Kalau kita menonton wawancara yang dilakukan oleh Al Jazeera dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio beberapa hari yang lalu, jelas wawancara itu berisi pesan yang berulang, jadi saya tidak mengomentarinya, silahkan dilihat saja di Youtube pasti ada.
Karena isinya begitu-begitu saja, tampaknya Al Jazeera ingin melakukan wawancara serupa dengan Menlu Iran, Abbas Araqchi, hasilnya cukup menarik, melalui wawancara itu Menlu Iran mengirim sejumlah pesan penting, antara lain.
Pertama, Menlu Araqchi membantah adanya “negosiasi” antara AS dan Iran, itu hanya halu saja. Dia menyatakan dengan jelas: “tidak ada pertemuan, tidak ada meja perundingan, tidak ada kesepakatan… hanya pesan-pesan yang disampaikan secara diam-diam, beberapa diantaranya mengancam, dan beberapa lainnya menguji kesabaran.”
Menurut Menlu Aragchi apa yang terjadi tidak lebih dari pertukaran pesan melalui perantara pihak ketiga, pesan-pesan yang mungkin dikirim dalam perang maupun damai, tetapi pesan-pesan itu tidak mencapai tingkat negosiasi. Dengan kata lain, pernyataan AS tentang “kemajuan dalam negosiasi” hanyalah asap politik untuk menyembunyikan kekosongan yang sebenarnya.
Kedua Menlu Aragchi menyebut sebuah poin penting; “trust.” Dulu Ali Larijani pernah berkata, “Kami sudah mencoba Amerika… kami bernegosiasi dengan mereka… kami menandatangani perjanjian… dan kemudian mereka menarik diri. Oleh karena itu, kami di Iran selalu bertanya pada diri sendiri: Dapatkah mereka dipercaya?”
Ketiga, Menlu Aragchi mengulangi syarat-syarat mendasar untuk perdamaian dan menghentikan perang berupa 3 poin: “penghentian perang sepenuhnya… jaminan terhadap tidak terulangnya kembali perang serupa atas Iran….dan kompensasi atas kerugian akibat agresi militer 28 Maret 2026.” Di sini, tampaknya isu nuklir diabaikan oleh Araqchi, entah dia lupa atau itu telah menjadi konsesi politik.
Kemudian selanjutnya Menlu Aragchi mengangkat isu Selat Hormuz: “Selat itu terbuka… ya, tetapi tidak untuk semua orang. Siapa pun yang berperang dengan Iran? Selat itu akan ditutup untuk mereka. Dan siapa pun yang menjadi “teman”, jalur tersebut akan dibuka untuk mereka… dengan syarat-syarat Iran.”
Artinya, kontrol terhadap Hormuz tidak hanya bersifat militer… tetapi juga politik, ekonomi, dan selektif.
Menlu Araqchi kemudian menegaskan bahwa jika pasukan darat Amerika datang, “kami menunggu mereka… dan mereka tidak akan berani.”
Lebih dari itu… Araqchi mengatakan bahwa Iran tidak memulai perang, tetapi siap untuk memperpanjangnya tanpa batas waktu. Bukan empat minggu… bukan enam bulan…
Durasi? Sampai akhir.
Dan pesan-pesan penting lainnya yang disebutkan, semuanya mengarah pada satu gagasan: bahwa Iran terbuka untuk perdamaian dengan syaratnya sendiri, dan siap menuju perang terbuka—bukan masalah beberapa hari, tetapi berbulan-bulan jika Amerika menginginkannya. Ini adalah tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern…
Biarlah waktu yang menjawab!
(Saief Alemdar)
[VIDEO]






