✍🏻Made Supriatma
Presiden Indonesia bilang bahwa Iran sekarang hati-hati berunding dengan AS karena pernah ditipu dua kali.
Saat awal perang yang nggak perlu ini dimulai ada kabar bahwa Menteri Luar Negeri Oman memfasilitasi perundingan antara AS dengan Iran. Rupa-rupanya AS, dengan bombongan setan Israel, memakai perundingan itu untuk bersiap menyerang Iran.
Untuk saya ini menjadi menarik. Lho ternyata Presiden Indonesia itu tahu bahwa AS dan Trump itu suka nipu. Tapi ternyata kok nurut-nurut aja diajak ikut BoP? Malah semangat menyiapkan pasukan sebanyak 8,000 orang. Dan Indonesia bangga menjadi Wakil Komandan pasukan BoP di Gaza.
Keadaan dunia berubah hanya dalam hitungan hari. Sehari setelah menandatangani persetujuan tarif resiprokal, Mahkamah Agung AS menyatakan tarif itu ilegal. Dalam hari setelah ikut menandatangani BoP dan foto bersama dan menikmati pujian dari Trump, eh AS dan Israel menyerang Iran.
Dalam interview dengan Bloomberg, Presiden Indonesia merasa sedih karena perang ini. “Kita semua bingung,” katanya. “Dan saya sedih. Saya rasa ini semua tidak rasional.”
Saya mengamati banyak pemimpin dunia. Orang-orang besar yang berhasil dan gagal dalam kepemimpinannya. Umumnya mereka adalah orang-orang yang memiliki ‘firasat’ (gut feelings) yang baik dalam membuat keputusan.
Para pemimpin ini memilih untuk didampingi oleh orang-orang bijak yang memberinya nasehat dan kekuatan dalam memutuskan. Tanggung jawab tetap ada pada diri sang pemimpin. Tidak diragukan bahwa para pemimpin itu memilih sendiri orang-orang bijak, pintar, handal, serta berkomitmen untuk memberikan yang terbaik untuk bangsanya.
Saya tidak tahu siapa yang memberikan ‘counsel’ atau bimbingan kepada presiden RI ke-8 ini. Atau, apakah dia menerima nasehat atau hanya memberi nasehat.
Kalau dilihat dari rapat-rapat yang dia pimpin, semua orang mendengar arahan-arahan satu arah dari sang pemimpin tertinggi. Dan pemimpin menerima laporan untuk mengecek apakah arahannnya didengarkan atau tidak. Memang kadang dia mengundang mantan presiden, mantan wapres, atau politisi-politis berpengaruh. Namun mereka pun lebih banyak dipaksa untuk mendengarkan.
Sementara, kita tahu pemimpin ini mengelilingi dirinya dengan anak-anak muda yang semakin hari semakin sadar akan kekuasaan yang ada pada dirinya. Tidak sekali saya melihat foto seorang menteri menghadap dengan takzim dan takut kepada seorang eselon II — hanya karena si eselon II itu dekat sekali dengan Presiden.
Saya tidak tahu apakah bangsa ini ada ditangan orang baik dan tepat atau tidak. Setahu saya, dalam demokrasi, sekali pun Anda dipilih dengan suara terbanyak, itu bukan mandat untuk berkuasa tanpa batas. Bukan berkuasa semau sendiri.
Jika pemimpin tidak mendengarkan orang lain, jika ia hanya menerima informasi yang disaring hanya untuk menyamankan telinganya, jika ia melihat apa yang ingin dia lihat, inilah pangkal dari bencana.
Kita sudah melihat ini dari kasus BoP, kasus tarif resprokal, kasus MBG (ah, satu lele satu anak, Bapak! Sembilan belas ribu ekor sapi dipotong setiap hari, Bapak!), Koperasi Desa (tidak pakai anggaran negara, Bapak! Kita efisiensi, Bapak!).
Gut feelings atau firasat kepemimpinan itu tidak datang hanya dari kepintaran (apalagi merasa pinter) seorang pemimpin tetapi dari bimbingan banyak orang. Keputusan akan jadi lebih baik dan lebih matang ketika mendengarkan saran-saran mereka yang kompeten.
Itulah yang hilang saat ini.
(*)







mantan menantu org besar, mantan komandan, bos perusahaan dg ribuan karyawan. jd tdk terbiasa mendengar , dikira sama dg ngurus negara.
sesama penipu ya harus saling berteman 😂