Genteng vs Seng

Genteng vs Seng

Sebenarnya, 58% rumah di Indonesia itu sudah pakai atap genteng. Hanya 31% saja yang pakai seng. Sisanya pakai jenis atap lain. Di Pulau Jawa, malah lebih ekstrem lagi datanya, 90-95% rumah-rumah di provinsi Jawa sudah pakai atap genteng.

Di mana yang atap sengnya tinggi? Di Sulawesi 95% pakai atap seng. Sumatera Barat juga banyak, Bangka Belitung, Papua, provinsi-provinsi di Indonesia Timur. Apa alasannya? Sebenarnya sih lebih karena kelaziman saja. Atau alasan mudah dan cepat dipasang, biaya. Atau alasan “tidak mau tinggal di bawah atap terbuat dari tanah.”

Data-data ini ada di BPS, saat mereka survey. Bukan data karang-karangan Tere Liye.

Nah, ironisnya, BPS itu juga survey sesuatu yang sangat penting dibanding data atap loh.

Apa itu? Rumah layak vs tidak layak huni. Inilah statistik yang jauh lebih penting.

Karena kalau soal seng vs genteng, itu tuh tidak bunyi datanya. Buat apa? Buanyak rumah yg sangat layak beratap seng. Pun sebaliknya, rumah-rumah tidak layak huni beratap genteng.

Data yang super penting itu adalah: RTLH, alias Rumah Tidak Layak Huni.

Menurut data BPS, ada 35% lebih rumah tidak layak huni di Indonesia–crazy, sepertiga lebih. Bahkan di Jakarta, yg sepelemparan batu dari Istana, ada 1,77 juta keluarga yang TIDAK punya rumah layak huni.

Saya mengira, saat pemerintah melihat data-data ini, maka mereka akan fokus ke rumah TIDAK layak, lantas melakukan upaya serius menanganinya, eh ternyata mereka bahas gentengnya. Padahal, memangnya jika semua sudah beratap genteng semua Rumah Tidak Layak Huni sebesar 35% jadi turun? Nggak nyambung.

Kemana sih tujuan omon-omon soal genteng ini? Proyek.

Anggaran 1 triliun (misalnya) buat gentengisasi, jadi itu barang.

Sekali disahkan, politisi-politisi Gerindra, PSI, Golkar, dkk bisa jadi calo ke pengusaha genteng deh.

Mendadak jadi pengusaha genteng–sama kayak MBG, mendadak punya dapur (sambil membual UMKM, ekonomi rakyat, lapangan kerja).

Saya kasihan lihat SENG. Apa sih dosa SENG? Iyyaaa, atap seng itu tidak indah. Tapi ssst, pabrik2 punya Prabowo, dkk bukankah pakai atap seng semua loh?

Aduh, kayaknya dosa SENG itu sederhana sekali, gara-gara namanya “SENG”.

HEEEI ANTEK-ANTEK A-SEENG!!

Jadilah Prabowo ilfil sama SENG.

(Tere Liye)

Komentar