Jadi begini warga yang Budiman dan budiwati…
Tak jelaskan sedikit kenapa petani lebih memilih membuang hasil panen nya daripada memberikan ke orang lain yang kalian anggap lebih bermanfaat, karena ini efeknya jangka panjang, jadi jangan hakimi petani yang melakukan hal tersebut.
Saya kasih tahu sebab dan alasannya…
Saat panen melimpah, pasokan banjir tapi permintaan tidak ikut naik, harga bisa jatuh sangat rendah, saya kasih contoh, misalnya harga Rp5.000–Rp15.000 per keranjang besar, sementara biaya keranjang + tali saja sudah Rp9.000–Rp11.000.
Membuang lebih murah daripada memanen, mengangkut, dan menjual karena:
Biaya panen tenaga kerja+ transportasi ke pasar sering lebih besar daripada uang yang diterima, alias petani tambah merugi.
Memberikan Gratis Justru Bisa Merusak Harga Lebih Parah (Efek Pasar Jangka Panjang)
Kalau petani bagi-bagi gratis dalam jumlah besar, masyarakat atau pedagang akan mengharapkan harga murah/gratis di masa depan.
Ini membuat harga di pasar sulit naik kembali, bahkan saat pasokan normal. Petani rugi berkepanjangan karena pasar “terbiasa” dapat barang murah.
Membuang sebagian hasil bisa mengurangi pasokan di pasar membantu harga stabil atau naik sedikit di kemudian hari, meski ini bukan solusi ideal.
Biaya Logistik dan Penanganan yang Tinggi untuk Donasi
Hasil tani seperti sayur dan buah sangat mudah busuk, umur simpan pendek, butuh pendingin
- Memberikan gratis memerlukan akan biaya lagi
- Panen manual (biaya tenaga kerja).
- Pengemasan yang layak.
- Transportasi ke tempat distribusi (masjid, panti asuhan, atau kota).
Petani kecil biasanya tidak punya infrastruktur itu. Kalau dipaksakan, biayanya bisa lebih besar daripada nilai barangnya.
Di daerah terpencil, akses pasar saja sudah susah, apalagi distribusi donasi.
Tidak Ada Pembeli Tetap atau Infrastruktur Penyimpanan
Banyak petani bergantung pada tengkulak atau pasar lokal. Saat harga anjlok, tengkulak pun enggan beli.
Tidak ada gudang pendingin skala kecil yang murah, barang cepat rusak kalau ditahan.
Memberi gratis dalam volume besar juga tidak realistis karena orang yang mengambil biasanya terbatas, sementara hasil panen bisa puluhan ton.
Petani Harus Tetap Hidup dan Bayar Hutang
Petani punya biaya tetap pupuk, bibit, sewa lahan, hutang ke tengkulak/bank, kebutuhan keluarga.
Kalau terus rugi karena bagi gratis, mereka tidak bisa tanam musim berikutnya bisa bangkrut total.
Membuang adalah cara “mengurangi kerugian lebih besar” agar bisa bertahan untuk musim depan. Dalam case ini contoh timun itu dibuang di sungai itu Mungkin hanya sebagian saja, karena mereka juga harus berpacu dengan waktu untuk pengolahan lahan untuk ditanami kembali dan mengurangi kerugian dari mengeluarkan biaya transportasi.
Petani bukan mau membuang hasil kerja kerasnya. Mereka terpaksa karena ekonomi yang keras, biaya > pendapatan, plus risiko merusak pasar jangka panjang kalau dibagikan gratis secara masif. Ini masalah struktural pertanian Indonesia, fluktuasi harga, ketergantungan tengkulak, infrastruktur lemah, dan rantai pasok yang tidak fleksibel.
Solusi jangka panjang hilirisasi (olahan makanan), koperasi petani yang kuat, gudang penyimpanan, kontrak langsung dengan buyer besar, atau program pemerintah yang serap surplus saat panen raya. Tanpa itu, fenomena ini akan terus berulang setiap musim panen melimpah.
Paham ya sampai disini ,atau ada tambahan lagi?
(@BangBib4)







blm denger tuh koperasi merput punya ide ky gini
kalo di spanyol dibikin event wisata dlm hal ini tomat .tomat yg ber ton2 ditumpahkan, mereka mandi tomat , di buat lempar2 an sesama turis. dan ini ada setiap panen besar .