“SUMPAH GUE KESEL BANGET SAMA ANTI VAKSIN!!”

✍🏻Herni Alwin Pakaja

Ya Allah sedihnya….Selama saya jadi dokter, baru kali mendengar berita duka 2 sejawat dokter internship gugur ketika masa tugas karena terdampak wabah campak.

Luka lama akibat trauma ketika kejadian covid lalu kembali tergores, berdarah….ternyata sakitnya masih seperti dulu ketika mendengar sejawat meninggal terjangkit penyakit saat bertugas 😩

Mereka anak kebanggaan keluarganya masing-masing, berprestasi, lulusan FK UI. Semoga keduanya husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Dari jauh pun saya bisa merasakan bagaimana perasaan orang tuanya saat ini.

Tulisan seorang dokter di bawah ini, Semoga ini bisa menjadi pelajaran buat para antivacs 🙏

“Campak itu bukan sekadar bintik merah dan demam 🌡️
Ini salah satu virus paling menular di muka bumi
Satu orang terinfeksi bisa menulari 12–18 orang lain yang tidak kebal 😱
Sebagai perbandingan: COVID-19 menularkan ke 2–3 orang. Influenza: 1–2 orang
Campak bermain di level yang berbeda ⬆️

Dan cara penularannya yang bikin ngeri:
Virus campak bisa melayang di udara hingga 2 jam setelah penderitanya pergi dari ruangan 🌬️
Kamu masuk ruang tunggu puskesmas
Pasien campak sudah pergi setengah jam lalu
Tapi virusnya masih ada di sana
Tidak ada yang bisa kamu lihat
Tidak ada yang bisa kamu cium 👁️

Kenapa dokter muda yang sehat bisa meninggal karena campak?
Karena campak bukan penyakit ringan. ⚠️
Komplikasi seriusnya:
🔴 Pneumonia berat; penyebab kematian terbanyak
🔴 Ensefalitis; radang otak, bisa sebabkan kerusakan permanen
🔴 Immune amnesia; sistem imun yang sudah terbentuk bisa terhapus sebagian setelah kena campak
Dan risikonya justru lebih tinggi pada orang dewasa, bukan hanya anak kecil 😔

Indonesia sekarang masuk peringkat 2 dunia kasus campak; tepat di bawah Yaman yang sedang dilanda perang 🌍
Ini bukan statistik yang jauh di sana
Ini ada di puskesmas, di sekolah, di kendaraan arus balik lebaran📍
Dan dokter internship kita ada di garda terdepan, berhadapan langsung, tiap hari 😔

Kenapa bisa separah ini?
Gap vaksinasi pasca pandemi 💉
Saat COVID-19 melanda, jutaan anak Indonesia melewatkan jadwal imunisasi
Posyandu tutup, orang tua takut keluar rumah
Hasilnya: “generasi bolong” yang tidak terlindungi
Sekarang mereka tumbuh, berinteraksi, dan virusnya menyebar 📈

Ditambah satu faktor lagi: misinformasi vaksin 📱
Narasi anti-vaksin yang menyebar saat pandemi meninggalkan jejak panjang. Dan akibatnya baru kita rasakan sekarang, bukan dalam bentuk angka, tapi dalam bentuk anak-anak yang dirawat di rumah sakit 😔

Saya paham kekhawatirannya.
Berhati-hati soal apa yang masuk ke tubuh itu wajar dan cerdas 🧠
Apalagi saat pandemi dulu, ada vaksin baru yang dikembangkan dalam waktu singkat; dan skeptisisme itu masuk akal untuk dipertanyakan
Tapi kita harus jujur membedakan: vaksin baru yang belum banyak data jangka panjang, dengan vaksin yang sudah puluhan tahun ada di tangan jutaan anak ⚖️

Vaksin campak pertama kali digunakan tahun 1963 💉
Lebih dari 60 tahun data keamanan
Lebih dari 1 miliar dosis diberikan di seluruh dunia
WHO menyebutnya salah satu intervensi kesehatan paling aman dan paling efektif yang pernah ada
Ini bukan vaksin baru. Ini bukan uji coba
Ini salah satu ilmu kedokteran yang paling matang yang kita punya 📊

