✍️Erizeli Bandaro
Ekspor gas Indonesia ke Singapura berasal dari lapangan gas Sumatera Selatan dan West Natuna melalui jaringan pipa bawah laut. Jika benar volumenya hanya setara 1,2% kebutuhan energi Singapura, penghentiannya tidak akan signifikan mengganggu ketahanan energi negara tersebut.
Namun, bagi Indonesia, persoalannya tidak sesederhana menghentikan aliran gas. Industri hulu migas dibangun berdasarkan investasi besar, kontrak penjualan jangka panjang (offtake agreement), dan pembiayaan utang (long-term debt). Arus kas penjualan gas menjadi dasar kemampuan produsen membayar bunga dan pokok utang.
Menghentikan ekspor berarti berpotensi kehilangan pendapatan, sementara kewajiban utang tetap berjalan. Bahkan, pelanggaran ketentuan pembiayaan dapat memicu percepatan pelunasan atau klaim kontraktual.
Gas yang kehilangan pembeli juga tidak otomatis dapat dialihkan ke pasar domestik. Tanpa infrastruktur dan offtaker, produksi harus dikurangi atau dihentikan sementara. Dalam kondisi tertentu, sebagian gas dapat terpaksa dibakar melalui flaring.
Ironisnya, Singapura relatif lebih mudah mencari alternatif pasokan dibandingkan Indonesia mencari pembeli pengganti sekaligus menyelesaikan kewajiban finansial proyek.
Inilah kelemahan kebijakan energi yang dibangun atas retorika politik, bukan kalkulasi bisnis. Menghentikan ekspor cukup dengan keputusan pemerintah. Tetapi menghentikan kewajiban utang, kontrak, dan biaya investasi tidak bisa dilakukan melalui pidato.
Nasionalisme bukan sekadar menghentikan ekspor sumber daya alam, melainkan kemampuan mengelolanya secara produktif tanpa merusak kepastian investasi dan kredibilitas negara. (fb)
***
NANTI DIBILANG GOBLOK PENDUKUNGNYA NGAMUK 🤣🤣🤣








Benar…. PJBG tidak sesimple yang dibayangkan..terkait harga.. kualitas gas dan calon pembeli dalam negeri malah ribet…..K3S harus melobi calon pembeli baru dengan perjanjian baru…
selama ini harga jual ke singapura juga tergolong mahal hampir 17 usd per mmbtu..dalam negeri maksimal dibawah 10 usd per mmbtu..
Meski kecil singapura bukan negara abal abal yang bisa digertak….belum lagi jika sampai singapura membalas stop ekspor BBM…..hancur bakalan antri kita di SPBU…
Penjilat kalian .Goblok hahaha…ngamuk lu bau tae silet
bilang saja goblok, ngamuk mah udah makananya