WADUH… The Economist sebut Prabowo “Jenderal Preman”

The Economist, majalah bergengsi terbitan Inggris, minggu ini keluar dengan dua artikel tentang Presiden Prabowo. Artikel pertama berjudul (saya terjemahin), “Presiden Prabowo membahayakan ekonomi dan demokrasi.” Sub judulnya lebih menarik. “Prabowo Subianto terlalu boros dan otoriter.”

https://www.economist.com/briefing/2026/05/14/indonesias-president-is-jeopardising-the-economy-and-democracy

Artikel kedua berjudul, “Indonesia, negara mayoritas Muslim, ada pada jalur beresiko.” Sub judulnya, “Prabowo Subianto melemahkan keuangan negeri ini — dan juga demokrasinya.”

Banyak dari kita mungkin sudah tahu tentang betapa salah urusnya negeri ini. Presiden kita adalah yang berteriak paling keras anti korupsi. Ternyata, entah dia sadari atau tidak, ia sendiri di kelilingi oleh para koruptor. Ketika berpidato, merekalah yang menggangguk paling keras, bertepuk tangan paling kencang, dan tertawa paling terbahak-bahak.

Tapi urusan jadi lain ketika ditulis oleh The Economist. Rejim ini tidak bisa berkilah, ah itu media Barat. Mereka memang sentimen dengan Indonesia. Mereka tidak mau Indonesia maju.

Kritik yang lebih keras datang dari Kamar Dagang dan Industri China. Para pengusaha dari negara komunis ini menyoroti korupsi, salah urus, kebijakan yang berubah-ubah. Ini China. Bukan Barat.

Boros dan salah urus. Selain itu kejam luar biasa. The Economist menyebut Prabowo sebagai “the thuggish general.” Jendral preman — yang menabrak semua aturan bahkan aturan yang dibuatnya sendiri.

Sungguh kita sedang di ambang kebangkrutan. Tidak saja kebangkrutan moral tapi juga ekonomi. Kas kita kosong! Tapi kita keluarkan uang gila-gilaan seperti kita kaya raya — dengan tumpukan di belakang Presiden. Mata uang kita pun semakin tidak ada nilainya.

(Made Supriatma)

***

Catatan tambahan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 komentar

  1. si af masih denial terus bilang kadrun yemn yemn.
    wkwkwkwk, kok bisa yah hidup dalam kemunafikan begitu

  2. Sejak kapan The Economist itu dari yemn? si AF Kere kesot Kutu Kupret soal jilat EEK’ Jokibul dan Wowo, emang Ga Ada Obat Anjaay satu ini..