Dr. Norman Finkelstein adalah seorang ilmuwan politik dan penulis berkebangsaan Amerika Serikat yang dikenal luas karena analisisnya yang tajam mengenai konflik Israel–Palestina.
Sebagai seorang keturunan Yahudi yang orang tuanya merupakan penyintas kamp konsentrasi Nazi, ia memiliki posisi yang sangat vokal dalam menentang eksploitasi penderitaan Holocaust untuk membenarkan kebijakan militer Israel terhadap Palestina.
Norman Finkelstein secara terbuka menyanggah klaim mengenai kekerasan seksual sistematis yang dituduhkan kepada Hamas selama serangan 7 Oktober 2023. Dalam berbagai kesempatan, termasuk saat mempromosikan buku barunya Gaza’s Gravediggers dan dalam wawancara di podcast terbaru bersama jurnalis Tucker Carlson, Finkelstein menyebut bahwa tuduhan pemerkosaan massal tersebut merupakan propaganda yang sengaja dibuat-buat oleh Israel tanpa bukti digital maupun forensik yang kuat.
Ketiadaan Bukti Visual: Finkelstein menyatakan telah meninjau ribuan foto dan puluhan jam rekaman video dari peristiwa tersebut. Menurutnya, tidak ditemukan satu bingkai (frame) pun yang menunjukkan anggota Hamas melakukan tindakan pemerkosaan atau kekerasan seksual.
Kritik terhadap Laporan PBB: Ia mengkritik laporan Utusan Khusus PBB Pramila Patten. Finkelstein menyoroti bahwa tim PBB tersebut tidak mewawancarai satu pun penyintas kekerasan seksual secara langsung dan hanya bersandar pada data yang disediakan oleh pemerintah Israel.
Dalam wawancara podcast terbaru bersama Tucker Carlson (video dibawah), Norman Finkelstein mengatakan:
“Sebagaimana diketahui oleh para pendengar Anda, muncul klaim bahwa Hamas menggunakan pemerkosaan dan kekerasan seksual sebagai senjata. Saya menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Lalu, saya mulai menelaah bukti-buktinya. Dan tidak ada bukti materiil yang mendukung klaim tersebut. Saya mengkhususkan bab pertama buku baru saya, bab yang berjudul “Rape Fantasies” (Fantasi Pemerkosaan)—untuk membahas hal ini. Saya menelusuri semua bukti yang diklaim ada, dan saya mendapati bahwa bukti-bukti tersebut tidak hanya tidak meyakinkan, tetapi bahkan tidak ada sama sekali.”
Tucker Carlson: “Apakah ini sepenuhnya rekayasa?”
“Ya. Anda bertanya apakah ini sepenuhnya rekayasa? Menurut saya, berdasarkan bukti-bukti yang telah diajukan, hal ini sepenuhnya rekayasa.
Mereka mengatakan memiliki 10.000 foto dan rekaman digital mengenai peristiwa tanggal 7 Oktober—10.000 jumlahnya. Mereka juga mengatakan bahwa jika Anda ingin melihat semuanya, dibutuhkan waktu 1.800 jam untuk menyaksikan seluruh bukti foto dan digital tersebut. Butuh waktu 1.800 jam.
Itu berarti, jika Anda seorang peneliti yang bekerja sendirian dan menelaah bukti-bukti ini—dengan asumsi Anda bekerja delapan jam sehari, setiap hari dalam seminggu—Anda akan membutuhkan waktu lebih dari tujuh bulan untuk memeriksa seluruh bukti foto dan digital terkait peristiwa 7 Oktober itu. Nah, inilah poin kuncinya.
Tidak ada satu pun gambar atau satu pun bingkai rekaman yang memperlihatkan Hamas melakukan pemerkosaan atau kekerasan seksual pada tanggal 7 Oktober.
Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bagaimana mungkin? Tidak ada satu gambar pun. Mereka mengatakan Hamas menyebarkan gambar-gambar kekerasan seksual tersebut untuk menjatuhkan moral dan menghancurkan semangat nasional.
Mereka (pemerintah Israel) berkata, “Kami memiliki rekaman dash cam Hamas. Kami memiliki rekaman kamera tubuh (body cam) Hamas. Kami memiliki rekaman GoPro Hamas.”
“Kami memilikinya.” Mereka bilang mereka memiliki banyak sekali gambar dari pihak Hamas, namun tidak satu pun dari gambar-gambar itu memperlihatkan kekerasan seksual atau pemerkosaan. Tidak ada satu gambar pun, sama sekali tidak ada.
Gambar-gambar itu diajukan oleh Israel, dan Amnesty International menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang bahkan mengklaim memiliki gambar semacam itu. Bagaimana mungkin hal itu terjadi?”
[VIDEO]







