Raja Namah Benu vs Jokowi, Mana Raja Sesungguhnya di Timor?

Oleh: Ahmad Arif

Raja Namah Benu (tengah berpenutup kepala) bisa dibilang 100% berkebalikan dengan Jokowi selama menjadi Presiden. Saya beberapa kali datang dan menemuinya sejak 10 tahun lalu.

Namah Benu merupakan pemimpin di wilayah adat Boti, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Bukan seluruh Timor, hanya di Boti.

Dia masih menjalankan kepercayaan lama, Halaika, yang menghormati Uis Pah (Bumi) yang menjaga alam dan Uis Neno (Langit) yang akan membalas perbuatan manusia. Mereka menghormati leluhur yang menjaga hutan, mata air, sungai, batu, dan pohon.

Aturan adat Boti sangat ketat menjaga lingkungan dengan melarang menebang pohon tanpa kebutuhan mendesak, dan wajib menanam lebih banyak dari yang ditebang. Setiap musim hujan menanam pohon di hutan keramat (Faen Mate). Ritual menjaga mata air (Tpnat Oematan) dan larangan keras memakai bahan kimia (untuk mandi, mencuci, maupun bercocok tanam). Mereka membuat sendiri sabun dan sampo untuk mencuci rambut. Bahkan, hampir seluruh kebutuhan hidup, dihasilkan sendiri.

Hampir seluruh kebutuhan hidup orang Boti dipenuhi dari hasil alam mereka. Dengan menjalankan prinsip ”menanam apa yang dimakan, makan yang ditanam”, orang Boti pantang menerima bantuan beras dari luar. Maka, Usif (Raja) Boti, Namah Benu, tegas menolak bantuan beras pemerintah. Raja Boti telah menemui pemerintah desa setempat meminta agar mereka dikeluarkan dari daftar keluarga miskin yang ditetapkan sepihak oleh pemerintah.

Meskipun tinggal di daerah berbukit kapur yang sangat kering (musim hujan hanya 2–3 bulan), Boti mandiri pangan dan tidak kekurangan air. Tidak ada kasus stunting di Boti, padahal Kabupaten Timor Tengah Selatan punya angka stunting sangat tinggi (45% pada 2022).

”Alam telah memberi makan. Kami tidak butuh bantuan, karena itu hanya untuk pencuri,” demikian kalimat yang kerap diucapkan Usif. Di Boti, mereka yang mencuri ayam hukumannya adalah dengan diberi bantuan ayam, dan itu dianggap sangat memalukan.

Selama beberapa kali datang ke Boti, saya sering melihat Usif yang bekerja sebagaimana orang biasa. Dia ke ladang, bahkan paling depan saat membersihkan jalan. Prinsipnya, pemimpin harus di depan saat kerja, paling belakangan saat makan. Sikap Raja Boti yang sederhana, bekerja bersama rakyat, dan mendahulukan orang lain, bukan keluarganya sendiri, sangat kontras bukan dengan perilaku pemimpin politik saat ini?

Jadi, siapa raja yang asli?

Bisa baca artikel saya terkait Usif ini di sini:

https://www.kompas.id/artikel/umat-penambang-belajarlah-dari-boti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. ada raja jadi jadian
    ada ojol jadi jadian
    ada presiden jadi jadian
    ada besti jadi jadian

    dunia ini… panggung sandiwara
    semuanya jadi…. jadian…. 🤪