Pdt. Albertus M. Patty: Kontroversi Pernyataan Jusuf Kalla “Problem Interpretasi Agama”

Kontroversi Pernyataan Jusuf Kalla “Problem Interpretasi Agama”

Oleh: Pdt. Albertus M. Patty

Ketika Jusuf Kalla (JK) mengatakan dalam ceramahnya di kampus UGM bahwa konflik Islam dan Kristen dipicu oleh keyakinan bahwa “mati atau mematikan orang itu syahid,” sebagian umat Kristen tersinggung. Reaksinya tegas, bahkan ada yang akan menuntut JK ke pengadilan dengan tudingan pelanggaran Undang-undang Penistaan Agama. Ironisnya, PGI sendiri pernah menyatakan ketidaksetujuannya terhadap UU Penistaan Agama karena berpotensi melumpuhkan kebebasan berpendapat dan bisa disalahgunakan untuk mengkriminalkan orang yang berbeda penafsiran agamanya.

Terlepas dari itu, ucapan JK telah menimbulkan perdebatan ramai di internal umat Kristen. Sebagian bertanya bagaimana seharusnya umat Kristen merespons pernyataan JK di atas. Nah, tulisan ini akan mendedah secara etis-teologis pernyataan JK di atas, dan usulan bagaimana umat Kristen, secara kritis dan rasional, merespons pernyataan JK itu.

Agama Cinta

Respons keras dan tegas sebagian umat dan organisasi Kristen terhadap pernyataan JK dapat dipahami. Secara teologis, memang benar: Kekristenan tidak pernah mengajarkan bahwa membunuh orang lain sebagai jalan menuju kemuliaan. Membunuh atau mematikan orang lain bukanlah jalan menjadi ‘syahid’ (bahasa Arab) yang artinya menjadi saksi.

Sebaliknya, Yesus justru berkata, “Kasihilah musuhmu.” Bukan kalahkan atau tumpas musuhmu! Atas dasar ini, umat Kristen selalu mengklaim bahwa inti nilai dan moralitas kekristenan adalah kasih. Dalam standar Injil, menampar balik saja dianggap terlalu agresif. Yesus justru mengajarkan perlunya penguasaan diri, bahkan dalam situasi yang sangat memancing emosi dan kekerasan. “Bila ditampar pipi kirimu, berikan pipi kananmu,” kata Yesus (Matius 5:39). Intinya, menjadi saksi itu harus dengan jalan cinta kasih, bukan kekerasan.

Realitas Ambigu

Setuju atau tidak, kekristenan itu mengandung realitas yang ambigu. Bukan pada inti ajarannya tentang kasih, tetapi pada cara teks, tradisi, dan praktiknya dihidupi dan ditafsirkan dalam sejarah. Kita perlu melihatnya dengan jernih, tanpa romantisasi, tetapi juga tanpa sinisme berlebihan.

Ambiguitas itu dimulai pada teks kitab suci itu sendiri. Alkitab memuat dua jenis suara yang tampak bertentangan:

Di satu sisi:
“Kasihilah musuhmu,” kata Yesus (Matius 5:44).

Di sisi lain:
Mazmur dan kisah-kisah perang yang berbicara tentang menghancurkan musuh (Mazmur 144).

Ambiguitas ini bukan karena Alkitab “bingung” dan tidak konsisten, tetapi karena ia adalah perpustakaan iman yang lahir dari berbagai konteks sejarah: dari perang, pembuangan, hingga refleksi spiritual yang mendalam.

Dalam sejarah panjang Kekristenan orang Kristen, terutama politisi, sering ‘memanfaatkan’ teks kitab suci di atas untuk membenarkan Kekerasan dengan Ayat Suci.” Dari Perang Salib hingga konflik geopolitik modern, Alkitab kadang berubah fungsi: bukan lagi kitab suci, tetapi semacam “manual legitimasi kekerasan dan perang ilahi.”

Di titik ini, teologi berubah menjadi ideologi. Fenomena ini terlihat jelas dalam pemikiran Kristen Zionisme, yang sering mengaitkan janji-janji Alkitab dengan dukungan tanpa syarat terhadap proyek geopolitik tertentu, termasuk dalam perang US-Israel vs Iran yang sedang berlangsung. Di sini, teks suci tidak lagi ditafsirkan melalui kasih, tetapi melalui peta militer dan kepentingan nasional dan berbagai kepentingan lainnya, termasuk kepentingan ekonomi dan energi.

