Oleh: ‘Ashim an-Nabih
Aku tak pernah ragu untuk mengatakan bahwa perempuan-perempuan Gaza adalah perempuan tercantik di dunia. Seakan-akan Allah mengkhususkan bagi mereka sembilan persepuluh dari kelembutan, kecantikan, kasih sayang, kemolekan, pesona, kesabaran, ketabahan, kebijaksanaan, keakraban, kelembutan hati, kemanjaan, keluwesan, kekuatan, kecerdasan, keyakinan, dan mekarnya kehidupan.
Namun, dengan segala kepedihan, aku juga tak pernah ragu untuk mengatakan bahwa gadis-gadis Gaza adalah golongan yang paling remuk dan paling menderita dalam genosida yang terus berlangsung ini. Bukan hanya karena mereka merupakan bagian besar dari keseluruhan korban, tetapi karena begitu banyak rincian dan lapisan penderitaan sehari-hari yang tak mungkin ditampakkan oleh kata-kata, foto, ataupun rekaman video, bahkan meski hanya secuil darinya.
Aku telah melihat bagaimana banyak perempuan di dunia ini menjalani hidup: merawat kulit mereka, menata potongan rambut mereka, menjaga keanggunan dan pakaian mereka yang sejuk dari katun, bahkan memilih jenis tabir surya yang paling sesuai dengan kulit masing-masing. Makeup yang dibuat dari bahan-bahan organik, sesi laser dengan ketelitian yang luar biasa, perawatan protein rambut, dan begitu banyak hal lainnya—hal-hal yang benar-benar tampak wajar, bahkan masuk akal, bagi setiap perempuan di dunia ini.
Semua itu terjadi pada saat tabir surya telah menjadi kemewahan bagi gadis-gadis Gaza.
Dalam perang, mandi sekali sehari saja pernah menjadi sebuah peristiwa langka bagi perempuan-perempuan Gaza. Bahkan menemukan sampo untuk rambut—sampo jenis apa pun—telah menjadi impian bagi gadis-gadis Gaza.
Kita membutuhkan berjilid-jilid buku hanya untuk menggambarkan satu bab dari penderitaan sehari-hari perempuan-perempuan kita:
memasak di atas api,
mengobati tanpa obat,
mendidik tanpa sekolah,
memeluk dan menenangkan di tengah kecemasan dan depresi,
dan mempercantik diri di tengah kematian dan darah.
Betapa berat bagi kami untuk menceritakan luka perempuan-perempuan kami, sementara kami adalah makhluk yang paling cemburu dan paling menjaga mereka. Kami adalah anak-anak mereka, ayah-ayah mereka, suami-suami mereka, saudara-saudara mereka, dan kekasih-kekasih mereka.
Dan mereka adalah keamanan kami, harapan kami, impian kami, kebahagiaan kami, penghiburan kami, kesabaran kami, kemarahan kami, kepedihan kami, dan dendam kami.
Betapa berat bagi kami menangisi mereka karena kepedihan, bukan karena rindu.
Betapa berat bagi kami menghadiahkan tepung kepada mereka, bukan bunga.
Betapa berat bagi kami merayu dan mendekati mereka untuk menguatkan hati mereka, bukan untuk menggoda mereka.
Kesedihan atas Gaza adalah sebagian dari kesedihan atas perempuan-perempuannya…
Wahai kota para perempuan cantik, wahai Gaza.
Wahai kota para perempuan pemberani, wahai Gaza.
Wahai kota para perempuan lembut, sabar, yang akan selalu abadi—selamanya, meski Israel menghendaki sebaliknya.








Qodarullah…
entah terbuat dari apa hati para penguasa negeri2 muslim yang diam terhadap kekejaman zionis, padahal kalau mereka mau berpihak pada umat islam, mereka tidak akan sendiri, mereka akan mendapat dukungan dari seluruh umat dan tentunnya Allah SWT.
mereka takut kehilangan tahta dan kekuasaan dibanding takut kepada Allah SWT, padahal dunia ini hanya sebentar, seprti nenek yang pakai perhiasan
aamiin ya mujibassailin 🤲
Allohumansur ikhwanana wa mustadafina wamujahidina fii falestin…
Ya Allah, karuniakanlah kemenangan yang telah Engkau janjikan