Narasi “Pemimpin Zalim Cerminan Rakyat” = MENYESATKAN

𝐍𝐚𝐫𝐚𝐬𝐒 “𝐏𝐞𝐦𝐒𝐦𝐩𝐒𝐧 𝐙̣𝐨̄π₯𝐒𝐦 π‚πžπ«π¦π’π§πšπ§ π‘πšπ€π²πšπ­” = 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐞𝐬𝐚𝐭𝐀𝐚𝐧

✍🏻Arsyad Syahrial

Si Pudel lagi-lagi membuat narasi opini menyesatkan dengan mengklaim bahwa pemimpin ẓōlim hanyalah cerminan dosa rakyat. Walau itu terdengar sangat religius karena ditambahkan banyak perkataan ΓΉlamā’, namun secara dalΔ«l, sejarah, dan logika, ia bermasalah besar!

Sebenarnya saya telah beberapa kali membuat bantahan terhadap narasi opini model begini.

Namun baiklah kita bahas lagi di mana letak masalahnya…

1. Kelemahan fondasi dalil

Hadits “ΩƒΩŽΩ…ΩŽΨ§ ΨͺΩŽΩƒΩΩˆΩ†ΩΩˆΨ§ ΩŠΩΩˆΩŽΩ„ΩŽΩ‘Ω‰ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’ΩƒΩΩ…Ω’” (sebagaimana keadaan kalian, demikianlah kalian dipimpin) yang diriwayatkan oleh al-Baihaqiyy dan ad-Dailamiyy dinilai dhoif oleh MuαΈ₯ammad NāṣiruddΔ«n al-Albāniyy di dalam Silsilah al-AαΈ₯ādΔ«αΉ« aḍ-ḌoΘ‰fah no 320 di mana Beliau menegaskan kelemahan αΈ₯adΔ«αΉ« ini secara riwayat dan secara makna ia bertentangan dengan fakta sejarah di mana pemimpin ẓōlim bisa muncul di tengah rakyat yang baik.

2. Zolimnya penguasa adalah fitnah, bukan serta-merta akibat ẓōlimnya rakyat

Jika penguasa selalu cerminan rakyat, maka Baginda Nabi ο·Ί tak perlu memerintahkan ummatnya untuk mengingkari keẓōliman penguasa.

Padahal, jelas Baginda Nabi ο·Ί memperingatkan:

Ψ₯ΩΩ†ΩŽΩ‘Ω‡Ω ΩŠΩΨ³Ω’ΨͺΩŽΨΉΩ’Ω…ΩŽΩ„Ω ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’ΩƒΩΩ…Ω’ Ψ£ΩΩ…ΩŽΨ±ΩŽΨ§Ψ‘Ω فَΨͺΩŽΨΉΩ’Ψ±ΩΩΩΩˆΩ†ΩŽ وَΨͺΩΩ†Ω’ΩƒΩΨ±ΩΩˆΩ†ΩŽ ΩΩŽΩ…ΩŽΩ†Ω’ ΩƒΩŽΨ±ΩΩ‡ΩŽ ΩΩŽΩ‚ΩŽΨ―Ω’ بَرِئَ ΩˆΩŽΩ…ΩŽΩ†Ω’ Ψ£ΩŽΩ†Ω’ΩƒΩŽΨ±ΩŽ ΩΩŽΩ‚ΩŽΨ―Ω’ Ψ³ΩŽΩ„ΩΩ…ΩŽ ΩˆΩŽΩ„ΩŽΩƒΩΩ†Ω’ Ω…ΩŽΩ†Ω’ رَآِيَ وَΨͺَابَعَ

β€œPenguasa akan ditunjuk atas kalian, dan kalian akan menemukan mereka melakukan perbuatan baik dan juga perbuatan buruk. Siapa saja yang membenci perbuatan buruk mereka terbebas dari dosa. Siapa saja yang tidak menyetujui perbuatan buruk mereka (juga) aman (dari kemurkaan Ilahi). Tetapi siapa saja yang menyetujui perbuatan buruk mereka dan menirunya (akan dikutuk).” [HR Muslim no 1854].

3. Fakta sejarah menunjukkan penguasa yang mengubah rakyat

Narasi “rakyat harus baik dulu baru pemimpin baik” dipatahkan oleh sejarah, karena Islam mengenal kekuatan kekuasaan untuk memperbaiki peradaban.

Adapun kasus yang paling terkenal adalah ketika Kholifah Γ™mar ibn Γ€bdul-Γ€zΔ«z Ψ±Ψ­Ω…Ω‡ Ψ§Ω„Ω„Ω€Ω‡ ΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ naik sebagai pemimpin di tengah dinasti Umayyah yang saat itu penuh dengan praktik keẓōliman.

Maka jika teori “pemimpin cerminan rakyatnya” itu mutlak benar, tentu tidaklah mungkin lahir pemimpin sekaliber Beliau dari rakyat yang sudah terbiasa dengan sistem korup. Nyatanya, kualitas rakyat membaik setelah pemimpinnya Γ dil.

Kholifah Utsman ibn al-Γ€ffān رآي Ψ§Ω„Ω„Ω€Ω‡ ΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ ΨΉΩ†Ω‡ sebagaimana dinukil oleh αΉ aiαΈ³ul-Islām AαΈ₯mad ibn Γ€bdul-αΈ€alΔ«m ibn Taimiyyah al-αΈ€arrōniyy dan Imām Ibnu KaαΉ«ir Ψ±Ψ­Ω…Ω‡Ω…Ψ§ Ψ§Ω„Ω„Ω€Ω‡ ΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ mengatakan:

Ψ₯Ω† Ψ§Ω„Ω„Ω€Ω‡ Ω„ΩŠΨ²ΨΉ Ψ¨Ψ§Ω„Ψ³Ω„Ψ·Ψ§Ω† Ω…Ψ§ Ω„Ψ§ يزع Ψ¨Ψ§Ω„Ω‚Ψ±Ψ’Ω†

β€œSungguh Allōh mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak bisa dicegah dengan al-Qur-ān.”

Ini artinya, ketertiban masyarakat bergantung pada penegakan αΈ₯ukum oleh penguasa, bukan sekadar keαΉ£olΔ«han individu rakyat.

4. Meluruskan sejarah zaman Khalifah Utsman dan Ali رآي Ψ§Ω„Ω„Ω€Ω‡ ΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ ΨΉΩ†Ω‡Ω…Ψ§

Menuduh kekacauan di zaman khalifah Utsman dan Ali آي Ψ§Ω„Ω„Ω€Ω‡ ΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ ΨΉΩ†Ω‡Ω…Ψ§ sebagai “cerminan rusaknya rakyat” adalah tuduhan yang sama sekali tak beradab kepada para SalafuαΉ£-ṒōliαΈ₯.

Bagaimana tidak?

Faktanya mayoritas rakyat MadΔ«nah pada saat itu adalah αΉ’oαΈ₯ābat Nabi dan TābiΘ‰n…!

Penyebab sebenarnya menurut Syaikhul Islam ibn Taimiyyah sebagaimana yang dinyatakannya di dalam Minhājus-Sunnah adalah bahwa fitnah tersebut dipicu oleh infiltrasi politik dan provokasi dari pihak luar (seperti kelompok Γ€bdullōh ibn Saba’), bukan karena masyarakatnya berubah menjadi buruk atau musyrik dan melakukan kebid’ahan.

5. Keadilan penguasa adalah kunci

Syaikhul Islam ibn Taimiyyah Ψ±Ψ­Ω…Ω‡ Ψ§Ω„Ω„Ω€Ω‡ ΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ di dalam Majmū’ al-Fatāwa XXVII/146 memandang keΓ dilan sebagai “syarat keberlangsungan dunia” (niαΊ“omul-Γ lam) dengan menukil dan menyetujui perkataan:

Ψ₯Ω† Ψ§Ω„Ω„Ω€Ω‡ ΩŠΩ‚ΩŠΩ… Ψ§Ω„Ψ―ΩˆΩ„Ψ© Ψ§Ω„ΨΉΨ§Ψ―Ω„Ψ© وΨ₯Ω† ΩƒΨ§Ω†Ψͺ كافرة ، ΩˆΩ„Ψ§ ΩŠΩ‚ΩŠΩ… Ψ§Ω„Ψ―ΩˆΩ„Ψ© Ψ§Ω„ΨΈΨ§Ω„Ω…Ψ© وΨ₯Ω† ΩƒΨ§Ω†Ψͺ Ω…Ψ³Ω„Ω…Ψ©

β€œSungguh Allōh akan melanggengkan pemerintahan yang Γ dil meskipun ia kāfir, dan Allōh tidak akan melanggengkan pemerintahan yang ẓōlim meskipun ia Muslim.”

Faktanya adalah rakyat akan diam ketika rezim penguasa berlaku memberikan stabilitas sosial-politik-αΈ₯ukum-keamanan terhadap rakyatnya meskipun oknum penguasanya berbuat kema`αΉ£iyyatan pribadi, namun rakyat takkan diam jika rezim penguasanya bertindak tidak Γ dil kepada rakyat meskipun penguasa Muslim dan ṣōliαΈ₯.

Memilih pemimpin yang kuat / cakap (meski kurang taqwa) lebih utama daripada pemimpin ṣōliαΈ₯ yang lemah, karena dampak keẓōliman / kelemahan pemimpin bersifat publik, sementara dosa dari perbuatan ma`αΉ£iyyah individu oknum penguasa itu berαΉ£ifat pribadi.

6. Menyalahkan korban (blaming the victim)

Jika narasi si Pudel benar, maka ia mau tak mau ia akan sampai pada kesimpulan yang absurd & batil sebagai berikut:

  • Fir’aun adalah cerminan dari Nabi Musa dan BanΔ« Isrō-Δ«l.
  • Al-αΈ€ajjāj ibn YΕ«suf aαΉ«-αΉͺaqofiyy adalah cerminan dari para TābiΘ‰n, TābiTābiΘ‰n, dan ΓΉlamā’ besar yang hidup di zamannya.
  • Khalifah al-Ma’mΕ«n yang berΓ qΔ«dah Mu`tazilah adalah cerminan dari Imām AαΈ₯mad Ψ±Ψ­Ω…Ω‡ Ψ§Ω„Ω„Ω€Ω‡ ΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰.


Maka tampak sekali narasi ini “pemimpin cerminan rakyat” ini sangat berbahaya karena membebaskan penguasa tiran dari tanggung jawab dengan menyalahkan rakyat yang menjadi korban keẓōliman.

7. Pembungkaman amar ma`rΕ«f nahyi munkar

Narasi “pemimpin cerminan rakyat” ini memiliki efek samping yang melumpuhkan daya kritis ummat, sebab ia:
– Membungkam kritik, di mana rakyat dipaksa hanya sibuk “introspeksi diri” sementara kebijakan publik yang merusak dibiarkan terus berjalan.
– Menghapus jihād lisan, padahal Baginda Nabiyy ο·Ί bersabda bahwa jihād yang paling utama adalah berkata benar di hadapan penguasa lalim.
– Legitimas tirani, membuat keẓōliman seolah-olah adalah “taqdir sosial” yang tidak perlu diubah secara sistemik.

Menyederhanakan keẓōliman penguasa menjadi sekadar “salah rakyat” adalah pemikiran yang tidak berdasar dan berasal dari pikiran para penjilat. Dalam Islām, pemimpin memiliki tanggung jawab personal yang berat di hadapan Allōh ο·» atas setiap kebijakan, tindakan, perkataan, sikap, dan kelalaian yang ia perbuat. Rakyat memang wajib memperbaiki diri, namun itu tidak menghapus kewajiban untuk menuntut keΓ dilan dan melakukan amar ma`rΕ«f nahyi munkar terhadap penguasa.

Apabila setiap keẓōliman penguasa hanya dijawab dengan “mungkin saya kurang Γ¬bādah, kurang ṣōliαΈ₯, kurang bertaqwa”, maka perintah Nabiyy untuk menasihati penguasa menjadi tidak relevan, perintah Allōh ο·» untuk saling wasiat-mewasiati dalam kebenaran jadi tak berlaku. Padahal, introspeksi pribadi dan kritik terhadap kebijakan publik harus berjalan beriringan.

Demikian, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *