Ini adalah video Zahra Hamidia, seorang jurnalis Iran yang menjabat sebagai Pemimpin Redaksi (Editor-in-Chief) di IRNA (Islamic Republic News Agency) English, kantor berita resmi milik pemerintah Iran.
Sebagai jurnalis dan analis politik untuk media pemerintah, ia sering menulis dan melaporkan topik terkait kebijakan luar negeri Iran, geopolitik, serta konflik regional.
Dalam video ini Zahra mengulas tentang gejolak di Prancis yang dilanda demo besar-besaran yang awalnya dipicu oleh aksi para pelajar.
Terjemahan (video dibawah):
“Prancis gemar memosisikan diri sebagai guru yang memberikan pelajaran mengenai demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan berpendapat.
Namun, bagaimana kenyataannya bagi para pelajar di Prancis sendiri?
Dalam beberapa minggu terakhir, para pelajar telah melakukan protes menentang kondisi sekolah yang buruk serta sistem pendidikan yang ada. Lantas, bagaimana respons pemerintah? Mereka menangkap lebih dari 6.000 orang, yang 87% di antaranya adalah anak di bawah umur.
Kekerasan oleh aparat kepolisian bahkan mengakibatkan seorang remaja berusia 15 tahun harus diamputasi tangannya setelah terkena ledakan granat polisi. Apakah pemerintah kemudian berupaya memperbaiki masalah tersebut?
Prancis saat ini tengah menghadapi persoalan ekonomi, seperti banyak negara Eropa lainnya. Pada tahun 2025, utang publiknya mencapai 115,6% dari PDB, sementara defisit anggarannya menyentuh angka 5,1%. Mungkin tidak ada dana yang tersisa untuk pendidikan, tetapi Macron punya gagasan lain.
Coba tebak apa? Ya, pada tanggal 6 Oktober, Emmanuel Macron menguji coba rudal balistik berkemampuan nuklir—meskipun tanpa hulu ledak nuklir. Tak lama kemudian, ia melontarkan pernyataan ini: “Agar bisa bebas, Anda harus ditakuti; dan agar ditakuti, Anda harus kuat.”
Pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan kepada para pelajar Prancis melalui pernyataan tersebut? Apakah ia sedang berusaha mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian atau bagaimana?
Ironisnya, anggaran pertahanan Prancis tumbuh jauh lebih cepat daripada anggaran pendidikannya.
Sebagai contoh, sejak tahun 2022, Macron dilaporkan telah memberikan bantuan senilai 7,9 miliar euro kepada Ukraina—dana yang diambil dari kantong rakyat Prancis, termasuk para pelajar, untuk kemudian diserahkan kepada Zelensky.
Para pelajar Prancis jauh lebih paham akan realitas ini. Mereka tidak lupa bahwa pemerintah mereka terlibat dalam genosida yang sedang berlangsung di Gaza. Pada tahun 2023, pemerintah Prancis bahkan menyerukan pelarangan terhadap semua aksi unjuk rasa pro-Palestina.
Rima Hassan dan sejumlah aktivis pro-Palestina lainnya menghadapi tekanan serta berbagai pembatasan. Seorang pelajar asal Iran, Mathias Zandiari, sempat diculik dari kediamannya oleh kepolisian Prancis hanya karena ia menyatakan dukungan terhadap Palestina secara daring. Ia bahkan harus menjalani hukuman dalam sel isolasi selama berbulan-bulan.
Namun, di sisi lain, Macron justru memosisikan dirinya sebagai pembela hak-hak perempuan Iran.
Saat ini, para pelajar di Prancis tidak hanya menuntut sistem pendidikan yang lebih baik; mereka juga menyuarakan dukungan bagi Gaza, bahkan menuntut pengunduran diri Macron.
Jadi, jika Prancis merasa dirinya sebagai guru yang hebat dalam hal demokrasi dan hak asasi manusia, mungkin ia harus mulai dengan mendengarkan murid-muridnya sendiri.”
[VIDEO]








kyk si Ndut lebih prioritas program penghasil tai drpd memperbaiki soal pendidikan dan guru2nya
sekarang justru lg gencar2nya diperbaiki bro, biasalah mendikbud yg dulu2 gajelas kerjanya
..🤭🤭🤭..
Lebih parah di konoha, anggaran pabrik taik lebih besar daripada pendidikan