Blunder Kepala BGN Sudaryono

Mas Sudaryono, sebagai Kepala BGN yang baru, ditanya soal sekolah rusak, namun MBG masih tetap jalan.

Sudaryono mengatakan (menjawab), sekolah yang rusak itu sudah ada sebelum ada MBG. Dia bilang ‘mengadu’ dua kasus ini tidaklah fair,

“Dulu (pemerintah), kemana? Anda harusnya bertanya, dong. Dulu belum ada MBG, uangnya seharusnya bisa dipakai untuk perbaikan. Jangan karena ada MBG, sekolah masih rusak, jadi MBG disalahkan.”

Sudaryono punya masalah dari cara berpikirnya. Justru karena sekolah rusak sejak lama, maka tidak ada keperluan untuk membuang-buang uang untuk MBG. Orang waras mana yang punya rumah yang rusak, tapi uangnya dipakai buat beli makan?

Dan apa yang disampaikan Sudaryono ini tuduhan untuk pemerintah di masa lalu (mungkin sejak SBY hingga Jokowi) seolah-olah tidak memperbaiki sekolah.

Kemudian, Sudaryono (secara tidak sadar) mengakui bahwa gara-gara MBG akhirnya perbaikan sekolah diundur. Demi menjalankan MBG, sekolah rusak seperti di gambar ini memang harus ditunda-tunda dulu.

Kepala BGN pertama korup. Kepala yang kedua makin kaya dan punya mobil yang banyak, dan tiba-tiba mengundurkan diri karena sakit. Kepala yang ketiga tidak hanya konyol, tapi provokatif.

Justru karena kerusakan sekolah sudah lama diketahui, pertanyaan tentang prioritas anggaran menjadi semakin sah. Persoalannya bukan apakah MBG yang menyebabkan sekolah rusak.

Tentu bukan.

Persoalannya adalah: ketika negara mengetahui ada kebutuhan dasar yang sudah lama mendesak dan belum diselesaikan, mengapa negara mengambil komitmen belanja baru yang sangat besar sebelum memastikan kebutuhan lama itu tertangani secara memadai?

Ibarat punya rumah yang atapnya bocor, plafonnya hampir runtuh, dan kamar anak tidak layak dipakai. Lalu ketika mendapat tambahan uang, Anda memilih mengambil komitmen pengeluaran baru yang besar setiap bulan.

Ketika ditanya mengapa rumah belum diperbaiki, Anda menjawab, “Lho, rumah ini kan sudah rusak sebelum pengeluaran baru itu ada.”

Selain bermasalah, jelas ini tidak menjawab persoalan.

Dan justru karena rumahnya sudah lama rusak, keputusan mengambil pengeluaran besar baru itulah yang patut dipertanyakan.

(Rumail Abbas)

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar

  1. ya emang gajelas kok rezim sebelumnya gausah sok2an pakai narasi ngadu domba gitulah drun, kita blak2an aja yg dulu gajelas, kecuali sby ya terbaik lah

  2. woi terwo…rumah lu rusak..bapak lu beli mobil baru penting mana betulin rumah dulu apa beli mobil … dasar Unyil 😂😂😂😂