Kisah luar biasa seorang pria tua Suriah menyembunyikan perpustakaan pribadinya yang dilarang rezim Assad

Pria lanjut usia asal Suriah ini menyembunyikan perpustakaan pribadinya di rumahnya di kota Damaskus sejak akhir tahun 2011 sebelum melarikan diri ke Kuwait karena takut akan rezim Assad—rezim yang bisa menjebloskan seseorang ke penjara kejam (gulag) hingga tewas akibat penyiksaan hanya karena memiliki buku terlarang.

Hari ini, pria tersebut kembali ke perpustakaan itu dan membongkar total dinding tempat ia menyembunyikan koleksinya, sehingga menyingkap buku-buku berharga yang kepemilikan dan peredarannya dilarang oleh rezim Assad.

Kisah luar biasa mengenai seorang pria tua asal Suriah—yang sering dikenal dengan sapaan Abu Bilal—adalah salah satu bukti nyata dari perjuangan menjaga literatur dan ilmu pengetahuan di tengah masa-masa kelam kediktatoran.

Detail Kejadian & Pelarian Abu Bilal

  • Tindakan Penyelamatan (2011): Menjelang akhir tahun 2011, ketika eskalasi konflik di Suriah mulai memuncak, pria tua yang juga merupakan seorang ulama/akademisi ini memutuskan untuk menyembunyikan perpustakaan pribadinya. Ia membangun sebuah dinding bata palsu di dalam rumahnya di kawasan Damaskus untuk menutup rapat ribuan koleksi bukunya.
  • Alasan Keamanan: Di bawah rezim Bashar al-Assad, kepemilikan buku-buku tertentu dianggap sebagai pelanggaran berat. Siapa pun yang ketahuan memilikinya bisa dijebloskan ke dalam jaringan penjara militer, mengalami penyiksaan kejam, hingga eksekusi mati.
  • Pelarian ke Kuwait: Setelah memastikan perpustakaannya tersegel rapat demi mengelabui para milisi pro-pemerintah, ia melarikan diri ke Kuwait untuk mencari suaka keselamatan.

Pembongkaran Dinding dan Penemuan Kembali

Pasca kejatuhan rezim Assad, setelah bertahun-tahun hidup di pengasingan, ia akhirnya bisa kembali ke rumahnya di Damaskus. Dengan menggunakan palu, ia meruntuhkan sendiri dinding bata tersebut.

Di balik reruntuhan semen dan batu bata, koleksi berharganya ditemukan dalam kondisi yang sangat terawat dan utuh. Buku-buku ilmiah, kitab keagamaan langka (seperti Tafsir al-Tabari dan Umdat al-Qari), tasbih, hingga sertifikat berbingkai miliknya masih utuh selama belasan tahun.

Kisah emosional ini ramai dibagikan di berbagai platform media sosial seperti Instagram, Al Jazeera, dan The National. Bagi masyarakat Suriah, penemuan kembali perpustakaan ini menjadi simbol runtuhnya ketakutan dan bangkitnya kembali kebebasan literasi yang sempat terkubur puluhan tahun akibat sensor ketat rezim Assad.

[VIDEO]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *