Seorang pemuda asal Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Arif Hermawan (28), sukses mengembangkan usaha selada hidroponik. Ia menghasilkan 7 kwintal setiap masa panen. Masa panen sekitar 40 hari.
“Karena pesanan tambah banyak, akhirnya saya putuskan berhenti dari pekerjaan sebelumnya dan fokus ke hidroponik,” kata Arif kepada Kompas.com, Minggu (19/4/2026).
Di atas lahan berukuran 18 x 22 meter di utara Kota Lumajang, deretan selada hijau tumbuh tanpa menyentuh tanah dengan memanfaatkan pipa sebagai media tanam ramah lingkungan.
Namun, usaha tersebut bermula dari ruang sempit di bagian atas rumahnya.
Berawal dari loteng rumah
Arif merupakan lulusan ekonomi syariah yang tidak memiliki latar belakang pertanian. Ia belajar secara otodidak melalui video di YouTube serta mengikuti seminar dan workshop hidroponik.
“Saya kan bukan sarjana pertanian, jadi sama istri ini selain belajar dari YouTube juga ikut-ikut seminar dan workshop hidroponik sampai luar kota,” ujarnya.
“Awal pakai botol air bekas dipotong itu 70 buah tapi gagal, dari sana terus belajar lagi sama istri,” lanjut dia.
Percobaan berikutnya dilakukan di loteng rumah seluas sekitar 40 meter persegi yang diubah menjadi kebun hidroponik dengan 340 lubang tanam.
Berbagai sayuran seperti selada, sawi, dan kangkung ditanam. Hasil panen awal tidak langsung dijual, melainkan dibagikan kepada tetangga untuk mendapatkan respons.
Respons positif tersebut mendorong Arif mulai memasarkan produknya ke usaha katering, warung makan, hingga penjual kebab dan burger.
Saat itu, dalam satu kali panen selama 40–45 hari, Arif mampu menghasilkan sekitar 60 kilogram sayuran dengan harga Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per kilogram.
Tinggalkan pekerjaan dan kembangkan usaha
Meningkatnya permintaan membuat Arif memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai sales marketing dan fokus mengembangkan hidroponik.
Ia bahkan mengambil pinjaman bank sebesar Rp 65 juta untuk memperluas lahan.
“Ini modalnya saya dapat pinjam ke bank, Rp 65 juta, tapi ini bertahap, sudah sekitar 4 tahun dari awal merintis sampai sekarang,” ujarnya.
Lahan baru seluas 220 meter persegi dengan 4.200 lubang tanam mampu menghasilkan lebih dari 300 kilogram sayuran per bulan.
Kini, dari lahan seluas 18 x 22 meter, Arif dapat memanen lebih dari 7 kwintal selada setiap sekitar 40 hari.
Dengan harga rata-rata Rp 30.000 per kilogram, omzetnya mencapai sekitar Rp 21 juta dengan keuntungan bersih sekitar Rp 15 juta per panen.
Sumber: KOMPAS






