Wakil Presiden AS JD Vance secara terbuka menuduh elemen tertentu dalam pemerintah Israel mendanai kampanye rahasia untuk memanipulasi opini publik Amerika Serikat demi memperpanjang perang dengan Iran secara tidak terbatas.
Tuduhan tajam yang memicu keretakan diplomatik baru antara kedua sekutu dekat ini disampaikan oleh Vance dalam wawancara di podcast The Joe Rogan Experience.
Detail Inti dari Pernyataan JD Vance
- Tuduhan Kampanye Rahasia: Vance menyatakan bahwa ia mengetahui “tanpa keraguan sedikit pun” adanya pejabat Israel yang memanipulasi opini publik AS agar menjauh dari jalur diplomasi perdamaian.
- Tujuan Memperpanjang Perang: Menurut Vance, elemen pemerintah Israel tersebut ingin melanjutkan kampanye militer dan menjaga perang melawan Iran tetap berjalan “tanpa batas waktu,” bukan demi mencapai target objektif tertentu.
- Keterlibatan Mantan Manajer Kampanye Trump: Vance mengutip investigasi Time Magazine yang mengungkapkan bahwa mantan manajer kampanye Donald Trump, Brad Parscale, disewa atas nama pihak Israel untuk menjalankan kampanye digital tersembunyi guna memengaruhi gerakan MAGA agar menentang kesepakatan damai AS-Iran. Kepada para pelaku di balik kampanye hitam tersebut, Vance secara lugas menyerukan, “Go to hell” (Pergilah ke neraka).
- Pandangan Terhadap Pengaruh Asing: Vance menegaskan bahwa ia tidak mempermasalahkan jika Israel atau negara lain seperti Rusia mencoba melobi AS, karena itu bagian dari dinamika politik global. Namun, ia sangat mengecam keras ketika para pemimpin politik Amerika membiarkan intervensi asing tersebut mendikte keputusan dan penilaian politik mereka.
Konteks Perselisihan AS-Israel
Kritik tajam dari BBC News dan laporan Al Jazeera ini menyoroti perselisihan mendalam mengenai langkah diplomasi pemerintahan Trump ke depan:
- Pembelaan atas Kesepakatan Damai: Vance membela Nota Kesepahaman (MoU) atau kesepakatan damai yang dicapai Washington dengan Teheran. Langkah ini ditentang keras oleh kabinet Benjamin Netanyahu yang menganggap kesepakatan tersebut buruk karena gagal membongkar program rudal dan nuklir Iran.
- Rebukan Keras Sebelumnya: Pada Juni lalu, Vance juga sempat memperingatkan para menteri sayap kanan Israel (seperti Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich) untuk “wake up and smell the reality” (bangun dan sadari kenyataan). Ia mengingatkan bahwa Israel, sebagai negara berpenduduk 9 juta jiwa, tidak bisa sekadar menyelesaikan semua masalah keamanan nasionalnya dengan cara “terus membunuh”. Ia juga menegaskan bahwa AS adalah satu-satunya sekutu kuat yang tersisa bagi Israel di dunia, yang menyuplai dua pertiga senjata pertahanan mereka.
Para pengamat dan mantan diplomat menilai pernyataan blak-blakan dari seorang Wakil Presiden AS yang sedang menjabat ini sebagai hal yang belum pernah terjadi sebelumnya (unprecedented) dalam sejarah hubungan diplomatik kedua negara. Hingga saat ini, pihak Kedutaan Besar maupun Pemerintah Israel belum memberikan respons resmi atas tuduhan tersebut.
👇👇
[Video podcast JD Vance]






