Jokowi hidup dari kontroversi

Kalau tidak ada konflik, Jokowi tidak akan hidup. Kartunya mati. Semakin tinggi tingkat konfliknya, semakin tinggi pula peluang kartunya tetap hidup. Apalagi, kalau semakin lama dan berlarut. Jokowi bukan penganut stabilitas seperti halnya Prabowo.

Prabowo semua orang/kelompok dirangkul, diberi posisi. Jokowi tidak. Jokowi meninggalkan PKS, Demokrat, dan PAN, sebagai oposisi. Belakangan baru menarik PAN. Artinya, konflik yang diinginkan Jokowi adalah konflik yang bisa dikendalikannya.

Lihatlah, daya tahan Jokowi konflik soal ijazahnya. Peter F Gontha sampai mengatakan tak masuk akal kalau ijazah Jokowi itu asli. Justru lebih masuk akal kalau ijazah Jokowi itu palsu. Ini terkait konflik yang berlarut-larut yang sepertinya tak akan berakhir itu.

Apakah konflik soal ijazahnya ini masih di bawah kendali Jokowi? Masih. Meski sudah ditangan JPU dan Hakim. Apalagi, hanya sekadar kontroversi soal pemberian gelar adat, baik di Lampung maupun di NTT, baru-baru ini. Jokowi sudah menghitungnya.

Diberi gelar Raja Timur, siapa yang tak mau? Tapi, pasti ada saja pihak yang menolak. Begitu juga pemberian gelar ada di Lampung. Menginjak kepala kerbau bertanduk pula. Ini bukan soal adatnya, tapi konflik yang memang seperti sengaja diciptakan.

Di negeri ini, konflik itu terlalu banyak bisa terjadi. Tak diciptakan pun, konflik itu telah hidup di tengah masyarakat kita. Apalagi kalau sengaja diciptakan. Karena itu, kartu politik Jokowi memang sulit mati. Tapi kartu hidup tak selalu berakhir menang besar. Menang kecil mungkin.

(ERIZAL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar