✍️Malika DA
Bahlil ini lagi-lagi keluar dengan gaya khasnya: omong besar alias nggedabrus, seolah Indonesia sedang pegang kartu As di meja poker Asia Tenggara. Wacana “menghentikan pasokan gas ke Singapura dan Malaysia” dilontarkan dengan nada seolah kita sedang mengancam tetangga yang ketergantungan total. Padahal, jika dilihat lebih dekat, ancaman itu mirip kek orang yang bilang “ehh gue tutup kran air nih, awas lu ye bakalan kekeringan” tapi sendirinya masih nombok beli air galon dari tetangga yang sama.
Realitasnya, kontrak gas mentah ke Singapura memang akan habis di penghujung 2028. Ini faktanya. Namun ada fakta lain yang lebih menyakitkan, apa itu? Ternyata gas kita cuma menyumbang 20–25% kebutuhan listrik mereka. Sisanya? Dari Malaysia 20%, dan yang lebih besar lagi—55–60%—datang dari AS, Timur Tengah, dan Angola. Jadi jika Bahlil benar-benar memutus aliran, Singapura paling-paling cuma perlu sedikit mengatur ulang jadwal kapal tanker. Mereka sudah terbiasa diversifikasi. Lha kita? Belum tentu.
Sementara di rumah sendiri, 62% kebutuhan BBM dalam negeri masih kita impor dari Singapura lewat kontrak jangka pendek yang diperpanjang tiap enam bulan sampai setahun. Lalu 35% lagi dari Malaysia. Artinya, sambil mengancam memutus gas, kita masih rajin antri di pintu belakang mereka untuk beli bensin dan solar. What a hilarious 😂 Benar-benar membagongkan to? Seperti orang yang marah-marah di depan toko tetangga, tapi malam harinya diam-diam ngutang beras.
Lucunya, kreditur (pemberi UTANG) terbesar Indonesia masih Singapura. Nomor dua Amerika, nomor tiganya China. Jadi sambil menggertak, kita masih berhutang ke pihak yang digertak. Ini jelas bukanlah strategi geopolitik. Tapi lebih mirip drama biar gengsinya terangkat.
Kalau ancaman itu dimaksudkan sebagai bargaining chip menjelang 2028, setidaknya sampaikan dengan perhitungan yang jernih:
- seberapa besar ketergantungan mereka
- seberapa besar ketergantungan kita, dan
- seberapa cepat kita bisa mengganti pasokan BBM yang selama ini datang dari mereka.
Tapi yang keluar justru nada sok jagoan yang seolah lupa bahwa rantai pasok energi kita masih saling kait-mengait dengan Singapura.
Singkatnya, sikap Bahlil ini kurang lebih seperti orang yang berdiri di atas rakit bocor sambil berteriak ke kapal besar di seberang: “Hati-hati, gue bisa tenggelamin kalian!” Padahal yang lebih dulu basah kuyup dan tenggelam justru dirinya sendiri.
Jadi apa beda Bahlul dengan Bahlil?








JAZAKALLAHU KHAIRAN…. TERIMAKASIH BAPAK PRESIDEN PRABOWO YANG TELAH MENGGANTI KAPOLRI KAFIR PILIHAN JOKOPLAK DENGAN BAPAK KAPOLRI YANG MUSLIM… ALHAMDULILLAH…
bahlul dan bahlil pada dasarnya sama, seperti saudara kembar. cuma yang bahlil agak lebih ancur aja,
buzzer negri sebelah cemassss
negara miskin sok jago….diusir tki baru tau…