika bencana itu benar-benar datang menampar muka kita, yang akan mati tertimbun lahar atau tersapu awan panas adalah rakyat biasa, bukan “Tenaga Ahli” yang ngomong ngelantur dari balik meja ber-AC di Jakarta.
Udah saatnya kita nuntut standar IQ dan kewarasan minimum buat siapapun yang mau jadi pejabat atau tenaga ahli di republik ini. Kalau masih ada pejabat yang ngomong bencana alam itu pakai remote kontrol asing, ganti aja gajinya pakai daun, karena otaknya emang nggak lebih berharga dari kotoran sapi. Stop pembodohan ini!
(FB)








KONOHA detected
semua pihak harus bersikap logis ada bencana alam ya memang sebab alamiah dan fenomena alami jgn langsung diambil kesimpulan karena antek asing atau kezaliman atau dosa atau hal lain, kalo mau maju spt jepang dan korsel
bro, ga tau dengan nonis, tapi kalau Islam nilai ketuhanan dan akal tetap dipakai, imbang.
dalam kasus ini, erupsi karena ulah antek asing luar biasa sih! 🤣
antek asing yang nyata itu impor produk yg bisa dibuat sendiri
Inilah kebodohan paling Akut dari pejabat negeri ini
presidenya bilang takdir,staffsusnya bilang konspirasi. pndukungnya manggut2 sj smbil misuh2 kalau ada yg kritik
🤣🤣🤣👍👍
kemaren dia bilang ini soal sepele kok jadi rame 🤣🤣🤣
wadduh parah staf ahli presiden macam ni 😡😡
pertanyaannya adalah kok pédé staf ahli ngebacod kaya gitu?
karena dia tahu rakyatnya lebih banyak yg bodoh ketimbang yg pinter.
lebih kocak otak kecil kebalik kadrun yang bilang kalo penyebab gunung erupsi karena anggaran BNPB dipotong, lu kira gunung Krakatau ngebaca APBN drun? paham drun?
hanya terwo yang brengsek, bodoh, dan koplak yang bilang bahwa sebuah gunung meletus karena anggaran BNPB dipotong. maksudnya anggaran itu untuk meningkatan kemampuan untuk penanggulangan bencana, kalau anggarannya dipotong, ya tidak maksimal kan pennanggulangannya?