Ketika Islam Mulai Diberi Nama Penguasa
Ada yang terasa ganjil ketika sebuah buku diberi judul Islam ala Prabowo. Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Buku itu diluncurkan dalam Rakornas BAZNAS 2025. Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar menjadi salah satu inisiatornya bersama Ketua MPR Ahmad Muzani. Ketua BAZNAS Noor Achmad ikut dalam peluncurannya.
Tentu tidak ada yang salah menulis buku tentang kehidupan beragama seorang presiden. Prabowo pun berhak diceritakan sebagai seorang Muslim sebagaimana tokoh lainnya. Yang menjadi pertanyaan justru institusinya. BAZNAS bukan penerbit biografi presiden. Ia adalah badan yang mengelola zakat—uang umat yang di dalamnya terdapat hak fakir miskin dan mustahik. MUI juga bukan lembaga hubungan masyarakat istana. Otoritas moralnya justru bernilai karena masyarakat berharap ia mampu berdiri pada jarak yang sehat dari kekuasaan.
Karena itu persoalannya bukan Prabowo. Persoalannya adalah agama yang terlalu dekat dengan kekuasaan selalu berisiko kehilangan kemampuan untuk menegur kekuasaan. Hari ini mungkin hanya sebuah buku. Besok masyarakat mulai terbiasa mendengar bahwa kebijakan pemerintah merupakan manifestasi nilai agama. Lusa kritik kepada pemerintah perlahan terasa seperti kritik kepada agama. Di situlah persoalan serius dimulai.
Islam sudah mempunyai Al-Qur’an, Sunnah, fikih, tasawuf dan tradisi intelektual lebih dari seribu tahun. Ada Al-Ghazali, Imam Syafi’i, Imam Nawawi, Ibn Khaldun dan ribuan ulama yang menghabiskan hidup untuk ilmu. Islam tidak kekurangan referensi sampai harus mencari identitas dari nama seorang presiden.
Presiden justru seharusnya dinilai dengan nilai Islam, bukan Islam yang diberi label berdasarkan presiden. Bedanya tipis dalam kalimat, tetapi sangat jauh secara filosofis. Yang pertama menempatkan nilai di atas kekuasaan. Yang kedua berisiko menempatkan kekuasaan sebagai penafsir nilai.
Sejarah berkali-kali memperlihatkan bahayanya ketika ulama terlalu dekat dengan istana. Bukan karena setiap penguasa jahat dan bukan pula karena setiap ulama yang dekat pemerintah kehilangan integritas. Tetapi karena kekuasaan selalu membutuhkan legitimasi, sementara agama memiliki legitimasi yang tidak bisa dibeli dengan APBN. Karena itulah jarak diperlukan.
BAZNAS sebaiknya sibuk memastikan zakat sampai kepada orang miskin. MUI sebaiknya menjaga umat dan menjadi suara moral, termasuk ketika pemerintah keliru. Dan Presiden cukup menjadi presiden yang baik. Tidak perlu ada “Islam ala” siapa pun.
Sebab presiden datang dan pergi. Kekuasaan berganti. Nama pejabat berubah. Tetapi agama seharusnya tetap mempunyai keberanian untuk berdiri di hadapan siapa pun dan berkata: yang benar tetap benar, sekalipun penguasa tidak menyukainya; dan yang salah tetap salah, sekalipun dilakukan oleh orang yang sedang berkuasa. Itulah mengapa agama harus dekat dengan manusia, tetapi tidak boleh menjadi terlalu nyaman di kursi kekuasaan.
(Erizeli Jely Bandaro)








Memang yg namanya RACUN Jokodok plonga plongo raja ngibul Mulyono dan RACUN Mbah GendruWO Wowo aNTEK asing Gemoy omon omon itu sangat mematikan AKAL bagi yg terkena‼️
Emang ada yg pernah wowo jumatan sama baca fatekhah
Islam itu agama haq tegak lurus agama suci ko diversikan menurut wowo sipenculik dan tukang meracuni generasi muda itu sangat melecehkan
pakemnya : islam arab adalah islam idiot, kampungan, guoblok. islam asli itu seperti prabowo, islam jawa. nabi marah tak ya ???? islam ala nabi kalah gitu ???? dasar otak sungsang
kamu sendiri yg ambil kesimpulan kamu sendiri yg bertanya kamu sendiri yg marah2
Sekarang lu bebas hina Islam ya njing tar tunggu saat nya lu diburu kaya anjing zionis siap² aja lu tanam pohon ghorqod.
habis istilah Islam nusantara terbit istilah Islam ala Prabowo
emang di mana salahnya kalo BAZNAS nerbitin buku itu? toh gak ada ajaran Islam yg diselewengkan di buku itu, paham drun?
kalo ga tau Islam mending diem kowe Sot
ditanya kalo mati kowe dibakar apa di buang di laut aja kowe belum jawab 😂😂
pertanyaan yg pertama gabisa dibalas, mana yg diselewengkan? jgn cuma asbun drun
BAZNAS itu tugasnya apa sih? knp tiba² sibuk nerbitin buku? knp ngga nyuruh balai pustaka yg nerbitin? 🤣🤣
dan faktanya udah 3 pihak yg merasa keberatan namanya dicatut tanpa izin 🤣🤣🤣
nama org aja dicolong, gimana yg laen 🤣🤣🤣
Lu sendri yg ga paham atau goblog tugas & fungsi BAZNAZ itu apa njing.
urusin aja agama kau nyet frdco muncung kau mirip anjing..kau kan kafir…anti islam kau
kalo si dia jd presiden juga ada pasti namanya islam liberal ala gabener anak perempuannya gaperlu ditutup kepalanya
wk..wk..wk ..luka pilkada dekai masih terasa sakit 🤣🤣🤣
fans si mulut jamban ini msh aja ungkit2😂😂
Jangan alihkan halusinasi lu ke hal yang ga ada ngaruhnya ke rakyat…fokus ke biji satu sekarang yang bobroknya ugal ugalan njing.
termul ama terwo itu emg kumpulan halu hobi berandai-andai. kalau, andaikan, jika, seumpama dll 🤣🤣🤣
omonin fakta aja, buku yg nyanjung bowo itu nyolong nama tokoh tanpa ijin. itu sudah 😂😂😂
mana isi bukunya nyatut nama orang2 tanpa permisi lagi 🤣🤣
terbaru KH Said Aqil Siradj yg mengklarifikasi bahwa beliau tdk pernah menulis utk buku tsb, dan minta peredaran buku tdk dilanjutkan sebelum direvisi & namanya dihapus
🤣🤣🤣
kawan-kawan. lainkali kalau ada komment buzzer prabowo yang juga antek zionis, atau yang komment triak opposant FOMO, atau siapapun yang sejenis, kita balas dengan spam komment membantah atau mencacimaki sebanyak-banyaknya. Sebab orang-orang tersebut memang bebal dan meresahkan…
Islam ala wowo, mihak zionis, jadi babu amerika
Nanti bakal terbit jilid kedua nya
Islam ala Buna Ted, legalkan LGBT
sebentar lagi akan diluncurkan buku dengan judul “Islam ala AF dan drun”
mendingan islam ala efpeik sambil kutip orasi dukung ngisis aja kaliya
yee Unyil…itu2 terus komen lu 🤣🤣
unyil: boneka yg ga ada otak
GRIB pembantai beraninya keroyok seorang bapak kayak binatang ga lu senggol njing.