Perbedaan Gaya Pencitraan KDM dan Anies

KDM memproduksi konten membantu orang-orang miskin penjual cobek, penjaja tisu, OJOL perempuan single parent dan semacamnya, yg mana penyajiannya begitu dramatis. Diiringi backsound yang menyentuh, mimik muka yang mengesankan penuh empati dan jiwa mengayomi, ditambah lelehan air mata penuh kesedihan yang kemudian berganti kebahagiaan tatkala lembaran-lembaran rupiah berpindah ke tangan para pejuang rupiah tersebut.

Sementara Pak Anies merintis program pembangunan jembatan di berbagai daerah pelosok. Bagi yg berfikir rasional, program ini keren banget. Dengan jembatan tersebut, dua desa yang terisolir pun terhubung. Beratus orang terbantu. Denyut perekonomian pun terdongkrak. Tetesan-tetesan liter bensin di tangki motor bisa dihemat lantaran tak perlu memutar jauh untuk menuju desa sebelah atau pusat kecamatan.

Tapi dari dua model ‘pencitraan’ di atas, manakah yang lebih memberi efek bombastis, manakah yang lebih meninggalkan jejak emosional dan menyentuh perasaan?

Survei membuktikan pemilih Indonesia lebih dominan bertindak berdasarkan dorongan emosional ketimbang rasional.

(Ary Gumintang Aliet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

22 komentar

  1. Dorongan emosional itulah yang bikin Indonesia nggak akan maju2. Rakyat gampang nrima amplop dan hal ini yang dipelihara sama penyamun2.

  2. waspada…Mulyono jilid dua sedang mau di blow up nih…
    dia kemaren bikin hajatan kawinan anaknya ada 2 warga nya yg meninggal korban berebut makanan tapi tdk di usut parcok

  3. KDM dengan team kreatif lengkap yg jeli dimulai dari sambil memanfaatkan momentum jabatannya sebagai bupati Purwakarta, menyasar pasar viewers yang lebih mengena dimulai dulu dari akar rumput warga polos Jabar penggemar sinetron TV yang ga ngerti apa itu gimick, banyakin konten heroik capture dramatisasi -nya, copy paste konten nolong orang kesusahan atau yang kena musibah apalagi yg viral gercep turun biar di luar Jabar pun, dan hasil jerih payahnya itu sukses buat seluruh rakyat ber- literasi rendah di luar Jabar ikut tersihir.

  4. Padahal memilih hasil pencitraan itu bertentangan dengan amanah yang menuntut bukti nyata dari sifat jujur dan tanggung jawab, bukan retorika atau polesan pencitraan, kalau pun nanti dia kepilih dari hasil pencitraan ternyata semua kebaikannya itu palsu, ahlak aslinya baru ketauan contoh si owi….., apalagi milih karena joget badut konyolnya terbukti sekarang kan lebih parah malah makin ancur ancuran tiap bacot nge-mik selalu bikin nyesek….

  5. hrs diakui kdm lebih pintar. dia tahu pasti kebanyakan rakyat indonesia iQ nya msh dibawah rata2. msh byk yg terpesona dgn pencitraan. msh byk yg hidupnya susah. bagi dia cara2nya jokowi msh relevan utk menarik simpati. dia lgsg ke rakyat terbawah dan tim media nya bekerja. seakan2 dia super hero. inilah negara keledai.