Hajat hidup kita, ditentukan oleh keputusan politik Presiden

Yang jualan, ditarik pajak PB1 10%
Yang isi BBM, dirazia STNK nya, apakah sudah bayar pajak atau belum.

Tahu ngga, kenapa tiba-tiba Bapenda (Badan Pendapatan Daerah) aktif banget keliling nyari pajak?
Itu karena Prabowo memotong dana Transfer Daerah sebesar 269 Trilyun, dari tahun 2025 berjumlah 919,87 Trilyun, menjadi 649 Trilyun di tahun 2026. Anggaran difokuskan MBG dan KOPDES.

Dana Transfer Daerah turun ⬇️ 30%

Bayangkan aja biasanya pengeluaran rutinmu 1 juta/bulan.

Tiba-tiba gajimu dipotong, sisa 700 ribu
Dimana mencari kekurangan 300 ribunya?

Itulah yang dilakukan Bapenda saat ini…
Memperluas target pajak daerah, supaya PAD (Pendapatan asli daerah) bisa meningkat, dan bisa nambal kekurangan anggaran 30% itu

So at the end…
Carut marutnya kondisi kita di daerah,
Ujungnya memang ke Presiden

Hajat hidup kita, ditentukan oleh keputusan politik Presiden.

Dia sayang, kita bahagia
Dia ga sayang, kita menderita

(AL FATIN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar

  1. Hajat hidup kita, ditentukan oleh keputusan politik Presiden, para buzzer pun bersorak riuh….
    Dimana wakil rakyat ?
    lagi maen HP….
    lagi tidur…..
    lagi Flexing…..
    lagi berak…..

    ga bijak juga kalau hanya presiden yang disalahkan, apalagi menyalahkan buzzer, buzzer itu ga pernah salah karena goblog, orang goblog itu = wong e&, bebas dari jerat hukum. masuk jahanam udah pasti karena kegoblogan nya.

    GULING GULING……

  2. Selama wowo jadi pleciden, Konoha ga pernah sepi. Permasalahan menjadi santapan rutin. Perbedaan menjadi hikmah jika disikapi dengan bijak. Tapi kalau disemburkan ke nyinyiran nya, terlebih rakyat diposisikan sebagai musuh, jangan salahkan rakyat kalau terpaksa atau dipaksa untuk melawan atau meruntuhkan para durjana.

  3. si buzzer terbahak bahak karena junjungannya merasa dibutuhkan, padahal yang didapat buzzer hanya nye nye. berbeda dengan yang didapat para elite parTAI dan oligarki penjilat, mereka terpenuhi kebutuhan nya hingga ke anak pinak. bukan masalah ketidakadilan, bukan karena kecemburuan, bukan disebabkan ketidaknyamanan. tapi tanggungjawab kepala negara mengayomi semua warga negara.

  4. Malang benar nasib Bangsa Indonesia diperintah Genderuwo Psikopat, sebelumnya Si Asem Sulfat waktu kampanye menganggap rakyat hanya sebagai binatang, makanya, kata dia mau memperluas kebun binatang buat narikin pajak. Bidji peler tunggal berpadu dengan bocah tengil otak udang, beginilah jadinya.