Miko Peled, putra jenderal Israel terkemuka yang kini mendukung Palestina: “Tidak ada Zionisme yang baik”

Miko Peled, putra seorang jenderal Israel terkemuka yang menyaksikan langsung kekejian genosida Israel dan kini berdiri bersama perjuangan pembebasan Palestina: “Tidak ada Zionisme yang baik, itu adalah ideologi rasis dan kekerasan.”

Miko Peled adalah seorang aktivis kemanusiaan, penulis, dan mantan tentara IDF keturunan Israel-Amerika yang dikenal karena penolakannya yang keras terhadap Zionisme dan dukungannya yang penuh terhadap perjuangan pembebasan Palestina. Ia lahir dari keluarga Zionis terpandang di Yerusalem; kakek dari pihak ibunya adalah salah satu tokoh yang menandatangani Deklarasi Kemerdekaan Israel, sementara ayahnya, Mattityahu (Matti) Peled, adalah seorang jenderal terkemuka dalam Perang Enam Hari tahun 1967.

Kisah transformasi ideologis Peled sering menjadi sorotan publik dan media karena latar belakang keluarganya yang sangat dekat dengan militer dan pendirian negara Israel.

Faktor Perubahan Sudut Pandang

Berdasarkan catatan biografi dan wawancara publiknya, transformasi Peled dipicu oleh beberapa peristiwa penting dalam hidupnya:

  • Pengalaman Wajib Militer: Saat menjalani wajib militer di pasukan khusus Israel, Peled mulai mempertanyakan moralitas militer tersebut setelah menyaksikan instruksi dan tindakan komandan yang dianggapnya kejam, termasuk pengeboman Beirut pada Perang Lebanon 1982. Ia kemudian melepaskan status pasukan khususnya dan beralih tugas menjadi petugas medis.
  • Tragedi Keluarga (1997): Keponakan perempuannya yang berusia 13 tahun, Smadar, tewas dalam sebuah aksi bom bunuh diri oleh warga Palestina di Yerusalem. Alih-alih menuntut balas dendam, peristiwa tragis ini mendorong Peled dan saudara perempuannya (Nurit Peled-Elhanan) untuk mendalami akar konflik tersebut secara lebih objektif.
  • Interaksi Langsung dengan Warga Palestina: Peled melakukan perjalanan langsung ke wilayah Tepi Barat dan Gaza. Melalui interaksi ini, ia menyimpulkan bahwa Israel beroperasi sebagai sebuah proyek kolonialisme pemukim (settler-colonial project) dan menerapkan sistem apartheid terhadap warga Palestina.

Aktivisme dan Pandangan Saat Ini

Peled secara konsisten menyuarakan pandangannya melalui buku, siniar (podcast), serta forum internasional. Beberapa poin utama dari gerakan aktivismenya meliputi:

  • Penolakan Terhadap Zionisme: Dalam berbagai ceramahnya, Peled menegaskan argumennya bahwa “tidak ada Zionisme yang baik” dan mendefinisikannya sebagai ideologi yang rasis dan penuh kekerasan.
  • Solusi Satu Negara: Ia menolak solusi dua negara dan mengampanyekan pembongkaran sistem apartheid Israel guna mendirikan satu negara demokratis PALESTINA yang menjamin hak setara bagi warga Yahudi maupun Palestina di seluruh wilayah bersejarah Palestina.
  • Pendirian Pusat Kebudayaan: Pada tahun 2023, Peled mendirikan The Delray Oasis (sebelumnya dikenal sebagai Durya), sebuah pusat kebudayaan Palestina yang berlokasi di dekat Kongres AS di Washington D.C., dengan tujuan untuk memperkuat suara dan perspektif warga Palestina di Amerika Serikat.

Perubahan haluan politiknya yang radikal ini membuat hubungan Peled dengan keluarga besarnya di Israel terputus total, terutama setelah ia menyampaikan pandangannya pasca-peristiwa 7 Oktober 2023. Kisah perjalanan hidupnya ia tuangkan secara rinci dalam buku otobiografinya yang terkenal, The General’s Son: Journey of an Israeli in Palestine.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar