Perbedaan Gaya Pencitraan KDM dan Anies
KDM memproduksi konten membantu orang-orang miskin penjual cobek, penjaja tisu, OJOL perempuan single parent dan semacamnya, yg mana penyajiannya begitu dramatis. Diiringi backsound yang menyentuh, mimik muka yang mengesankan penuh empati dan jiwa mengayomi, ditambah lelehan air mata penuh kesedihan yang kemudian berganti kebahagiaan tatkala lembaran-lembaran rupiah berpindah ke tangan para pejuang rupiah tersebut.
Sementara Pak Anies merintis program pembangunan jembatan di berbagai daerah pelosok. Bagi yg berfikir rasional, program ini keren banget. Dengan jembatan tersebut, dua desa yang terisolir pun terhubung. Beratus orang terbantu. Denyut perekonomian pun terdongkrak. Tetesan-tetesan liter bensin di tangki motor bisa dihemat lantaran tak perlu memutar jauh untuk menuju desa sebelah atau pusat kecamatan.
Tapi dari dua model ‘pencitraan’ di atas, manakah yang lebih memberi efek bombastis, manakah yang lebih meninggalkan jejak emosional dan menyentuh perasaan?
Survei membuktikan pemilih Indonesia lebih dominan bertindak berdasarkan dorongan emosional ketimbang rasional.







kdm ini 11 12 ama jokibul, emang aja rakyat indon bodoh2 gampang dikibulin hadeh