Dalam teks doa yang beredar di Pentagon yang disampaikan oleh Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, banyak kutipan dari ayat-ayat Kitab Suci, terutama dari kitab Mazmur. Isinya permohonan penghakiman ilahi atas musuh (Karen. E. Park, NCR Online, 8 April 2026).

Hegseth memulai doanya dengan kata-kata: “Allah Yang Mahakuasa yang melatih tangan kami untuk berperang dan jari-jari kami untuk bertempur.” Kalimat ini diambil dari Mazmur 144. Ketika Hegseth memohon agar Tuhan “mematahkan gigi orang fasik,” ia sebenarnya menggunakan Mazmur 3:7 dan Mazmur 58:6, yang berbicara tentang Tuhan yang “mematahkan gigi orang-orang jahat.” contoh ini sudah cukup menggambarkan bagaimana ayat-ayat kitab suci digunakan untuk menjustifikasi kekerasan dan perang.

Ambiguitas ini yang membuat semua pihak merasa paling setia pada Tuhan. Yang satu berkata, “Kasih adalah inti iman.” Sementara orang seperti Pete Hegseth akan berkata, “Ya, tapi kasih butuh perlindungan dengan senjata dan rudal.”

Problem Penafsiran

Di sinilah Agustinus dari Hippo masuk sebagai “penafsir damai” dalam tradisi Kristen. Ketika ia membaca Mazmur yang penuh seruan kekerasan: tentang menghancurkan musuh dan mematahkan gigi orang fasik, ia tidak membayangkan tank atau rudal. Agustinus justru membayangkan pergulatan batin melawan dosa. Bagi Agustinus, musuh utama manusia bukanlah orang lain, melainkan nafsu dan kejahatan dalam diri sendiri.

Interpretasi ini sangat indah, tetapi tidak untuk dunia politik praktis.

Dalam konteks tertentu, seorang politisi atau pemimpin militer bisa saja membaca ayat “Tuhan melatih tanganku untuk berperang” dan berpikir: “Aha, ini jelas dukungan ilahi untuk perang yang butuh anggaran pertahanan yang lebih besar.”

Lalu, dimana letak persoalannya? Persoalannya bukan pada ajaran resmi agama, tetapi pada fleksibilitas manusia dalam menafsirkannya. Kita semua adalah penganut ‘tafsiran’ Kitab Suci. Meski Kitab Suci-nya sama, tetapi bisa ditafsirkan sedemikian rupa sehingga melahirkan dua dunia yang saling bertentangan: satu penuh kasih dan pengampunan, satu lagi penuh pembenaran kekerasan dan berbau kematian. Yang satu melahirkan teologi kehidupan. Yang lain melahirkan ideologi kematian. Kita adalah penganut salah satu tafsiran.

Dalam konteks ini, pernyataan Jusuf Kalla memang keliru secara teologis, tetapi secara sosiologis dan realitas sejarah tidak sepenuhnya absurd. Ia mungkin salah memahami doktrin Kristen, tetapi ia tidak sepenuhnya salah membaca realitas umat beragama, termasuk yang semodel dengan Pete Hegseth, yang kadang lebih cepat mengutip Mazmur perang daripada Khotbah di Bukit. Oleh karena itu, meski dengan tegas kita mengeritisi JK yang menggunakan perspektifnya dalam menafsir ajaran Kristen, tetapi realitas sejarah dan sosiologis yang ada membuat kita bisa memahaminya secara matang dan rasional.

Jadi, betapa pun gundah, umat Kristen perlu sedikit bercermin.

Bukan untuk membenarkan pernyataan JK, tetapi untuk mengakui bahwa iman yang sama bisa dipakai untuk dua hal yang sangat berbeda: memeluk musuh dengan cinta, atau membunuhnya.

Teolog Agustinus dari Hippo, yang penafsirannya sangat mempengaruhi tradisi Kristen, menegaskan bahwa setiap tafsir terhadap kitab suci harus membangun kasih kepada Allah dan sesama. Bila ucapan Yesus dan penafsiran Agustinus tentang kasih kita hayati maka kitab suci akan menjadi penuntun nilai-nilai moralitas Kristen yang membangun kebangsaan dan kemanusiaan, bukan menjadi instrumen untuk menjustifikasi kebencian, konflik dan kekerasan.

Bandung,
13 April 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *