Pendukung militan Prabowo minta MBG stop dulu, bikin kajian komprehensif

Oleh: Azwar Siregar (pendukung militan Prabowo)

Saya bukan tidak setuju dengan MBG. MBG itu program yang sangat bagus. Di beberapa kondisi malah bagian dari Kewajiban Negara berdasarkan undang-undang!

Pasal 34 ayat 1 UUD 1945 menyatakan dengan jelas dan tegas “Fakir Miskin dan Anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”.

Artinya Negara dalam hal ini Pemerintah sebagai Operator Negara berkewajiban memberikan hak-hak dasar kepada warga negara yang tidak mampu.

Makanan atau memberi makan adalah hal paling mendasar dari setiap orang. Selanjutnya sandang dan papan- kalau ngga salah kita menyebutnya kebutuhan primer.

Permasalahannya, MBG lebih sering tidak tepat sasaran.

Konsep MBG memberi makanan bergizi untuk anak-anak sekolah. Tapi banyak makanan-makanan tersebut terbuang sia-sia karena tidak dimakan.

Berarti Masalahnya sangat jelas. Tidak tepat sasaran!

Saya yakin 50 persen anak-anak Sekolah kita sangat bahagia dengan adanya MBG. Tapi ada 50 persen lagi yang tidak perduli dengan ada atau tidak adanya MBG.

Nah, 50 persen inilah yang saya anggap salah sasaran.

Masalah utamanya, Negara kita belum pada posisi bebas menghambur-hamburkan uang. Wong hutang Pemerintah aja masih menumpuk kok.

Mirisnya lagi, sampai detik ini, kesejahteraan Guru-guru terutama para guru honorer belum ada perbaikan sama sekali.

Andai saja dana MBG yang salah sasaran tadi dialihkan buat kesejahteraan para Guru, khususnya Guru Honorer, apa ngga makin berkah dan membaik kualitas Pendidikan bangsa kita.

Anak-anak sekolah yang lapar sudah pasti tidak mampu konsentrasi belajar. Tapi Guru yang juga lapar atau pusing karena kebutuhan mendasarnya tidak tercukupi akan membuatnya tidak bisa konsentrasi mengajar.

Win-win solutionnya ya sederhana. Tetap berikan MBG kepada yang membutuhkan, dan alihkan sebagian dananya buat Fasilitas Pendidikan termasuk perbaikan Guru yang mengajar.

Betul-betul paradoks melihat Gedung-gedung Sekolah yang hampir rubuh, di seberangnya Gedung MBG nya berdiri megah.

Sangat miris melihat makanan MBG yang menumpuk terbuang, di sisi lain masih banyak guru-guru honorer cuma terima gaji dibawah 1 juta perbulan. Bahkan ada yang cuma 200 ribuan.

Dunia pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Indikatornya sederhana. Kesejahteraan Guru khususnya Guru Honorer termasuk P3K. Selama gaji tukang cuci omprengan MBG lebih tinggi dari Gaji Guru Honorer, berarti ada yang salah dengan Dunia Pendidikan kita.

Selanjutnya Dunia Pendidikan kita dari SD sampai SMA di atas kertas memang gratis. Tapi sebenarnya banyak biaya siluman.

Kalau berbicara Perguruan Tinggi, yassalam…

Perguruan Tinggi kita, khususnya yang PTN, Sejak berbentuk Badan Usaha, benar-benar udah mirip Perusahaan sekarang. Benar-benar murni bisnis.

Anak lulus Perguruan Tinggi, jangan senang dulu. Bayar UKT mungkin sanggup, tapi siap-siap ambil Pinjaman ke Bank buat bayar IPI atau uang pangkalnya. Jumlahnya bisa belasan sampai ratusan juta!

Saran saya Perguruan Tinggu Negeri kita se Indonesia diswastakan saja. Percuma pakai embel-embel Negeri tapi lebih kemaruk dari Swasta.

Saya bahkan sampai kepikiran untuk menguliahkan anak ke Malaysia saja. Saya hitung-hitung biaya Kuliahnya jauh lebih murah. Masalahnya Rupiah nilainya terus menurun. Jadi mahal di biaya hidup gara-gara nilai rupiah seperti sampah.

Apa ngga semakin mumet kita, semua terasa mencekik, eh, ada Jaksa punya Brankas yang menyimpan emas puluhan kilo dan ratusan miliar uang.

Para Pejabat sudah hidup enak. Semakin enak bisa rangkap-rangkap jabatan. Punya lagi Dapur-dapur MBG yang jelas cuan karena keuntungannya dijamin negara.

Jangan-jangan gara-gara Dapur MBG banyak dimiliki para Pejabat makanya proyek terus berjalan tanpa perduli menunya dimakan atau dibuang?

Coba lebih serius lah dibenahi MBGnya. Bila perlu stop dululah sementara. Bikin kajian yang komprehensif dan libatkan Akademisi. Jangan malah libatkan TNI dan Polisi.

Kita ngga salah pilih Presidenkan…. ?

fb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 komentar

  1. NAHH…… LHOO…….

    pendukung militan bersuara positif dan cerdas, beda kelas dengan pendukung yang ono……

    ayoo gelar tikar menyaksikan suara pendukung militan apakah disetujui oleh ndase gemoy. seruput secangkir kopi and konco²ne sudah tersaji, jangan lupa bisa sembari GULING GULING 🙃🤫

  2. agak miris lihatnya, tp jd bertanya2 apakah didikan sekolah umum sekuler lebih baik dalam hal mengajarkan moral dan penghormatan daripada sekolah agama? atau sebaliknya?atau sama aja? sekedar bertanya, tentu semua paham perilaku tabzir

  3. Pendukung militan? Wkk, cuma copy paste dr yg lain gitu dibilang sdh plg heroik mengkritisi prabowo? Kata RG sih, salah memilih itu sial, bertahan dg pilihan yg salah itu t*l*l … silakan nilai sendiri bubg AS ini termasuk yg mana?

  4. kamu yg nulis & RT 58% jelas salah pilih presiden lah,
    udah tahu orang tua, wes pikun, halu
    wakilnya oon, plenger, kayak orang nyandu ijasah punya / gak juga belum pasti > di pilih> ya ini hasilnya AMBURADUL & AMBYAAAARRRR