PURBAYA TOKOPEDIA

Logikanya mudah saja,

  • Tokopedia atau toped adalah marketplace yang basisnya adalah pasar digital.
  • Kalau daya beli menurun, akibat berkurangnya pendapatan, orang akhirnya lebih berorientasi pada kebutuhan primer untuk bertahan hidup daripada scroll produk, maka otomatis transaksi digital sudah berkurang banyak. Apalagi Indonesia pinjolnya sudah sampai angka hampir 100 Trilyun gagal bayar alias macet!

Belum lagi sektor manufaktur lesu, pasar semakin mengecil karena daya beli turun drastis. Sementara ongkos produksi naik karena bahan baku, bahan mentah dan bahan penunjang naik akibat importasi harus dibayar dengan dollar dan kurs rupiah terhadap dollar semakin terdepresiasi alias melemah.

Banyak pengamat dan akademisi sudah peringatkan, waspadai Juli-Agustus gelombang badai datang. Kata simbok saya yang jualan di pasar, “pasar sepi le..sing tuku karo sing dodol, akeh sing dodol”. (Pasar sepi, yang jual dan yang beli, lebih banyak yang jualan).

Ya memang semua ada konsekuensinya….siapa yang menanam memanen, siapa yang memilih akan kehabisan dalih…Pak Mantan aja udah capek, nafsu hati berkeliling ingin melihat masih banyak yang memujanya. Hasilnya duit habis buat bayarin orang datang mengelukan. Orang nggak datang kalau nggak dikasih duit. Akhinya Pak mantan pulang ke Oslo…capek, duit keluar banyak, hasil belum pasti. Ya pak mantan dan rakyat sama benjutnya sekarang.

(Markijok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 komentar

  1. udah gitu masih aja semgnat ngasih apa-apa ke china, gak mau dikasih ke industri dalam negeri, alasannya lebih murah dan lebih cepat, ya lebih cepat mati yang di dalam negeri, padahal ntar bayarnya pakai utang