Ketika boti kecipratan proyek MBG

Ikut ngerjain proyek pemerintah, lalu dapat cuan gede.

Dari jaman Pak Harto hal kek gini uda jamak. Lu buat perusahaan, lalu ikhtiar ikut tender proyek di berbagai instansi pemerintahan.

Ada untung gak? Sudah pasti. Apalagi kalo hasil kerja perusahaan tersebut dinilai baik, ketika audit gak ada masalah, pandai memelihara relasi dengan pejabat, proyek bakal mengalir deras.

Tapi, jika hasil kerjanya buruk, proyek terbengkalai, maka perusahaan tersebut akan di black list, gak bisa lagi ikut tender proyek di instansi pemerintah. Walaupun masih ada aroma KKN, tapi sistem “reward and punishment” harus diakui sudah berjalan.

Di akhir masa jabatan Jokowi, kita disuguhi berita mengejutkan. Ratusan kontraktor dan vendor proyek jalan tol mengadu ke DPR. Mereka mengaku belum mendapat bayaran padahal proyek sudah dikerjakan sesuai kesepakatan awal. Jumlah dana yang belum dicairkan kepada para pemborong mencapai 1 trilyun rupiah.

Di jaman Prabowo ternyata lebih gila lagi. Pemilik dapur MBG tanpa malu-malu pamer cuan 6 juta rupiah per hari. Ia lalu joget-joget seperti boti yang baru aja nyepong batang konti. Tentu saja kita merasa jijik. Ni orang jelas gak punya empati.

Btw, ikut kecipratan proyek pemerintah adalah berkah bagi sebagian orang diluar sana. Dan apa yang kalian lakukan itu halal selama dikerjakan secara profesional. Ikut tender bersaing dengan perusahaan lain. Jika terpilih, maka kerjakan proyek itu dengan sebaik mungkin, ambil profit dalam ambang batas wajar.

Bagaimana dengan proyek MBG? Well, sedari awal memang tidak profesional. Menjadi rekanan tak cukup hanya bermodal uang milyaran, tapi juga harus punya jaringan ke lingkaran elit politik atau yayasan yang berada dibawah naungan bapak Wowo. Dan ketika hal ini terlaksana, akhirnya menyisakan masalah dimana-mana. Muncul kasus siswa keracunan, makanan tak sesuai standar hingga dapur dan peralatan memasak yang tidak higienis.

Maka jangan heran kalo pemilik SPPG itu biasanya terkoneksi dengan partai atau yayasan tertentu. Termasuk boti yang joget-joget di medsos pamer cuan 6 juta per hari itu.

Dulu, orang kalo mengerjakan proyek pemerintah biasanya diem-diem aja. Sekarang, dapat cuan dari proyek yang tengah jadi sorotan masyarakat malah dipamerkan ke media sosial. Bodohnya sungguh natural.

(Ruby Kay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. cuma menguntungkan segelintir pihak saja dan itupun makanan dikorupsi kualitas jelek, bahkan mereka pun bisa mematikan usaha penjual makanan yang biasa oleh rakyat kecil