5 Poros Politik Terbentuk Usai Pidato Politik AHY

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan pidato politik yang disampaikan dalam rangka memperingati 25 Tahun perjalanan Partai Demokrat. Pidato ini disiarkan secara serentak di 8 stasiun televisi nasional pada Senin, 7 September 2026 pukul 19.30 WIB.

Bukan menilai isi pidato politiknya secara utuh, tapi sekilas orang langsung menafsirkan bahwa AHY (Agus Harimurti Yudhoyono), Ketua Umum Partai Demokrat, akan maju pada Pilpres 2029. Tak tanggung-tanggung, ini ditafsirkan juga oleh Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia.

Bukan sekadar peringatan HUT Partai Demokrat ke-25 tahun, tapi pidato politik AHY kemarin itu juga diartikan sebagai bentuk kesiapan AHY dan Partai Demokrat maju pada Pilpres 2029. Apakah salah? Tidak. Baik pidato politik AHY itu sendiri maupun orang lain yang menafsirkan AHY bakal maju Pilpres 2029.

Berarti, setidaknya sudah terbentuk 5 (lima) poros yang siap, mengambil ancang-ancang, maju pada Pilpres 2029 nanti, setelah pidato politik AHY kemarin itu.

Pertama, poros petahana, yakni Prabowo, yang tak perlu dibahas lagi.

Kedua, poros Solo, yakni Jokowi. Bahkan, poros ini sudah lantang bersiap, kalau-kalau Pilpres dipercepat sebelum tahun 2029 seperti dikatakan Budi Arie, di samping Jokowi.

Ketiga, poros Jusuf Kalla, yakni Anies Baswedan, yang sudah mulai pula turun ke jalan, pasar-pasar, serta angkutan umum.

Keempat, siapa lagi kalau bukan Megawati, yakni poros Teuku Umar. Bahkan, setiap Pilpres secara langsung sejak tahun 2004, poros Teuku Umar ini selalu eksis. Lima (5) kali Pilpres, dua kali menang (2014-2019) dan tiga kali kalah (2004, 2009, 2024). Tapi, saat ini poros Teuku Umar ini masih terlihat tiarap atau tidak buru-buru karena berada di luar pemerintahan.

Kelima, poros Cikeas, yakni SBY, yang kemarin diwakilkan dalam pidato politik anaknya, AHY. Poros ini juga eksis setiap Pilpres seperti poros Teuku Umar, dan faktanya, poros ini selalu berada di sisi yang saling berhadap-hadapan. Berkebalikan dengan poros Teuku Umar, poros ini menang tiga kali dan kalah dua kali.

Lalu, bagaimana dengan KDM (Dedi Mulyadi) yang elektabilitas terlihat melejit dibandingkan yang lain? Apakah dia akan menjadi poros tersendiri atau gabung saja dengan salah satu poros yang sudah ada? Menurut saya, KDM akan gabung atau berusaha ditarik oleh 5 poros yang sudah ada itu. Bukan membentuk poros keenam.

(ERIZAL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 komentar

        1. lho emang lu ga setuju? lalu omon2 ‘londo ireng’ itu gmn cok…jd lu dan bangsad2 58 ini sebenernya ngerti arti londo ireng apa kagak sih? bego banget

  1. tidak salah pula menafsirkan 5 poros capres 2029. waktu yang akan mengeliminasi kesiapan partai untuk memajukan kandidatnya untuk bertarung walaupun tanpa ada ambang batas. sebagian besar hanya siYap berada di eksekutif dan siap menjilat calon pemenang menurut versinya.

        1. heh AF alias Anak Fesek, luka akibat kalah nya ahok lebih menyakitkan dibandingkan dengan FPI dibubarkan, kalah pilpres 3x, dikhianati kader sendiri bahkan kalau semua disatukan masih lebih menyakitkan kekalahan pilgub DKI karena impian bikin si A jadi RI 1 gagal total, andai si A menang bisa nyapres 2024 wakilnya putra mahkota. bilang aja gak usah malu” non pri gak apa” asal jgn arab apalagi yaman.
          wkwkwkwk

          1. Ya, iyalah dendam, sudah menghancurkan Indonesia selama 10 tahun, dari bawah sampai atas!! makanya junjungan lo itu harus dimusnahkan dari muka bumi, termasuk lo nantinya!!