Oleh: Dahlan Iskan
Kamis 23-07-2026
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Nanik mengungkapkan bahwa dirinya akan berangkat pada Rabu, 22 Juli 2026, untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan lanjutan.
“Jangan takut operasi jantung. Anda akan 10 tahun lebih muda,” itu nasihat saya untuk para penderita sakit jantung. Pun kepada Nanik S. Deyang, kemarin pagi, setelah dia mundur dari jabatan kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Saya lihat Deyang agak takut-takut operasi. Sampai akan ke luar negeri cari pilihan selain operasi.
“Di zaman sekarang ini operasi jantung sudah semudah khitan,” kata saya lagi. Tentu itu saya lebih-lebihkan agar dia tidak takut. Tapi sebenarnya memang begitu: para dokter Indonesia pun sudah sangat mahir melakukan operasi jantung.
Soal ”lebih muda 10 tahun” juga bukan teori saya. Itu pernah diucapkan Prof. Dr. B.J. Habibie setelah menjalani operasi jantung. Beberapa teman, yang sukses menjalani operasi jantung, juga merasa jauh lebih muda.
Saya tahu Deyang sudah lama mengidap tekanan darah tinggi. Kalau bicara juga ngos-ngosan. Dia tidak terlalu peduli dengan kesehatannyi. Cenderung sembrono. Dia sedikit dari wartawan yang sangat idealis mengikuti sikap mentornyi: Valens G. Doi, senior di Harian Kompas.
Bahwa dia pilih berobat ke luar negeri sebenarnya berlebihan. Tapi kalau itu menyangkut ketenangan jiwa, saya tidak akan ikut campur.
Saya hanya berpesan: “jangan hiraukan kecaman, sindiran, ejekan, dan cemoohan di medsos”.
Sebersih apa pun, publik tidak percaya kalau Anda bersih. Publik punya logika sendiri: seseorang yang hidup di dunia yang berlumuran oli tidak mungkin tidak terkena oli.
Maka nama Deyang jadi bulan-bulanan di medsos. Sampai ada yang mengecam caranyi mundur.
“Kok lewat medsos. Lewat Facebook pribadi. Isinya cengengesan pula”.
Maka, kata saya, lain kali kalau Anda mundur lagi jangan lewat medsos. Gak usahlah menjelaskan alasan mengapa mundur. Cukup kalau sudah mengajukannya ke presiden dan sudah disetujui. Kalau pun punya alasan tertentu cukup diberitahukan ke presiden.
Rasanya Anda memang tidak cocok menjadi birokrat –apalagi menjadi orang nomor satu di lembaga setingkat menteri. Pekerjaan paling cocok untuk Anda, ya, jadi wartawan seperti dulu. Tapi profesi wartawan pun sekarang sudah berubah. Maka, sebagai ganti, Anda sebaiknya jadi oposisi –seperti yang Anda lakukan di era Presiden Jokowi menjelang periode kedua.
Waktu itu Anda begitu enteng berubah sikap: dari pendukung all out Jokowi menjadi anti-Jokowi.
Tapi saya juga tahu Anda sangat cocok dengan Prabowo: tidak mungkin jadi oposisi. Terutama Anda satu pemikiran dalam program ”memihak rakyat” –meski hati Anda berontak kok pelaksanaannya banyak terjadi penyelewengan. Itu membuat Anda ingin jadi oposisi tapi sulit bersikap oposisi kepada Prabowo.
Akhirnya saya anjurkan saja di sini: begitu dokter di luar negeri juga memutuskan Anda harus operasi: pulanglah. Jalani operasi itu di RS Pertamina yang Anda jadi komisaris di induk perusahaan itu. Nyawa itu hanya titipan. Bisa diambil yang titip kapan saja dan di mana pun.
Beda dengan saya: saya berobat ke RS Madinah karena jatuh sakitnya saat umrah bersama keluarga. Lalu saya batal umrah untuk berobat di Surabaya. Begitu mendarat dari Madinah saya langsung ke RS National Hospital. Tiga hari opname di situ: tidak ditemukan sakit apa.
Setelah ke Singapura baru ditemukan: aorta dissection. Pembulah darah utama saya pecah. Sepanjang setengah meter. Untung tidak meninggal dalam penerbangan Madinah-Surabaya. Atau dalam penerbangan Surabaya-Singapura.
Itu sekaligus menunjukkan ”wajah lain” dokter Indonesia: tidak mau buru-buru minta pasien di CT Scan. Kasihan pasien. Sekali CT Scan bisa habis Rp 7,5 juta. Dokter Indonesia terlalu memikirkan keuangan pasiennya. Padahal kalau langsung di-CT Scan akan ketahuan saat itu juga: aorta dissection.
Singapura menemukan penyakit saya bukan karena dokternya lebih ahli. Tapi karena dokternya memutuskan langsung CT Scan. Tidak perlu memikirkan mahal atau tidak. Tidak pakai prosedur bertahap –kalau tidak ditemukan baru diminta CT Scan.
Ketika berobat ke luar negeri pasien Indonesia tidak akan keberatan ditagih berapa pun. Paling hanya ngomel di dalam hati. Hasilnya: banyak pasien merasa berobat di luar negeri lebih hebat: cepat ketahuan penyakitnya dan cepat ditangani. Akhirnya muncul citra tingkat keberhasilan berobat di luar negeri tinggi. Padahal itu terkait langsung dengan ”keberanian” dokter melakukan tindakan ”mahal” di awal pemeriksaan. Bukan karena lebih pintar.
Mungkin dokter Indonesia sudah waktunya berubah: lebih berani melakukan pemeriksaan awal dengan alat yang lebih canggih (baca: mahal). Dari pada seperti selama ini: pemeriksaan dilakukan secara bertahap dimulai dari sangat awal, pakai stetoskop. Dicoba diberi obat. Kalau tidak sembuh baru disuruh ke lab. Periksa darah. Kalau tidak berhasil juga baru CT Scan.
Akibatnya nama dokter di Indonesia dianggap kurang bermutu dibanding di luar negeri.
Pendapat saya seperti itu saya sampaikan terbuka ketika diminta sebagai pembicara di seminar besar para dokter ahli jantung pekan lalu. Di Jakarta. Lebih 1000 ahli jantung anggota Perki (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia) hadir.
Dari lima pembicara hanya saya yang bukan dokter: Dirut BPJS Kesehatan dr Prihati Pujowaskito, Ketua PERKI dr Ade Meidian Ambari, Ketua Dewan Etik PERKI dr Munawar, Ketua Kolegium Jantung dr Renan Sukmawan. Wartawan senior Desi Anwar jadi moderator.
—
Di forum itu saya juga mengajukan usul: agar larangan dokter Indonesia mengiklankan diri dicabut. Akibat larangan itu publik tidak tahu siapa saja dokter hebat di Indonesia. Tidak tahu juga seberapa banyak pasien yang sembuh di tangan mereka. Padahal, di luar negeri dokter berlomba menonjolkan diri atas kemampuan khusus mereka. Nama-nama dokter hebat di Indonesia hanya beredar dari mulut ke telinga.
Perbanyaklah ”iklan” success story pasien ketika ditangani dokter Indonesia. Dari situ akan muncul rasa percaya pada publik. Sehingga orang seperti Nanik S. Deyang pun bisa merasa pede menjalani operasi jantung di dalam negeri.
(Dahlan Iskan)
https://disway.id/catatan-harian-dahlan/958693/sakit-jantung







Yg jadi masalah dinegeri kita Indonesia alat kesehatan yg merupakan barang import dibea cukai dikenakan pajak masuk sebagai barang mewah. Tentu donk para penjual atau distributor yg jual alkes tsb juga cari untung rata rata 35% buat biaya operasional (gaji pegawai, bayar listrik air,atk, telepon dll). Lalu pilih hak rumah sakit kuga sama donk. Imbasnya pasien ug terkena imbas untuk biaya bertobat ke RS. Harusnya dibenahi pola seperti itu. Terutama untuk barang barang alkes yg import itu. Klo mau murah ya kita produksi didalam negeri.
berhenti tapi mau jd pengawas 🤣🤣🤣🤣
dasar unyil