Arab Saudi sedang memetik pelajaran berharga…
Selama bertahun-tahun, Riyadh bersikap seolah-olah kekayaan minyak dan aliansinya dengan Washington membuatnya kebal terhadap konsekuensi kebijakan regionalnya.
Mereka menimbun senjata, menampung pasukan asing, dan menggelontorkan miliaran dana untuk petualangan militer, sembari memandang Iran sebagai musuh yang harus dibendung.
Kini, saatnya membayar harga atas semua itu.
Dengan tercekiknya akses di Selat Hormuz dan terganggunya jalur pipa minyak vital yang membentang dari timur ke barat menuju Laut Merah, kemampuan Arab Saudi untuk menyalurkan komoditas paling berharganya menjadi sangat terganggu.
Kerajaan itu mungkin memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia, namun cadangan yang tertanam di bawah tanah tidak bisa membayar tagihan.
Minyak harus sampai ke pasar.
Dan tiba-tiba, negara yang membayangkan dirinya sebagai kekuatan dominan di kawasan Teluk ini mungkin harus mengetuk pintu Teheran.
Itulah ironi yang pahit.
Iran—negara yang selama bertahun-tahun coba diisolasi dan dibendung oleh Arab Saudi—kini memegang pengaruh besar atas situasi kawasan tempat Arab Saudi harus beroperasi.
Jika Riyadh menginginkan jalan keluar, mereka mungkin harus bernegosiasi dengan Teheran, dan Teheran tidak akan memberikan bantuan secara cuma-cuma.
Iran akan menuntut imbalan.
Mereka akan menuntut konsesi politik. Jaminan keamanan.
Perubahan kebijakan regional Arab Saudi.
Penghentian dukungan terhadap operasi-operasi yang bermusuhan.
Apa pun bentuk kesepakatan akhirnya nanti, satu hal yang jelas: Arab Saudi akan bernegosiasi dari posisi yang lemah, bukan kuat.
Lalu, bagaimana dengan Amerika Serikat?
Kehadiran militer Amerika tidak mampu mencegah mimpi buruk strategis ini. Miliaran dana yang dihabiskan untuk senjata dan ketergantungan selama puluhan tahun pada Washington tidak mampu menghilangkan kerentanan yang ditimbulkan oleh faktor geografis.
Pangkalan militer Amerika tidak bisa melenyapkan Selat Hormuz.
Pangkalan-pangkalan itu tidak bisa melindungi setiap jalur pipa secara permanen.
Mereka tidak bisa menciptakan tatanan kawasan yang stabil hanya melalui kekuatan militer.
Jadi, mungkin sudah saatnya bagi Riyadh untuk mengajukan pertanyaan yang selama beberapa generasi mereka hindari:
Mengapa Arab Saudi harus terus menampung pasukan militer AS ketika pasukan tersebut gagal memberikan jaminan keamanan strategis yang mereka janjikan?
Jawabannya menuntut peninjauan ulang secara menyeluruh.
– Hilangkan kehadiran militer permanen Amerika.
– Berhenti memandang Teluk sebagai arena konfrontasi antara Amerika dan Iran.
– Berhenti beranggapan bahwa pembelian senjata tanpa henti merupakan sebuah kebijakan luar negeri.
– Dan mulailah bernegosiasi secara langsung dengan negara-negara yang memang harus hidup berdampingan dengan Arab Saudi.
Karena Iran tidak akan lenyap.
Irak tidak akan lenyap.
Yaman tidak akan lenyap.
Wilayah Teluk tidak akan lenyap.
Washington bisa saja mengirimkan kapal induk.
Mereka bisa mengerahkan pasukan.
Mereka bisa menjual senjata senilai ratusan miliar dolar lagi.
Namun, mereka tidak bisa mengubah peta.
Keamanan sejati bagi Arab Saudi pada akhirnya harus bersumber dari diplomasi, kesepakatan regional, dan batasan-batasan yang disepakati bersama, bukan dengan sekadar “menyewa” perisai Amerika sembari memusuhi negara-negara tetangganya.
Masa di mana orang berasumsi bahwa Washington akan menyelesaikan setiap masalah keamanan Saudi telah berakhir.
Jika kini Riyadh harus bernegosiasi dengan Teheran, mereka harus melakukannya dengan serius.
Dan jika hal itu berarti harus membayar harga yang mahal akibat kesalahan perhitungan strategis selama bertahun-tahun, mungkin justru itulah intinya.
Terkadang, harga yang harus dibayar karena menghindari diplomasi adalah pada akhirnya harus bernegosiasi dalam posisi yang tak berdaya—berlutut di hadapan lawan.
Richard
@ricwe123







Biasa lah.. kadang menang kadang kalah. Alhamdulillah ‘ala kulli hal…
Ali bajrie ngumpet 😂😂
Richard
@ricwe123
dran drun! 🤭