GAZA “The Power of Kepepet”

Oleh: Joko Intarto

Ini contoh lain tentang ”the power of kepepet”. Di tengah kesulitan hidup akibat pendudukan Israel, Enas Al-Ghoul, seorang insinyur pertanian Palestina berhasil mengubah krisis menjadi inovasi: Alat distilasi surya dan kompor surya.

Meski sederhana karena dibangun dari puing-puing rumah yang hancur, produk inovatif ini boleh disebut ”produk brilian” karena bisa memurnikan air laut asin untuk penggunaan sehari-hari, sementara panas yang ditangkap memungkinkan dia memasak makanan. Kreativitas itu membantu warga Gaza bertahan hidup dalam keterbatasan.

Inovasi Enas itu saya baca di platform X usai subuhan tadi, di akun milik Er. J Ahmad, seorang pegiat inovasi sosial. Meski baru diunggah beberapa jam (18 Maret 2026), postingan itu telah ditonton 31,3 ribu kali.

Prinsip Kerja:

Prinsip kerja alat buatan Enas Al-Ghoul (juga dikenal sebagai Inas al-Ghul) adalah distilasi surya (solar distillation) yang sederhana dan brilian, dibuat dari bahan daur ulang seperti kayu, kaca, terpal, dan arang aktif. Alat ini tidak butuh listrik, panel surya, atau filter mahal—hanya mengandalkan sinar matahari yang melimpah di Gaza.

1# Air asin atau tercemar dimasukkan ke bak penampung

Alat berbentuk kotak atau trough (saluran) kayu dengan dasar hitam (untuk menyerap panas maksimal) dan ditutup kaca miring. Air laut atau air kotor dari sumur tercemar dituang ke dalamnya.

2# Pemanasan & evaporasi (penguapan)

Sinar matahari masuk melalui kaca, menciptakan efek rumah kaca. Suhu di dalam bak naik drastis (bisa mencapai 60–80°C atau lebih), sehingga air menguap. Garam, mineral, bakteri, dan kotoran lain tidak ikut menguap dan tertinggal di dasar bak.

3# Kondensasi (pengembunan)

Uap air naik ke kaca yang lebih dingin (karena kontak dengan udara luar). Uap mengembun menjadi tetesan air murni di permukaan dalam kaca.

Pengumpulan & pemurnian akhir

4# Penampungan Air Embun

Tetesan air mengalir mengikuti kemiringan kaca ke saluran penampung. Air ini kemudian dialirkan melalui selang hitam atau pipa ke lapisan arang aktif untuk menyaring sisa-sisa kotoran organik. Hasilnya: air 100% bersih dan layak minum.

Alat ini portabel, bisa dibuat ukuran kecil hingga besar (7–20 meter), dan menghasilkan air murni dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan harian keluarga atau komunitas (beberapa liter hingga puluhan liter per hari tergantung ukuran dan sinar matahari).

Bagaimana panasnya digunakan untuk memasak?

Enas tidak hanya membuat penyuling air, tapi juga kompor tenaga surya (solar cooker) dari bahan serupa (kayu daur ulang, pecahan kaca/cermin). Kedua alat ini sering digunakan di tempat yang sama (atap rumah atau kamp pengungsian), sehingga “panas yang dihasilkan” dari matahari langsung dimanfaatkan untuk dua hal sekaligus.

1# Kompor surya memfokuskan sinar matahari (dengan cermin atau desain box) ke dalam panci.

2# Makanan dimasak secara termal dalam satu panci (nasi, sayur, lauk) tanpa api, tanpa asap, dan tanpa gas.

3# Waktu memasak hampir sama dengan kompor biasa, tapi jauh lebih sehat dan aman di tengah kelangkaan bahan bakar.

Jadi, meski secara teknis dua alat terpisah, keduanya bekerja dengan satu sumber energi yang sama (matahari), dan Enas sering menempatkannya berdampingan sehingga panas matahari “langsung” digunakan untuk memurnikan air sekaligus memasak makanan di lokasi yang sama.

Ini adalah inovasi genius yang mengubah krisis air & energi di Gaza menjadi solusi berkelanjutan dengan bahan murah dan mudah dibuat siapa saja.

Enas sendiri mengatakan, “Penyuling surya adalah alat yang menggunakan energi matahari untuk menghasilkan air minum dengan cara memanaskan air hingga menguap, kemudian uapnya mengembun kembali menjadi air murni.Sedangkan kompor surya adalah alat memasak dengan cara termal menggunakan energi matahari.”

Kalau krisis energi global meluas ke seluruh dunia, jangan-jangan kita harus menggunakannya pula.(jto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar