BGN dan Arem-arem Basi

✍️Made Supriatma

Hari ini Sudaryono diangkat menjadi Kepala BGN (Badan Gizi Nasional). Dia menggantikan Nanik S. Deyang yang sakit dan harus berobat keluar negeri. Nanik kabarnya mengidap jantung dan tekanan pekerjaan sebagai kepala BGN rupanya membuat penyakitnya kambuh. Banyak spekulasi yang muncul tentang mundurnya Nanik yang baru menjabat dua bulan itu. Tapi sudahlah. Itu masa yang sudah lewat.

Kini Badan Gizi Nasional dipimpin oleh Sudaryono. Lengkapnya, Dr. Sudaryono, B.Eng, M.M. MBA). Ia lahir di Grobogan, Jawa Tengah, pada 1985. Dia berasal dari keluarga petani. Pada tahun 2000, dia memperoleh beasiswa untuk belajar di sekolah elit Indonesia, SMA Taruna Nusantara (TN 11). Dia menjadi lulusan terbaik pada 2003. Sudaryono saat ini berusia 41 tahun. Masih sangat muda dan prospek politiknya akan semakin berkembang di bawah kepak sayap patronnya, Prabowo Subianto.

Sudaryono adalah orang yang sangat dikenal oleh Prabowo Subianto. Dia pernah menjadi asisten pribadi Prabowo dan tinggal bersamanya di Hambalang. Ia adalah apa yang dikenal sebagai salah satu “Jedi” Prabowo — sebutan untuk para kesatria dalam film Star Wars.

Ada sebuah cerita yang sangat menarik dalam perjalanan karir Sudaryono. Itu dia ceritakan dalam sebuah siniar (podcast). Ketika lulus dai SMA TN, dia melamar ke Akademi Militer (Akmil). Sebagai lulusan terbaik dari SMA TN, pilihan masuk Akmil menjadi sangat wajar. SMA TN adalah sekolah semi militer. Lagipula, letak SMA TN dan Akmil berdekatan.

Namun Sudaryono gagal masuk ke Akmil. Ketika hendak melakukan tes, dia berangkat dari Grobogan ke Jakarta dengan naik bus. Di Terminal Pulo Gadung, dia lapar dan beli tiga Arem-arem. Ini adalah penganan dari nasi yang bungkus daun pisang lalu direbus. Isinya bisa daging, bisa sayuran. Sebagian besar Arem-arem juga di-aru (aron) dengan santan.

Rupanya Arem-arem yang dimakan oleh Sudaryono ternyata sudah basi. Ia terkena sakit tipus dan akhirnya gagal dalam tes Akmil. Di siniar tersebut dia mengaku menangis tiga hari tiga malam dan menyesali kegagalannya dalam tes Akmil tersebut.

Kegagalan itu terdengar oleh Sugiono, kakak kelasnyanya di SMA TN. Sugiono, yang sekarang menjadi Menteri Luar Negeri itu, rupanya sudah terlebih dahulu dekat dengan Prabowo. Dia pun membawa Sudaryono ke Prabowo. Oleh Prabowo, Sudaryono diberitahu bahwa mengabdi negara tidak harus dengan menjadi tentara.

Sudaryono akhirnya diberikan beasiswa ke Jepang. Dia bersekolah di Akademi Pertahanan Nasional Jepang dalam bidang teknik mesin dan lulus meraih gelar Bachelor of Engineering pada 2009. Dalam siniar yang sama, Sudaryono mengaku bahwa pada 2010, setelah sekolah di Jepang, dia “nyantrik” pada seorang “kiai besar” yang bernama Prabowo Subianto. Dia tinggal di Hambalang selama lima tahun (hingga 2015). Prabowo mengajarinya bisnis dan politik.

Sudaryono mengelola beberapa perusahan Prabowo. Dia menjadi Corporate Secretary di Nusantara Energy. Juga pernah menjadi CEO di Garuda TV dan PT Nusantara Telematics System. Terakhir dia menjadi chairman dari PT PT Sahabat Sejati Sejahtera Farma, sebuah perusahan obat-obatan tradisional.

Karir politiknya pun melesat. Pertama dia memimpin organisasi sayap Partai Gerindra seperti Persatuan Pedagang Pasar Tradisional. Kemudian, menjelang Pilpres 2024, dia menjadi ketua DPD Partai Gerindra di Jawa Tengah.

Sebenarnya, dia digadang-gadang oleh partainya menjadi calon gubernur Jawa Tengah pada Pilkada 2024. Poster bergambar wajahnya sempat beredar dimana-mana. Namun, beberapa bulan menjelang Pilkada, Jokowi mengangkatnya menjadi wakil menteri pertanian, jabatan yang pegangnya sampai dia diangkat menjadi Ketua BGN. Jokowi tampaknya sudah mempersiapkan calon lain untuk gubernur Jawa Tengah, yakni Ahmad Luthfie, yang saat itu menjadi Kapolda Jawa Tengah. Luthfie berjasa memenangkan Prabowo-Gibran di Jawa Tengah.

Jabatan Ketua BGN, sebuah jabatan tingkat kabinet, tentu sebuah lompatan meteorik untuk Sudaryono. Jika saja Sudaryono masuk Akmil pada 2003 dan lulus pada 2006, saat ini dia mungkin baru berpangkat Mayor atau Letkol. Belum ada lulusan Akmil 2006 yang menjadi Kolonel.

(Tapi mengapa Teddy Indra Wijaya, yang lulus SMA TN pada 2007 dan Akmil 2011 sudah menjadi Letkol? Untuk hal itu, tanyakan langsung pada Prabowo Subianto saja.)

Sudaryono akan mengelola sebuah pos dengan dana terbesar dari APBN. Ia juga harus menavigasi berbagai jaringan rumit yang diciptakan oleh program MBG ini, yang desainnya sanga rentan berbelok menjadi rente ekonomi ketimbang sebuah program gizi itu.

MBG dalam bentuknya yang sekarang adalah program dengan belanja uang rakyat yang dilakukan lewat kontraktor swasta. Komunitas dan para stake holder akar rumput sama sekali tidak dilibatkan.

Ditambah lagi, negara tidak memiliki ruang fiskal yang cukup lebar saat ini untuk membeayai program belanja (belanja! bukan pendapatan) sebesar MBG. Akibatnya, program ini sempat dihentikan saat liburan sekolah, yang mengakibatkan protes dari para pemilik SPPG.

Sudaryono akan menghadapi masalah yang lebih pelik karena desain kebijakan MBG yang dirancang oleh Dadan Hindayana (yang sekarang ditahan dengan tuduhan korupsi itu). Para pemilik SPPG sebagian besar adalah sekutu politik yang ada dalam koalisi Prabowo. Program ini, sekalipun dinarasikan sebagai program gizi, ia tampak lebih sebagai program politik — distribusi kekayaan untuk modal politik.

Jelas, para pemilik SPPG tidak mau rugi. Mereka tidak ingin program ini ditutup atau dikurangi dananya. Karena mereka adalah kontraktor swasta maka yang pertama-tama dilakukan adalah keuntungan sebesar-besarnya.

Ada ironi yang sangat getir yang bisa ditangkap disini. Karir militer Sudaryono gagal karena dia keracunan Arem-arem basi. Sementara program yang dia pimpin sekarang sudah meracuni puluhan ribu anak-anak — dan bahkan sampai sekarang masih ada.

Sudaryono malah memiliki karir cemerlang akibat arem-arem basi itu. Dia bertemu dengan Prabowo Subianto, yang menjadi patron yang membawanya hingga ke karir yang sekarang. Bukan tidak mungkin, Sudaryono mungkin akan menggantikan Prabowo di masa depan.

Sebagai politisi, Sudaryono cukup mumpuni. Dia pintar omong, dengan suara baritonnya, dan logat ngapak-nya masih terlihat tipis. Namun kemampuannya belum teruji. Dia bahkan belum teruji di tingkat Jawa Tengah.

Namun pemilihan Sudaryono ini juga menceritakan sesuatu pada pemerintahan Prabowo. Agaknya Prabowo harus menghadapi realitas bahwa dia tidak lagi memiliki orang-orang yang punya kemampuan yang cukup untuk membantunya. Sifat utama Prabowo adalah tidak percaya pada apa yang ada. Dia menghalau para teknokrat dan birokrat profesional. Dia jelas tidak percaya pada teknokrat, birokrat, akademisi. Tapi percaya betul pada orang-orang didikan militer atau yang militeristik.

Dadan Hindayana dan Nanik S. Deyang adalah orang-orang pilihannya. Mereka semua adalah orang-orang sipil — yang gagal memenuhi ekspektasi Prabowo. Jelas kedua orang ini bukan representasi orang sipil.

Sekarang pilihan Prabowo adalah salah seorang yang hyper-loyal pada dirinya. Seorang yang mendudukkan dirinya sebagai patron terpenting dalam hidupnya. Tampaknya, pilihan Prabowo makin terbatas.

Mampukah Sudaryono memenuhi ekspektasi Prabowo? Ataukah dia hanya akan seperti Sugiono, menteri luar negeri yang adalah juga salah satu Jedi dan Hambalang Boys, yang kedodoran dalam menjalankan jabatannya? Seperti Sugiono, problem terbesar Sudaryono bisa jadi adalah Prabowo sendiri. Yang karakter demagognya membuat ekonomi Indonesia terjerumus ke dalam krisis seperti sekarang ini?

Mampukah Sudaryono, yang karirnya terbangun dari Arem-arem basi itu, mencegah keracunan MBG yang diderita puluhan ribu anak-anak Indonesia?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. NAHH….. LHOO…..

    keracunan arem arem mempunyai jalan panjang dari masyarakat bawah menuju masyarakat elite. secerdas apapun Sudaryono, sepintar apapun Sudaryono, sehebat apapun Sudaryono akan dinilai berhasil jika dapat memutar balikkan mindset ndase nye nye yang sudah terlanjur emang gua pikirin.

    terakhir, semoga arem arem bisa menjadi marem marem bagi segenap tumpah darah rakyat Indonesia tercinta. rakyat bahagia dan Indonesia ceria bisa melakukan GULING GULING kembali 🙃🤫