Yang bisa kamu lakukan sekarang, hari ini 📋
→ Cek buku KIA anakmu: vaksin MR/MMR sudah lengkap?
→ Terlewat? Segera kejar di puskesmas: belum terlambat ✅
→ Dewasa yang tidak yakin sudah vaksin? Bisa vaksin ulang, aman
→ Ibu hamil tidak bisa vaksin MMR: tapi bisa segera setelah melahirkan 🤰

Dokter-dokter muda itu pergi dalam tugas. Mengabdi. Merawat orang lain. 🕊️
Cara terbaik menghormati kepergian mereka bukan hanya dengan duka, tapi memastikan hal ini tidak terulang 🙏
Vaksin bukan soal percaya atau tidak percaya.
Itu soal melindungi anak kamu, dan melindungi mereka yang dengan sepenuh hati merawatnya 🤍 “

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 komentar

  1. Ngapain juga kesel sama yg anti vaksin. urusan dia nggak mau divaksin. Elu yg jadi dokter, bener enggak kerja lu. Jangan nyalahin orang lain….

    1. udah tolol, kolot pulak pikiran lu, gara-gara anti vaksin, wabah yg seharusnya bisa dicegah malah menyebar parah, orang lain terkena dampaknya gara-gara keidiotan orang kek lu gitu

  2. Kalo dulu COVID ada di UDARA, setelah JOKIBUL Monetisasi Vaksin covid 19, kini COVID ada dalam aliran DARAH. Tahun 2022 – 2023 – 2024 – 2025 – 2026 belum pernah saya menyaksikan kematian orang-orang yang begitu masif di sekitaran kota saya akibat gagal jantung dan kematian mendadak. Acara tahlilan pernah terjadi 8 – 10 tempat sekaligus secara bersamaan (bakda isya) dan itu terjadi setiap hari, nyaris tak ada hari kosong dalam setahun. Hal ini tak pernah terjadi di tahun2 sebelumnya (pra 2019) meski tahun 2000an banyak juga virus ganas semisal SARS, Flu Spanyol, Flu Babi dll. CINA benar2 mendramatisasi Covid ini dgn membantai satu kota WUHAN jadi ajang eksperimen senjata biologis-nya. Eliminasi 60 juta orang itu keuntungan besar bagi Cina yang berpenduduk nyaris 1,3 Milyar jiwa.
    Tolong share komen apakah apa yang terjadi di kota saya juga terjadi di kota anda ??

  3. antiva itu suruh naik onta aja trus suruh gausah pakai internet sekalian, dongo betul biar kaya org india dah berobatnya minum pipis sapi, 11 12 primitif kek prindapan

  4. kalau vaksin yang benar harusnya buat obat 💊 bukan sebagai kelinci 🐰 percobaan mafia farmasi, kesehatan dan kedokteran ☤

  5. Masyarakat yg ANTIVAC selain tidak percaya dgn JOKIBUL, Juga didukung oleh banyak dokter ahli berpengalaman, jadi gerakan ANTIVAC bukanlah gerakan KALENG-KALENG. Dan itu terbukti sekarang dgn banyak orang mati akibat jantung di tiap kota, mau percaya atau tidak. Tes perdana senjata bio Covid 19 itu (sebelum bocor di Wuhan) adalah pada 900 petugas KPPS (potensi saksi kunci di MK). Makanya dokter yg ngadain VISUM (seizin keluarga) pada satu mayat KPPS itu tetap ditahan sampai sekarang (utk nutupi rahasia JOKIBUL). Vaksin yg usia kadaluarsa 2 tahun (dibeli 2020) tetap dipaksakan divaksinkan ke rakyat meski udah tahun ketiga (2022). Anak dibawah usia 13th dan Manula usia 60th (yg dilarang WHO untuk di-vaksin) tetap diwajibkan vaksin sebagai syarat izin perjalanan dan untuk peroleh Visa/Paspor.
    Dan sekarang orang-orang membayar resiko-nya dengan nyawa mereka yg cuma satu (tak dijual dipasar). KELAKUAN BEGO siapa ini (para penjilat bo’ol JOKIBUL) ?? Dengar2 kalo belio mencret (itu tak petlu air atau tissu) udah langsung bersih berkat jilatan penyembah2-nya semacam Kere kesot AF Aris Fu*k