Banyak pengamat mengatakan pertemuan Xi Jinping dan Trump hanya panggung teater biasa saja. Berikut ringkasan dari para pengamat:
Trump pergi ke Beijing, disambut karpet merah, melihat anak-anak kecil melambaikan bendera kecil, mendengar Pak Jinping mengatakan bahwa hubungan akan lebih baik dari sebelumnya, namun pulang dengan tangan kosong.
Hari pertama pertemuan itu murni sandiwara, jenis teater diplomatik yang China kuasai dengan baik namun Trump menyukainya karena dapat menghasilkan headline di media, sesuatu yang ia bisa pamerkan di tengah tekanan domestik di AS sendiri.
Tapi kalau dilihat apa yang benar-benar terjadi, hasilnya biasa saja dan tidak istimewa.
AS-China memperbarui lisensi untuk 400 pabrik daging Amerika, namun tidak ada klausul yang msngikat kuat sehingga Beijing bisa membatalkan kesepakatan ini besok pagi jika mau.
Keduanya membicarakan pembelian minyak dari AS, yang sama sekali tidak masuk akal karena China sedang banjir minyak Iran dan Rusia dengan diskon yang tidak bisa ditandingi oleh Amerika.
Satu-satunya item yang tampak konkret, yaitu izin penjualan chip H200 Nvidia ke perusahaan-perusahaan China, menjadi etalase kosong karena Beijing mengarahkan Alibaba, Tencent, dan ByteDance untuk tidak membelinya.
Pak Jinping membiarkan produk AS itu seperti etalase pameran, buat nyeneng-nyenengin Trump, dan Trump seperti biasa gembar-gembor di media bahwa dia telah membuka pasar China.
Dan isu Taiwan, yang seharusnya menjadi topik panas dengan paket “11 miliar” itu, malah ga dibahas dan tidak menonjol dalam pernyataan resmi.
Para CEO teknologi yang ikut bepergian dengan Trump, yaitu Huang dari Nvidia, Cook dari Apple, Musk dari Tesla, Mehrotra dari Micron, Amon dari Qualcomm, dan lainnya, semuanya berada di sana meminta akses ke pasar yang sengaja ditutup China.
Di bawah Pak Jinping, China sudah membangun alternatif domestik untuk memori, chip mobile, komponen optik, GPU, dan tidak lagi perlu menandatangani apa pun dengan siapa pun.
Karena itu China tidak akan buru-buru menandatangani kontrak, tidak akan memberikan jaminan.
Mereka cukup sengaja menggantung semua kesepakatan soal chip, minyak, pertanian. Semua item itu akan dipakai sebagai daya tawar nanti pada saat yang tepat menurut China sendiri, bukan menuruti maunya Trump.
Jadi Trump pulang bawa foto untuk kampanye, Xi mengulur waktu yang dibutuhkan dunia untuk berubah secara permanen.
Pertemuan ini lebih bersifat simbolis dan stabilisasi, bukan kesepakatan besar yang mengubah permainan. Tidak ada “deal besar” komprehensif seperti yang diharapkan Trump sebelumnya
Tidak ada kesepakatan dagang besar atau penghapusan tarif secara menyeluruh (hanya kelanjutan gencatan senjata sebelumnya).
Tidak ada komitmen konkret soal chip semikonduktor, AI, atau akses pasar teknologi yang mendalam.
Tidak ada terobosan struktural; banyak yang masih berupa “minat” atau janji.
AS bahkan belum tahu apa sesungguhnya yang sedang dimainkan China dalam teater diplomatik ini.
Dalam bahasa Sun Tzu: “Jadikan rencanamu gelap seperti malam, dan ketika kau nanti bergerak, seranglah seperti kilat.”
(Triwibowo Budi Santoso)







Lebih parahan mana sama yg ini: Jokowi dan Luhut datang berkunjung ke Amrik, menemui Elon Musk, lalu bilang sdh terjadi kesepakatan Tesla mau invest di Indon. Termul menyanjung2 setinggi langit. Sampe sekarang, mobil Tesla sj gak pernah nongol di sini, boro2 pabrik battery-nya … lebih bodohnya lagi prsiden berikutnya msh menyanjung2 jokowi sbg orang yg sgt berjasa bagi negeri ini … hidup jokowi! hidup jokowi! Goblok kok ditelen sendiri, mas Anies, mas Anies …