Ada ateis/kafir mengatakan: Alasan tak menyukai ibadah islam karena ‘reward’ ditentukan oleh lokasi.
Kalau ibadah adalah antara manusia dengan Allah, mengapa koordinat geografi bisa mengubah nilai ibadah?🤣
Sendirian 1x
Berjamaah 27x
al-Aqsha 500x
Masjid Nabawi 1000x
Masjid al-Haram 100,000x
JAWABANNYA BEGINI GAES:
Sebenarnya suka dan tidak suka itu menjadi hak pribadi. Tapi, kalau kata guru agama waktu aku sekolah dan dosen PAI-ku jaman kuliah S1 itu….
Pertama, soal berjamaah 27x dibanding sendiri. Di masa awal Islam, salat berjamaah bukan sekadar ritual kolektif. Masjid adalah pusat pendidikan, musyawarah, distribusi bantuan, hingga koordinasi saat komunitas Muslim berada dalam tekanan dan ancaman perang. Di Madinah, umat baru saja hijrah, rentan, dan berkali-kali menghadapi konflik seperti Badar, Uhud, hingga Khandaq. Dalam konteks itu, berjamaah membangun kohesi sosial, disiplin, solidaritas, dan rasa persatuan lintas status sosial. Jadi kalau diberi nilai lebih, logikanya bisa dipahami sebagai spiritual incentive untuk membangun komunitas yang kuat, bukan karena ibadah sendirian tidak bernilai.
Kedua, soal keutamaan lokasi seperti Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Al-Aqsa. Ini juga sering disederhanakan jadi “koordinat geografis menentukan pahala”. Padahal dalam sejarah Islam, tempat-tempat itu punya makna karena perjuangan dan pengorbanan besar yang terjadi di sana.
- Makkah adalah tempat umat Islam awal mengalami penyiksaan, boikot ekonomi, kehilangan harta, bahkan dipaksa hijrah.
- Madinah menjadi tempat membangun masyarakat baru dalam kondisi terus terancam perang.
- Al-Aqsa punya posisi historis sebagai kiblat pertama dan simbol panjang sejarah para nabi serta perjuangan umat lintas generasi.
Jadi yang dimuliakan bukan “lokasi” yang seolah-olah punya efek magical, melainkan makna spiritual dan historis yang melekat pada tempat itu; ruang yang menjadi saksi pengorbanan, perjuangan, dan pembentukan peradaban.
Sebenarnya manusia juga melakukan hal yang sama di luar agama. Kita menghormati medan perang, makam pahlawan, monumen perjuangan, atau tempat bersejarah bukan karena koordinatnya spesial, tapi karena nilai, memori kolektif, dan pengorbanan yang melekat di sana.
Jadi menurut sepengetahuanku, kalau dikatakan “reward ibadah ditentukan lokasi” itu agak menyederhanakan persoalan. Dalam perspektif Islam, yang dihargai bukan sekadar tempat atau angka, tapi juga konteks sejarah, pengorbanan, dampak sosial, dan makna spiritual yang menyertainya.
(By @axheeara)







kalo misal ada orang bilang kitab suci itu fiksi gimana, katanya kadrun dia sangat brilian dan cerdas saking cerdasnya bisa berucap spt itu
benci boleh,goblok jangan
untung bilangnya cuma “Kitab Suci” gak ada kata “Al Qur’an” nya, mungkin maksud dia itu kitab suci yg sering update ayat” nya dan beda” versinya macam novel atau cerita fiksi.
btw soal kadrun ya emang cerdas gak bego dan tolol macam kadal sawah, sudah bego dan tolol, jelek pula…
al quran itu termasuk kitab suci, penalaran lu nilainya brapa dulu?
Kualitas pemahaman mu sama kayak junjungan yg juga sesembahan mu woiii Anonim Babi guRun‼️ Sepanjang dia tak menyebutkan Alquran itu haknya dia. Beda kalau dia menyebutkan Alquran adalah kitab suci fiktif baru selesai itu orang. Sekolah lagi ya kamu GUOBLOKKKK‼️ Masih ada kesempatan kok. Tuh ada kejar paket A, B, C yg bisa kau ikuti.
Bhuahahahaha…huahahahaha…wkwkwkwk…😜😂😝🤣
berarti menurutmu alquran ga termasuk dari kitab suci? astaghfirullah drun perbaiki lagi nalarmu sebab fatal akibatnya
bagikusih kitab suci ya hanya alquran makanya bagiku itu pelecehan klo disebut kitab suci fiksi
ah kaum kafir mah sdh ditulis dlm Al Qur’an memang banyak alasan jika disuruh menyembah Allah Subhana wa ta’ala…
soal kemuliaan lokasi atau tempat,diluar konteks agama,juga berlaku dilingkungan kehidupan sehari² kita.
kalo orang yg waras mana mau makan,tidur,ibadah,terima tamu didalam WC sementara ada ruangan lain yg lebih baik & cocok buat beraktifitas.
masa perkara simpel kaya gini ga paham ?!
ga apa² kok jd orang goblok… tapi jgn diborong semua kaleeee
Manusia merupakan makhluk Allah yang terikat oleh ruang dan waktu, maka konsekwensi logisnya semua ibadah yang disyariatkan Allah pasti terikat oleh ruang/tempat dan waktu.
Waktu dan tempat yang mengikat ibadah kita adalah waktu dan tempat dimana kita berada. Adapun acuan waktu untuk ibadah kita berpatokan kepada peredaran Matahari dan atau peredaran Bulan yang juga diatur oleh Yang Maha Pencipta. Aturan Allah sejatinya untuk kemaslahatan hambanya, Allah ga memerlukan itu semua.
tidak semua universitas sama