Setahun tinggal di Swedia, inilah bedanya dengan Indonesia

Cerita Carmelita (mantan atlet bulu tangkis nasional Indonesia spesialis ganda putri) tentang kehidupan di luar negeri dan dibandingkan di Indonesia, plus minusnya.

Berikut copas dari akun fbnya:

Gue pernah tinggal dan bekerja sebagai pemain badminton profesional di Swedia selama satu tahun. Tepatnya di kota Umea.

Jadi kalau gue ngomong soal enaknya tinggal di negara maju, gue bukan ngomong berdasarkan pengalaman jalan-jalan seminggu, foto di depan gedung bagus, makan di restoran cantik, lalu pulang dan bilang, “Wah, enak banget ya tinggal di luar negeri.”

Gue pernah tinggal di sana satu tahun full. Bangun pagi di sana, kerja di sana, belanja, naik kendaraan umum, hidup sebagai orang biasa di sana.

Dan memang, gue akui, ada banyak hal yang bikin hidup terasa lebih nyaman.

Yang paling terasa buat gue adalah udaranya.

Bersih. Segar. Nggak seperti Jakarta yang kadang baru keluar rumah saja sudah berasa menghirup knalpot.

Kemudian keteraturan.

Ini juga salah satu hal yang menurut gue luar biasa.

Jalanan teratur. Lingkungan teratur. Fasilitas umum teratur. Aturan jelas.

Nggak ada cerita lu punya rumah, depan pagarnya tiba-tiba dijadikan tempat orang jualan.

Trotoar yang seharusnya buat pejalan kaki tahu-tahu jadi tempat gerobak atau tenda jualan.

Lu mau keluar masuk pagar rumah sendiri malah harus zig-zag karena ada lapak orang.

Lu baru mau buka usaha, belum juga usaha jalan, sudah ada yang datang mengaku pemuda setempat, minta iuran, minta ini, minta itu.

Nah, di negara yang sistemnya sudah lebih tertata, hal-hal seperti itu jauh lebih minim.

Bukan berarti manusianya lebih baik.

Sistemnya yang dibuat bekerja.

Kalau mau buka usaha, ada aturan. Ada izin. Ada prosedur. Kalau sudah memenuhi ketentuan, ya jalan.

Bukan tergantung siapa yang paling kuat, siapa yang paling lama tinggal di situ, atau siapa yang merasa wilayah itu milik nenek moyangnya.

Transportasi umum juga terasa banget bedanya.

Kereta, bus, tram, semuanya terintegrasi. Banyak tempat bisa dicapai dengan jalan kaki dan kendaraan umum.

Jadi lu nggak harus punya mobil pribadi hanya untuk bisa hidup normal.

Kemarin gue di Melbourne juga baru tahu ternyata ada wilayah tertentu yang tram-nya gratis. Ada tandanya mana yang gratis dan mana yang harus bayar.

Fasilitas pendidikan juga sudah jauh lebih tertata.

Fasilitas kesehatan pun sistemnya sudah dibangun sedemikian rupa.

Tapi soal kesehatan gue nggak mau banyak komentar karena selama satu tahun gue tinggal di Swedia, gue nggak pernah sakit yang parah. Cuma flu aja karena perubahan cuaca yang drastis. Dingin 🥶. Jadi gue nggak punya pengalaman pribadi bagaimana rasanya berobat di sana, berapa biayanya, bagaimana sistem asuransinya, dan sebagainya.

Jadi jangan gue sok tahu.

Nah, sekarang pertanyaannya…

Apakah karena itu gue kemudian bilang Indonesia jelek?

Enggak.

Justru menurut gue, kita harus belajar membedakan antara “negara ini punya sistem yang lebih baik” dengan “negara ini lebih enak untuk semua orang”.

Itu dua hal yang berbeda.

Negara maju punya banyak kelebihan.

Tapi bukan berarti hidup di sana otomatis surga.

Biaya hidup bisa tinggi. Pajak bisa tinggi. Di Swedia pajaknya 40%. Cuaca bisa ekstrem. Jauh dari keluarga. Budaya berbeda. Belum tentu pekerjaan yang kita dapat di sana sama dengan pekerjaan yang kita punya di Indonesia.

Dan jangan cuma lihat foto orang di depan rumah cantik, naik tram, minum kopi, lalu berpikir, “Gue juga mau pindah.”

Ya silakan.

Tapi coba tinggal dulu.

Kerja.

Bayar pajak.

Bayar sewa.

Belanja kebutuhan sehari-hari.

Hadapi musim dingin.

Urus administrasi.

Sakit.

Cari pekerjaan.

Hidup sebagai penduduk biasa, bukan sebagai turis.

Baru setelah itu kita punya gambaran yang lebih utuh.

Sebaliknya, tinggal di Indonesia juga bukan berarti kita harus membela semua kekurangan yang ada.

Kalau sistem kita masih semrawut, ya bilang semrawut.

Kalau transportasi belum bagus, ya akui.

Kalau trotoar masih dipakai jualan, ya memang harus diperbaiki.

Kalau orang mau usaha masih bisa diganggu oleh pihak-pihak yang merasa punya wilayah, ya itu juga masalah yang harus dibereskan.

Menurut gue justru kecintaan terhadap Indonesia harusnya nggak membuat kita buta.

Kita boleh kagum sama negara lain.

Kita boleh bilang, “Wah, sistem mereka bagus.”

Kita boleh belajar dari mereka.

Tapi jangan sampai karena kagum sama negara lain, kita jadi membenci negara sendiri.

Dan jangan juga karena cinta Indonesia, kita jadi alergi terhadap kritik.

Gue pernah tinggal di negara maju, dan gue bisa bilang memang ada banyak hal yang gue suka dari kehidupan di sana.

Tapi setelah kembali ke Indonesia, gue juga semakin sadar bahwa ada banyak hal dari Indonesia yang baru terasa nilainya ketika kita jauh dari rumah.

Jadi buat gue sederhana.

Jangan terlalu mengagungkan luar negeri.

Jangan juga terlalu membanggakan Indonesia sampai nggak mau melihat kekurangannya.

Lihat dengan kepala dingin.

Yang bagus kita tiru.

Yang buruk kita perbaiki.

Karena negara maju itu bukan negara yang penduduknya semuanya lebih hebat.

Sering kali mereka hanya punya sistem yang lebih matang dan dijalankan lebih konsisten.

Dan menurut gue, itu yang seharusnya kita pelajari.

Bukan sekadar iri melihat hasil akhirnya.

(Sumber: fb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

  1. Bersih. Segar. Nggak seperti Jakarta yang kadang baru keluar rumah saja sudah berasa menghirup knalpot.

    MUI cabang Swedia sepertinya sudah mengeluarkan fatwa tentang knalpot beracun. Dan penduduk Swedia taat dengan sistem, mereka mematuhi fatwa. 😁✌️