Negara yang Takut pada Sains

Negara terbelakang bukan selalu negara yang kekurangan ilmuwan. Kadang ilmuwannya banyak, tetapi peringatannya dianggap menakut-nakuti

BMKG sudah berkali-kali memperingatkan risiko El Niño dan kemarau kering 2026. Tetapi sains seharusnya tidak berhenti menjadi ramalan cuaca. Ia harus diterjemahkan menjadi risk management: air, patroli, pengelolaan gambut, pesawat pemadam, sensor, radar dan kesiapan daerah.

Kita pernah mempunyai pengalaman yang lebih ironis. Dwikorita Karnawati, profesor geologi dan mantan Kepala BMKG, menceritakan bagaimana informasi potensi megathrust membuat BMKG sampai berurusan dengan kepolisian karena dianggap menimbulkan keresahan. Lucu. Gempanya belum datang, ilmuwannya dijadikan pesakitan dengan tuduhan meresahkan masyarakat. Padahal ilmuwan tidak mengatakan gempa akan datang Selasa pukul dua siang. Mereka mengatakan risikonya ada, maka bersiaplah. Seperti dokter mengatakan kolesterol tinggi: bukan berarti besok pasti kena serangan jantung, tetapi jangan menunggu masuk ICU baru mengubah pola hidup.

Ironi berikutnya adalah anggaran

Pada 2025 BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) terkena efisiensi besar. Untuk 2027, BMKG menyebut kebutuhan Renstra sekitar Rp4,649 triliun, sementara pagunya hanya sekitar Rp2,523 triliun.

Padahal mereka membutuhkan radar, observasi laut, satelit, early warning system dan pemeliharaan ribuan perangkat. Misal untuk kebakaran, dunia bahkan mempunyai alat yang jauh kurang gagah: water bomber seperti Canadair CL-415 yang memang dirancang mengambil sekitar 6.000 liter air dan menjatuhkannya ke titik api. Kita engga punya.

Indonesia berada di Ring of Fire dan menghadapi gempa, tsunami, gunung api, banjir, longsor, kekeringan serta karhutla. Karena itu radar BMKG, sensor gempa, satelit cuaca dan sistem peringatan dini sebenarnya juga alat pertahanan negara. Bedanya, alutsista menjaga kita dari musuh yang mungkin datang. Mitigasi bencana menjaga kita dari musuh yang kita tahu pasti akan datang—kita hanya tidak tahu tanggalnya.

Kalau ilmuwan sudah memperingatkan, radar sudah membaca, tetapi negara tetap terlambat bertindak, jangan semua kerugian kemudian disebut takdir. Sebagiannya adalah tagihan dari sains yang kita abaikan. Dan seperti biasa, yang membayar tagihan itu bukan pejabat, tapi RAKYAT!

(Erizeli Jely Bandaro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 komentar

  1. biasanya kan org tu ada yg pro sains tp antipati agama, atau pro agama agak skeptis ama sains. nah yg jempolan dan layak diteladani tuh kalo org pro sains plus agamis. bowo ini udah kaga pro sains, agamis jg kaga

  2. kalo pro sains gak mungkin budaya gurun gersang malah disenangi dan dipraktekkan sama kadrun2 di mari, budaya gurun kan jauh dari ilmu pengetahuan , paham drun?

    1. gurunnya tak hanya di Arab dan afrika utara, terwo. berarti kau, secara tak langsung, menghinacbanyak sekali negara gurun pasir di dunia, dong? paham, tidak, terwo?

    2. padahal justru krn Islam yg awalnya diturunkan di tengah² masyarakat gurun itulah muncul perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan, di kala eropa sedang dlm masa dark ages

    3. @Judi belingham
      punya akses perpus nya Vatikan ga bang..!? jgn kaget klo nemu kitab² science yg scientist nya trnyata adlh muslim.. nama mreka biasanya “samar” coz dah dilatinkan..!!

  3. Terwo Termul sebenarnya peradaban dimulai dari Islam dan gurun
    Tentang perampokan besar- besaran ilmu Sains Arab dari Granada Spanyol diangkut tentara Salib ke Eropa
    Tapi tugas mereka kan, Terwo Termul dibayari utk tujuan Pemutar Balikkan Fakta