BoP turuti permintaan Netanyahu: Israel Akan Memulai Penarikan Pasukan dari Gaza Hanya Setelah Hamas Dilucuti Senjatanya

Setelah bertemu Netanyahu, Dewan Perdamaian (BoP) telah menarik kembali tuntutannya agar Israel menarik diri dari Gaza. Berdasarkan teks yang diterbitkan pekan lalu, penarikan IDF dari Garis Kuning seharusnya bertahap dan paralel dengan perlucutan senjata Hamas. BoP sekarang mengatakan Israel akan menarik diri setelah perlucutan senjata Hamas selesai. Oleh karena itu, rencana sekarang menyerukan perlucutan senjata Hamas tanpa penarikan IDF. Benar-benar lelucon.

Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang dipimpin Amerika Serikat telah merevisi draf peta jalan perdamaian Gaza, memastikan bahwa penarikan pasukan Israel (IDF) baru akan dimulai setelah Hamas melucuti seluruh senjatanya secara total.

Langkah ini diambil setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan kabinet Israel menyatakan keberatan keras terhadap draf awal yang dirilis sebelumnya. Perubahan ini secara mendasar menggeser dinamika negosiasi dan memicu polemik serta skeptisisme baru terkait pelaksanaan rencana perdamaian tersebut.

Berikut adalah poin-poin utama dari perubahan draf tersebut serta dampaknya terhadap situasi di lapangan:

Perubahan Utama dalam Draf Rencana Perdamaian

  • Syarat Penarikan Pasukan: Draf awal yang dipublikasikan sebelumnya mengatur penarikan pasukan IDF dari “Garis Kuning” (Yellow Line) secara bertahap dan paralel dengan proses pelucutan senjata Hamas. Namun, teks terbaru kini menegaskan bahwa IDF diperbolehkan mempertahankan posisinya dan baru akan mulai mundur setelah proses dekomisioning senjata Hamas selesai sepenuhnya.
  • Cakupan Pelucutan Senjata: Dewan memperjelas bahwa proses pelucutan senjata ini mencakup penghancuran jaringan terowongan, serta penyerahan seluruh jenis persenjataan, mulai dari senjata ringan hingga senjata berat.
  • Mekanisme Pengawasan: Proses demiliterisasi ini nantinya akan diawasi secara langsung oleh Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) dan Komite Verifikasi Implementasi.

Penolakan dari Pihak-Pihak Terkait

Revisi draf ini mencerminkan rumitnya diplomasi di tengah tuntutan kedua belah pihak yang saling bertolak belakang:

  • Sikap Israel: Meski Dewan Perdamaian telah memberikan jaminan baru, Netanyahu secara terpisah menyatakan kepada utusan Gaza bahwa Israel tetap tidak akan menghentikan serangan udara atau menarik diri dari posisi strategis yang dikuasainya karena menilai Hamas masih terus berupaya membangun kembali kekuatan militernya. Di samping itu, jajaran militer Israel menetapkan “garis merah” yang menuntut kebebasan penuh bagi IDF untuk bertindak mengeliminasi ancaman di Gaza kapan saja.
  • Respons Hamas: Pihak Hamas dan faksi-faksi Palestina lainnya menolak keras formula pelucutan senjata tanpa adanya jaminan penarikan pasukan Israel secara langsung serta kepastian politik mengenai pembentukan negara Palestina yang berdaulat. Pejabat senior Hamas memperingatkan bahwa menyerahkan senjata tanpa komitmen pengakhiran okupansi yang jelas hanya akan menciptakan kekosongan kekuasaan dan memicu kekacauan internal di Gaza.

Perkembangan terbaru ini dapat dipantau lebih lanjut melalui laporan komprehensif di France 24 dan pembaruan situasi diplomasi regional di The Times of Israel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar