Saat Indonesia dihajar krisis 98, apa yang terjadi?
- Kurs rupiah dari Rp2.500 jatuh ke Rp16.000 lebih. Alias nyaris 7x lipat.
- Rush besar-besaran terjadi, bank-bank kolaps
- Inflasi menggila 77%. Harga-harga nyaris dobel
- Kepercayaan kepada pemerintah tumbang ke dasarnya, termasuk ke rupiah.
- IHSG dari puncak tertingginya turun 65%.
Soeharto mundur. Habibie naik.
Maka kita mendengar “legenda” kehebatan Habibie, menurunkan dollar dari 17.000 ke 6.500 hanya 12 bulan.
Tapi tahukah kalian, hanya Habibie yang bisa begini. Karena meskipun badannya terlihat kecil, beliau berani sekali.
Apa yang dia lakukan? Menaikkan suku bunga Bank Indonesia jadi 70% lebih. Gila! Kamu tahu artinya? Jika kamu nabung di bank, bunganya bisa 70%. Lebih gila dibanding skema ponzi, penipuan koperasi-koperasi, tapi yang ini resmi, nyata!
Dan sekaligus, jika kamu punya KPR, kreditan, dkk, bunganya setahun bisa 50%. Itu lebih gila dibanding pinjol paling gila sekalipun. Kacau balau semuanya.
Tapi Habibie tetap teguh maju. Daaan, inilah poin paling pentingnya, bukan cuma naikin suku bunga doang:
- Dia mau melakukan reformasi perbankan nasional. Bank-bank busuk ditutup, Bank Mandiri terbentuk dari merger. BI jadi independen. Simpanan dijamin negara. Ini benar-benar TIDAK omon-omon, dan berhasil mengembalikan kepercayaan investor asing.
- Kebebasan pers dimulai, pemilu cepat segera dilaksanakan, masa transisi disiapkan. Wah, ini tuh penting sekali mengembalikan kepercayaan rakyat.
Hingga akhirnya, dolar meluncur turun jadi 6.500. Karena mau ngapain dolar tinggi-tinggi? Saat semua baik-baik saja, tidak perlu panik. Saat pemerintah bisa dipercaya.
Tapi catat baik-baik, Habibie benar-benar berani saat itu. Menaikkan suku bunga jadi 70%, itu crazy. Bunga 12% saja ngeri, ini meroket segitu.
Dan satu lagi keputusan Habibie yang sangat penting di saat itu: memberhentikan Prabowo.
Demikianlah. Penduduk 58% malah memilihnya.
(Tere Liye)







analisanya Tere Liye mararanteB, ini fakta dan ga usah ada baper, apalagi belain junjungannya……
endingnya bikin ngakak kak kak kak
disini ada tk .cebok- bok nya
dan sekali lagi gw komen begini, keberhasilan pak Habibie didukung oleh menter – menterinya yang mumpuni, salah satunya Tanri Abeng si manager 1 milyar, dialah menteri BUMN pertama dan yang punya tugas memperbaiki perbankan, dan hasilnya bisa kita lihat sekarang (dari dialah bank Mandiri lahir)
makanya pilih pemimpin itu yang pinter karena orang pinter, bakalan milih orang pinter juga jadi partnernya, bukan yang asbun
https://www.facebook.com/reel/992484027052061
Sinisme dan pesimisme karna literasinya buruk malas mengkaji, malas menganlisa dan terlalu cepat mengabil kesimpulan hasil HOAK…
Era Habibie dolar di level Rp 6.500
Banyak yang puji era Habibie karena berhasil jinakkan dolar dari Rp 16.800 ke Rp 6.500. Tapi berapa yang bertanya ongkos penjinakan tsb dan berapa lama? Suku bunga SBI saat itu meroket sampai 70%! Ini bukan kebijakan biasa, ini tindakan amputasi di ruang ICU.
Ibarat sebuah mobil yang remnya blong dan melaju kencang ke jurang (Krismon 98). Inflasi hampir 80%. Orang-orang panik buang Rupiah demi Dolar. Pilihannya cuma dua: biarkan mobilnya jatuh, atau lempar jangkar raksasa ke aspal.
Bunga 70% itu jangkarnya. BI seolah bilang ke dunia: “Jangan buang Rupiahmu. Parkir di bank kami, kami kasih imbalan 70%!” Hasilnya? Arus modal berhenti kabur. Dolar rontok ke Rp 7.000. Secara psikologis, pasar tenang.
Masa puncak di mana suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dipasang di level ekstrem 60% hingga 70% ini berlangsung sekitar 5 hingga 6 bulan, yaitu dari Agustus 1998 hingga sekitar Januari 1999. Sidang MPR berlangsung 14 Oktober 1999
Tapi dalam hukum sirkuit ekonomi, bunga 70% itu adalah Impedansi (tahanan) super tinggi. Efeknya ke sektor riil? Horor.
Nggak ada satu pun bisnis legal di dunia yang punya untung bersih di atas 70% buat bayar bunga pinjaman bank. Kredit macet massal. thanks mas Ignatius Mardiyanto dalam diskusi di WAG yg memberi analogi sistem keuangan dg sistem listrik.
Sektor perbankan kita langsung kena Negative Spread parah: harus bayar bunga deposito 70% ke rakyat, tapi nggak bisa dapat pemasukan dari kredit. Bank-bank rontok dari dalam, modalnya habis terbakar. Lahirlah beban BLBI ratusan triliun yang ujungnya dicicil rakyat lewat APBN puluhan tahun.
Habibie butuh 9-12 bulan untuk turunkan dolar, itupun dengan cara² yg merugikan negara, seperti utang ke IMF, buka keran impor, jual BUMN, lepas Timor Leste, hentikan seluruh proyek strategis nasional, dst. Itupun dolar nggak balik ke Rp 2.500, cuma turun ke Rp 5.000. tetap saja naik 100% dibanding tahun 98.
trus sekarang mahasiswa cuma kasih waktu 18 hari untuk Prabowo turunkan dolar yg naiknya cuma 10-15%? begitulah anak kemarin sore, punya idealisme, tapi nggak paham dunia nyata, gak paham realita.
Masalah yang terjadi adalah, permintaan USD tinggi dibandingkan dengan stok/cadangan devisa yg ada di pasar, salah satunya karena BBM naik karena perang di selat Hormus yg sdh mendekati US$100 per barrel, ada pula perusahaan PMA yg beroperasi di Indonesia bagi-bagi dividen unt di bawa pulang ke negaranya dll otoritas moneter yg paling tahu kondisinya obatnya (treatment-nya) mudah, jangan menaikan suku bunga supaya ekonomi dalam negeri tetap berputar, berikan bantuan/bantalan ekonomi bagi masyarakat yang terdampak langsung, gunakan produk-pruduk dalam negeri stop atau kurangi produk impor yg digunakan untuk konsumsi, jika produk impor tersebut berupa material untuk di produksi kembali misal untuk tujuan ekspor dan dapat devisa harus dipercepat dan di permudah, intinya ekonomi dalam negeri harus tetap berputar.
Beli minyak dengan negara lain yg tidak perlu memakai dollar, misal dengan Rusia kalau bisa dinegokan dengan barter barang.
Jalin kerjasama ekonomi dg sebanyak mungkin negara sahabat yang saling menguntungkan dan tidak memerlukan mata uang dollar, misal dg cara barter tadi atau pakai mata uang local masing masing negara.
Ketika kita mampu mempertahankan ekonomi dalam negeri bisa terus perputar tidak perlu khawatir dengan penurunan kurs rupiah, pelan tapi pasti impor barang konsumsi akan stop atau berkurang, kemudian naikan gaji PNS dan swasta untuk meningkatkan konsumsi masyarakat dan menjaga daya beli kenaikannya sebanding atau lebih sedikit jika dibandingkan dengan persentase penurun kurs rupiah.
Permudah perizinan untuk membuka usaha, untuk usaha kecil jangan dikenakan pajak dan jangan ada biaya untuk membuka izin usaha, supaya ekonomi ditingkat bawah tetap berputar. barantas premanisme , pencuri,copet garong, supaya orang bisa berusaha dengan tenang, jangan seperti petani di Lampung Petani tidak mau lagi menanam lada atau kopi karena saat mutil preman datang bawa senjata tajam dengan alasan numpang mutil.