Islam tidak bisa disamakan dengan ideologi manapun buatan manusia

🔴Banyak orang mengira dirinya hidup tanpa ideologi.

Mereka berkata, “Saya hanya ingin hidup tenang,” atau “Saya tidak ikut-ikut urusan ideologi.”

Padahal, setiap keputusan yang kita ambil tentang tujuan hidup, cara mencari bahagia, dan bagaimana memandang manusia selalu berpijak pada ideologi tertentu, entah disadari atau tidak.

  • Jika kamu memutuskan hidupmu untuk mengejar kekayaan, maka orientasimu adalah materi dan tanpa sadar kamu telah menjadi materialis.
  • Jika kamu memutuskan hidupmu untuk mengejar kebebasan mutlak tanpa batas, kamu sedang memuja liberalisme.
  • Jika kamu hidup hanya untuk bangsa dan suku, maka kamu adalah nasionalis.
  • Jika kamu hanya ingin tenang, sabar, dan menerima takdir tanpa memperjuangkan perubahan, maka kamu hidup sebagai stoik.
  • Jika kamu menolak agama dan meyakini bahwa manusia bisa hidup tanpa Tuhan, maka kamu sedang tunduk pada sekularisme atau bahkan ateisme.
  • Jika kamu meyakini bahwa hidup hanyalah hasil evolusi kera, bahwa manusia tidak punya tujuan selain bertahan hidup, maka kamu seorang darwinis.
  • Dan jika kamu berkata bahwa hidup tidak punya makna apa-apa, nggak ada tujuan, bahwa semua hal sia-sia dan kosong, maka kamu sedang hidup dalam nihilisme.

Semua orang berideologi. Tidak ada hidup yang netral dari nilai dan arah. Yang berbeda hanyalah ideologi mana yang menjadi poros hidupmu.

Namun, semua ideologi buatan manusia memiliki keterbatasan:

  • Stoikisme berhenti di batin
  • Kapitalisme berhenti di harta
  • Nasionalisme berhenti di batas
  • Darwinisme berhenti di tubuh
  • Nihilisme berhenti di kehampaan
  • Sekularisme berhenti di dunia
  • Dan Postmodernisme berhenti di kebingungan.

Namun Islam memandang manusia lebih tinggi dari itu semua:

  • Manusia bukan hewan yang bekerja untuk bertahan hidup.
  • Bukan mesin ekonomi, bukan budak bangsa, bukan makhluk tanpa makna.
  • Islam memuliakan manusia sebagai ʿabdullāh (hamba Allah) dan khalīfatullāh (wakil Allah di bumi).
  • Ia memiliki ruh, akal, dan amanah; hidupnya bukan kebetulan, tapi ada tujuan.

Islam datang sebagai sistem hidup yang sempurna.
Ia tidak lahir dari filsafat hayalan manusia yang hina tapi dari wahyu pencipta manusia.
Ia tidak memisahkan antara dunia dan akhirat, antara pribadi dan negara, antara ibadah dan sosial.

Dalam Islam, cara kencing diatur agar menjaga kebersihan.
Cara makan harus halal, diatur agar menjaga kesehatan.
Cara berdagang diatur agar terhindar dari penipuan dan riba.
Cara memimpin diatur agar keadilan tegak di bumi.
Semua ada tuntunannya, karena Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi ideologi peradaban.

Islam mengatur kehidupan dari perkara paling kecil hingga perkara paling besar.

Itulah sebabnya Islam tidak bisa disamakan dengan ideologi buatan manusia.

Yang lain menebak bagaimana manusia seharusnya hidup; Islam memberi tahu langsung dari Pencipta kehidupan.

Maka siapa yang menolak aturan Islam, hakikatnya bukan sedang menolak syariat, tapi sedang menolak kebenaran fitrahnya sendiri.

(NGOPIDIYYAH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *