Tingkat persetujuan (approval rating) Presiden Donald Trump telah jatuh ke rekor terendah sebesar 33% berdasarkan hasil jajak pendapat nasional terbaru yang dirilis oleh Financial Times bersama Focaldata. Angka ini menandai titik terendah bagi Trump sejak platform tersebut memulai seri pelacakan masa jabatan keduanya.
Berikut rincian poin penting dari data proyeksi dan jajak pendapat per awal September 2026:
Hasil Jajak Pendapat Utama
- Financial Times / Focaldata (Diterbitkan 6–7 September 2026):
- Persetujuan Keseluruhan: Hanya 33% pemilih terdaftar yang menyetujui kinerja Trump, turun 3 poin persentase dari bulan sebelumnya.
- Basis Republik: Dukungan di antara pemilih internal Partai Republik merosot ke angka 72%, yang juga menjadi rekor terendah baru dalam seri jajak pendapat ini.
- Kondisi Finansial: Sebanyak 57% pemilih menyatakan kondisi keuangan mereka memburuk di bawah pemerintahan Trump.
- Arah Ekonomi: Hampir dua pertiga (64%) responden menilai perekonomian Amerika Serikat berjalan ke arah yang salah.
- Dampak Pemilu Paruh Waktu: Sebanyak 46% pemilih menilai keterlibatan Trump justru mempersulit kandidat Kongres dari Partai Republik untuk menang dalam pemilu paruh waktu (midterms) mendatang. Jajak pendapat ini memberikan keunggulan 7,5 poin bagi Partai Demokrat atas Partai Republik.
- Reuters / Ipsos (Diterbitkan pertengahan Agustus hingga September 2026):
- Senada dengan hasil FT, jajak pendapat Reuters/Ipsos juga mencatat angka persetujuan Trump berada di level 33%, dengan ketidakpuasan (disapproval) mencapai 64%.
Faktor Utama Penurunan Popularitas
Berdasarkan analisis data dari Financial Times dan media pemantau lainnya, penurunan tajam ini didorong oleh beberapa krisis domestik dan luar negeri:
- Masalah Biaya Hidup & Inflasi: Pemilih merasa tertekan oleh kenaikan harga kebutuhan pokok, sewa, dan asuransi. Sekitar 71% warga Amerika tidak puas dengan cara Trump menangani biaya hidup.
- Perang Terbuka dengan Iran: Konflik militer yang berkepanjangan dengan Iran memicu kejenuhan publik. Mayoritas warga Amerika khawatir perang akan berlangsung lama, dan gangguan di Selat Hormuz telah mendorong harga BBM dan solar domestik melonjak tajam.
- Kebijakan Tarif Dagang: Keputusan Trump menerapkan tarif 50% pada barang-barang asal Kanada memicu aksi balasan dari Ottawa dan ditentang oleh 56% pemilih karena dianggap menambah ketidakpastian ekonomi.
- Krisis Pemerintahan (Government Shutdown): Penutupan sebagian operasional pemerintahan yang telah memasuki minggu kesembilan membuat ratusan ribu pekerja federal tidak digaji dan mengganggu layanan publik penting.







