Di masa hidupnya pernah dikritik, dikecam, bahkan dipenjara. Tapi setiap tampil berdakwah tetap tersenyum

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan nama pena Buya Hamka, adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Beliau dikenal sebagai seorang ulama besar, filsuf, sastrawan, wartawan, dan Pahlawan Nasional Indonesia.

Nama “Hamka” sendiri merupakan singkatan dari nama lengkapnya. Sementara sebutan “Buya” adalah panggilan kehormatan masyarakat Minangkabau untuk seorang ulama yang berasal dari kata abi atau abuya (artinya ayahku).

Ringkasan Profil & Biografi

  • Kelahiran: Lahir pada 17 Februari 1908 di Nagari Sungai Batang, Tanjung Sani, di tepi Danau Maninjau, Sumatra Barat. Beliau lahir dari keluarga yang religius; ayahnya, Syekh Abdul Karim Amrullah, adalah salah satu ulama pembaharu di Minangkabau.
  • Wafat: Meninggal dunia pada 24 Juli 1981 di Jakarta pada usia 73 tahun, dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir.
  • Gelar Kehormatan: Dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar (Mesir, 1958) dan Universitas Kebangsaan Malaysia (1974). Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional secara resmi pada tahun 2011.

Kiprah dan Kontribusi

  1. Bidang Keagamaan & Organisasi: Buya Hamka aktif dalam organisasi Muhammadiyah hingga akhir hayatnya. Ia juga terpilih menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama saat lembaga tersebut dibentuk pada tahun 1975.
  2. Perjuangan Politik & Sosial: Beliau sempat berkecimpung di panggung politik melalui partai Islam Masyumi. Di masa Orde Lama, karena sikap kritis dan integritasnya yang teguh, ia dituduh melakukan makar oleh pemerintah Soekarno sehingga sempat dipenjara tanpa proses pengadilan selama kurang lebih 2,5 tahun.
  3. Dunia Sastra: Beliau belajar secara otodidak dan memiliki kecintaan luar biasa pada literatur. Gaya penulisannya yang indah, romantis, namun penuh pesan moral yang mendalam membuatnya diakui sebagai salah satu sastrawan legendaris nusantara.

Karya-Karya Legendaris

Selama masa hidupnya, Hamka menulis lebih dari 100 buku. Beberapa mahakarya yang paling terkenal meliputi:

  • Tafsir Al-Azhar – Kitab tafsir Al-Qur’an 30 juz lengkap bergaya melayu-nusantara yang sebagian besar justru beliau tulis saat berada di dalam penjara.
  • Tenggelamnya Kapal Van der Wijck – Novel sastra romantis bernuansa kritik adat yang telah diadaptasi menjadi film layar lebar populer.
  • Di Bawah Lindungan Ka’bah – Novel menyentuh yang sarat akan nilai-nilai religius dan perjuangan cinta.
  • Merantau ke Deli – Novel yang memotret kehidupan masyarakat perkebunan di Sumatra Timur serta dinamika adat Minangkabau.
  • Falsafah Hidup – Buku pemikiran tentang kebijaksanaan, etika, dan pandangan hidup Islami.

“Salah satu Ahli Ilmu Indonesia masa lalu, Buya Hamka rahimahullah, sering singgah di toko paman kami di seberang Rivoli, di masa hidupnya pernah dikritik, dikecam, bahkan dipenjara. Tapi setiap tampil berdakwah tetap santun, tersenyum, tak tampak mencari validasi apa-apa..” [fb Kang Umar Bogor]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 komentar

    1. Sanad emas perkataan Wahabi (menukil dari perkataan Buya Hamka rahimahullah)
      Kalau kita telusuri siapa yang memframing perkataan Wahabi pertama kali, maka akan tertuju kepada seorang alim besar Mufti Mekah Rafidhi Zaini Dahlan. Buya Hamka berkata tentang beliau, seperti tertulis dalam buku “Tasawuf perkembangan dan pemurnian-nya” halaman 243 terbitan Panjimas:

      “Jago yang berjasa besar membela kerajaan Turki dan membusuk-kan wahabi dan memfitnahnya, sampai menuduh bahwa Syekh Muhammad bin Abdul Wahab itu adalah keturunan Musailamah al-Kadzab, sebab dia lahir di wadi yamamah di Nejd. Adalah rafidhi Sayid Zaini Dahlan”.

      Ketika menyebut ulama-ulama yang berperan terhadap fitnah Kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, beliau selalu mengisyaratkan kepada rafidhi Zaini Dahlan.

      Hal itu sangat kentara sekali ketika kita membaca kitabnya “Fitnah Wahabiyah” atau dua kitab lainnya, karena secara kontennya sama saja berisi fitnah dan kebohongan terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Buku inilah yang sampai sekarang menjadi andalan pembenci Dakwah Salafi.

      Bagaimana pandangan Buya Hamka terhadap jatidiri Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab?

      Mengutip buku beliau Tuanku Rao, Buya Hamka berkata, mengemukakan argumentasinya menjawab tudingan, bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah dari Arab Badawi : ” Tidak ada satu badawi pun di tanah arab yang bukan orang Arab. Yang jadi Arab itu ialah badawi, pelajaran ethnologi dan antropologi Arab, di tambah dengan geografinya menyebutkan bahwa Arab itu terbagi dua, Arab yang tinggal di kota kota di namai Arab Hadhar. Dan yang masih nomaden di padang pasir mencari rumput untuk ternak dan air untuk minum, bernama Arab badawi. Lebih lebih badawi mereka masih tetap memelihara nama Qabilahnya, kalau ada badawi tidak sanggup menunjukkan nama Qabilahnya, itu bukan badawi. Sampai saat ini badawi masih bangga mengatakan bahwa mereka Arab Asli, darahnya belum tercampur.

      Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah turunan Arab Tulen, dari BANI TAMIM. Adapun Bani Tamim di Nejd itu terpecah kepada tiga perut:

      1) perut Hanzhalah bin Malik bin Zaid – Manata bin Tamim.
      2) perut Sa’ad bin Zaid Manata bin Tamim.
      3) perut Amer bin Tamim.

      Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah dari perut pertama Hanzhalah bin Malik bin Zaid – Manata bin Tamim. Tempat kedudukan perut pertama ini adalah di Riyadh. (Di kutip dari Jantung Arab karangan Fuad Hamzah)”,

      Disini Buya Hamka membersihkan tuduhan terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan menjelaskan asal-usul beliau rahimahullah. Sehingga makin nampak tuduhan-tuduhan bahwa beliau Badawi (Badui) atau ada yang lebih keji mengatakan bahwa beliau keturunan Yahudi. Dan diantara ulama yang getol sekali memframing dan memfitnah adalah Sayid Zaini Dahlan sehingga kalau kita mendengar Aswaja menuduh Wahabi dengan berbagai istilah dan Fitnahan, maka sanadnya akan bersambung kepada beliau.

      Kesimpulannya:

      Buya Hamka dalam banyak pembelaan-nya kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah karena beliau sendiri selalu di katakan sebagai Wahabi, di Melayu di tuduh Wahabi di Jawa pun di sebut Wahabi. Bahkan beliau yang sempat di persekusi oleh kaum tua, karena pembelaan beliau kepada Wahabi. Kalau membaca tulisan-tulisan beliau yang bertajuk sejarah dan pemikiran kita akan menemukan ulasan beliau tentang kaum muda (Wahabi) yang memang sangat mewarnai hidup beliau dimasanya.