Munculnya figur seperti Pete Hegseth dalam kancah politik dan kebijakan keamanan Amerika Serikat bukan sekadar fenomena pergantian pejabat, melainkan sinyal menguatnya narasi konfrontatif yang berakar pada Islamofobia sistemik.
Hegseth, yang dikenal sebagai veteran militer dan komentator media, telah lama memosisikan dirinya bukan hanya sebagai kritikus politik, tetapi sebagai “pejuang budaya” yang melihat Islam bukan sebagai agama, melainkan sebagai ancaman eksistensial terhadap peradaban Barat.
Perang Salib Modern
Landasan utama yang mendasari tuduhan Islamofobia terhadap Hegseth adalah kegemarannya menghidupkan kembali romantisme Perang Salib. Penggunaan tato bertuliskan “Deus Vult” (Tuhan Menghendakinya) di tubuhnya bukan sekadar seni rajah, melainkan simbol yang secara historis digunakan oleh tentara Salib dan kini kerap diadopsi oleh kelompok supremasi kulit putih. Bagi Hegseth, dunia sedang berada dalam fase “American Crusade”, sebuah perang suci di mana identitas Kristen-Barat harus dipertahankan dengan cara-cara militeristik yang agresif terhadap apa yang ia labeli sebagai “ekstremisme Islam”.


Hegseth dan Destabilisasi Timur Tengah
Sentimen pribadinya terhadap Islam bertransformasi menjadi sikap politik yang sangat berbahaya ketika berbicara mengenai kebijakan luar negeri, khususnya terhadap Iran. Hegseth merupakan salah satu pendukung paling vokal bagi serangan militer preemptif. Ia tidak hanya mendorong penghancuran infrastruktur militer, tetapi secara kontroversial mendukung serangan terhadap situs-situs budaya di Iran—sebuah tindakan yang secara moral dan hukum internasional dianggap sebagai upaya penghapusan identitas suatu bangsa.

Keterlibatannya sebagai “arsitek” pemikiran di balik kebijakan keras terhadap Iran menunjukkan bahwa pandangannya tidak berhenti pada retorika televisi. Ia memiliki pengaruh nyata dalam mendorong eskalasi konflik yang berpotensi memicu ketidakstabilan global, didorong oleh persepsi bahwa diplomasi dengan negara Muslim adalah bentuk kelemahan.
Normalisasi Pelanggaran Etika Perang
Hal yang paling mengkhawatirkan dari sosok Hegseth adalah upayanya menormalisasi kekerasan di medan perang. Advokasi gigihnya untuk memberikan pengampunan bagi tentara AS yang melakukan kejahatan perang di negara-negara Muslim menunjukkan minimnya empati terhadap korban sipil Muslim. Bagi Hegseth, aturan hukum internasional seringkali dianggap sebagai hambatan bagi militer untuk “menang”, sebuah pandangan yang memberikan legitimasi moral bagi tindakan dehumanisasi terhadap musuh yang ia identifikasi lewat latar belakang agama dan etnis.
Pete Hegseth adalah manifestasi dari Islamofobia yang terlembagakan. Dengan menggabungkan latar belakang militer, jangkauan media yang luas, dan akses ke lingkaran kekuasaan, ia berhasil mengubah kebencian sektarian menjadi argumen kebijakan strategis. Menjadikan sosok dengan pandangan sempit seperti ini sebagai rujukan kebijakan keamanan adalah ancaman serius bagi perdamaian dunia, karena ia memandang hubungan internasional bukan melalui kacamata kerja sama, melainkan melalui bayang-bayang perang agama yang seharusnya sudah ditinggalkan berabad-abad silam.
HAA-Dehills institute






